Featured Post

#UsiaCantik dan Mengapresiasi Diri Sendiri

Bu, sekarang umur Ibu sudah berapa?   Pernah sesekali waktu anak keduaku nanyain umur model petugas sensus begitu. Iya sih, jawabnya me...

04 April 2013

CAN’T CHASE MY LUCK



 Lalu lalang ratusan manusia yang sembilan puluh persen lebih berkategori “wong Landa” alias Western membuatku kikuk luar biasa. Aku yang biasanya hanya berkutat dari pintu kantor ke meja kerja, dari kota menuju ujung desa, tiba-tiba mendapati situasi yang tak pernah sekalipun melintasi mimpiku. 
Koelnmesse, lokasi berlangsungnya Spoga
 Ya, setelah melewati South Entrance di Koelnmasse aku jadi tergagap sempurna. Gedung super megah yang digunakan untuk Spoga, pameran tahunan di kota Koln untuk produk-produk Garden Lifestyle, Sport dan Camping ini, membuatku takjub luar biasa. Aku bahkan sempat beberapa detik  lupa tujuanku datang kemari. Kalau bukan karena pimpinanku, yang jalan berdampingan denganku, tiba-tiba memerintahkanku untuk menyiapkan kartu nama perusahaan kami, tentu lamunanku itu akan terus berlanjut bermenit-menit berikutnya.
Ah, jangan salahkan dulu atas bengong dan serangan ‘udik’ mendadak ini. Perjalanan panjang beban kerja dari satu tempat kerja ke tempat berikutnya membuatku tak akan pernah melupakan saat-saat menakjubkan ini. Bagaimana tidak, aku baru saja masuk ke perusahaan kayu ini. Belum ada tiga bulan sejak aku bergabung dengan perusahaan yang kukira hanya perusahaan kecil ini (menilik dari fasilitas, interior dan bentuk gedung kantornya). Pertama kali melangkah masuk ke kantor ini, naik ke lantai duanya untuk interview dengan sang boss, terus terang aku jadi mengernyitkan dahi. Lantai di second floor itu ternyata dari lembaran kayu, yang meskipun sangat tebal namun saat aku melangkah di atasnya keluar bunyi kereyat kereyot seperti mau rubuh. Seperti kandang burung saja layaknya.
Namun kemudian aura jumawa pabrik kecil itu keluar seiring dengan membaranya semangat sang boss, yang punya obsesi luar biasa untuk masa depan perusahaannya. Pabrikan kecil itu dengan segala keterbatasan fasilitasnya harus bisa jadi salah satu pelakon bisnis kayu yang diperhitungkan, baik di mata kompetitor maupun buyer-buyer asing. Dalam satu bulan aku ditempa bagaikan besi yang harus segera siap untuk dijadikan senjata. Awam sama sekali di bidang perkayuan, aku pun harus ekstra konsentrasi untuk mengikuti alur pemikiran si boss. Bagaimana cara mengetahui kualitas kayu yang baik sejak dari potongan baru (fresh cut), cara memperhitungkan berapa potong produk jadi akan dihasilkan oleh sebatang balok besar kayu, bagaimana menghitung kubikasi kayu dan aneka ilmu perkayuan yang sebelumnya tidak kuketahui sama sekali.
Aku tak tahu bagaimana asal muasalnya, yang jelas ini salah satu ‘luck’ terbesar sepanjang hidupku. Boss memintaku untuk mengurus transportasi, akomodasi, paspor dan visa beliau beserta istri, saudara dan iparnya yang merupakan rekan komanditer di perusahaan itu. Beliau sangat ingin menyaksikan pameran perkayuan terbesar di Eropa, yaitu Spoga Cologne. Pameran ini berlangsung di kota Cologne /  Koln, Jerman. Tak masalah bagiku untuk mengurus segala detail perjalanan ini karena sebelumnya aku sudah pernah bekerja sebagai staff administrasi di seksi kesekretariatan pabrik garmen, dimana salah satu tugasnya adalah mengurus perjalanan para ekspatriat India untuk bepergian di dalam negeri maupun pulang kampung. Memang agak lebih sulit kali ini karena aku harus mengurus visa Schengen untuk bisa masuk ke Jerman dan beberapa negara lainnya yang tergabung dalam European Union. Kudengar kalau yang bersangkutan tidak berangkat sendiri, visa tak akan diproses. Ah entahlah, itu urusan nanti. Pasti bisa. Selalu akan ada caranya.

  Ketakpercayaanmu pada sesuatu akan membuahkan hal yang mustahil. Namun bila kau percaya, keyakinanmu itu akan memunculkan hasil yang positif

 Biasa saja saat boss memintaku untuk mengurus ini dan itu persiapan perjalanan ke luar negeri tersebut. Yang menjadi luar biasa adalah saat boss menyerahkan daftar peserta perjalanan itu. Namaku tercantum di daftar paling bawah. Ah, aku tak percaya, lalu kukonfirmasikan ke pimpinanku tentang ketakpercayaanku itu. Jawaban beliau sungguh di luar dugaan. “Ketakpercayaanmu pada sesuatu akan membuahkan sesuatu yang mustahil. Namun bila kau percaya, keyakinanmu itu akan memunculkan hasil yang positif”. Diam. Hanya seribu diam di luar, namun sorak sorai dan gemuruh di dalam dada.

        Betapa tidak gemuruh, aku belum pernah bepergian jauh. Paling mentok hanya sampai Surabaya, Jakarta, Jambi dan Palembang. Pergi melintasi benua dan lautan, menuju negeri yang dahulu dikuasai Hitler, sama sekali tak pernah terbersit di angan-anganku. Gembira, merasa mendapat anugerah maha dahsyat, namun juga masgul. Putri kecilku belum juga berusia satu tahun, apakah aku harus tega meninggalkannya. Perang batin berkecamuk saat itu.
Dukungan dari suami tercinta lah yang membuatku akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti perjalanan dinas ini. Sungguh beruntung aku memiliki pasangan hidup yang sangat pengertian dan mendukung kemajuanku. “Kesempatan ini mungkin tak akan datang lain kali, ambillah, semoga barokah bagi keluarga kita.” Alhamdulillah, dukungan dan doanya merupakan ‘pelukan’ terbesar bagiku.

 Kesempatan ini mungkin tak akan datang lain kali, ambillah, semoga barokah bagi keluarga kita

Seumur hidup aku belum pernah naik pesawat. Pertama kali aku mengalami apa yang disebut orang sebagai ‘Boarding’ ya baru kali ini. Dari Semarang pesawatku menuju Jakarta untuk selanjutnya terbang ke Kuala Lumpur sebelum bertolak menuju perjalanan panjang.
Segala rasa bahagia dan beruntung yang kumiliki ini membuatku tidak mabuk di perjalanan udara ini meskipun ini adalah pengalaman pertama yang mendebarkan. Kunikmati dua hari penuh perjalanan udara ini hingga akhirnya mendarat dengan selamat di bandara Frankfurt. Terkagum-kagum saat menyaksikan kemegahannya, terheran-heran saat menyusuri selasarnya menuju ‘parking area’, dan bagaikan orang tersesat saat melihat kelengangan tempat parkir itu. Tidak seperti di kampungku, di sana sama sekali tak ada operator parkirnya. Semuanya dijalankan mesin. Bahkan untuk membayar parkir pun sudah ada alatnya. Wah, sungguh udik ya diriku. Rombongan kami harus turun ke tempat parkir ini untuk mencari mobil sewaan. Untunglah sebelumnya sudah ada korespondensi dengan Hilman, pemuda Indonesia asal Jakarta yang sedang menuntut ilmu di Bremen. Dia bersedia menjadi pemandu dan driver, Driving License International sudah dia miliki. Jadi selamat lah nasib kami.
Aku dan seorang agen penjualan mitra bossku masih harus melanjutkan perjalanan selama beberapa jam menggunakan kereta cepat ICE dari Frankfurt ke Appeldorn, The Netherlands. Kami akan singgah dulu ke kota kecil berjarak tempuh setengah jam via bus dari Appeldorn, yaitu Arnheim, mengunjungi saudara perempuan dari mitra bossku ini. Wow, kereta cepat ICE berbentuk kapsul ini luar biasa. Tak bergoncang sama sekali setiap kali ‘start’ maupun akan berhenti. Bagaikan duduk di kursi di dalam ruangan. Mantap. Adapun bossku beserta rombongan keluarganya naik mobil sewaan, kami akan bertemu di Arnheim nanti. 
at Frankfurt Bahnhoff (railway station) - foto koleksi pribadi
 
pemandangan dari jendela apartemen di Arnheim, The Netherlands
Begitulah. Bagi bossku yang biasa piknik ke Singapura dan China, perjalanan ini hanya sedikit lebih lama dari piknik-pikniknya yang lain. Namun bagiku, ini adalah perjalanan seumur hidupku. Perjalanan terbesar yang pernah ‘singgah’ dalam detak-detak jiwaku.
Aku hanya sempat diajak sedikit jalan-jalan di Amsterdam, menikmati lembutnya keriuhan kota yang letaknya lebih rendah dari air laut itu. Menakjubkan. Kok bisa ya seperti itu, kalau di kampung halamanku pasti lah sudah tergenang banjir seumur hidup. Ah, lagi-lagi sikap skeptisku muncul. Maafkan aku ya kotaku tercinta karena sudah membanding-bandingkanmu untuk ini. Lamunan demi lamunan indah kembali melandaku, hangatnya mentari membelai wajahku dari balik dinding kaca boat yang kutumpangi saat aku diajak menikmati 'pelesir' di sepanjang perairan kota nan cantik itu.
Selanjutnya adalah bekerja, bekerja dan bekerja. Saat kami hadir di pameran Spoga Cologne itu, bossku bisa melihat berbagai stand dengan nikmat. Aku pun merasakan ‘nikmat’ yang sama saat boss memberikan target padaku untuk menyebarkan kartu nama perusahaanku di pameran itu. Sejatinya pameran itu digunakan oleh para ‘exhibitor’ untuk menjual barang. Namun bossku punya pemikiran brilian yang tak bisa kutentang. Kami sebagai pabrikan yang biasa mensuplai kayu ke Eropa tentunya harus bisa menembus ‘sekat’ dari para ‘exhibitor’ ini. Target ini dilandasi asumsi bahwa para raksasa penjual kayu di Eropa itu tentunya membutuhkan supplier-supplier handal dari Asia Tenggara, dimana Indonesia adalah salah satu penyedia kayu berkualitas. Jadi, di sanalah, dari satu ujung hall ke pojok hall yang lain, aku harus menebalkan muka, mencari seribu satu model percakapan yang membawaku pada keberuntungan berikutnya.
denah lokasi Spoga - sampai 'gempor' kumenyusuri semua hall :)
 Di salah satu hall aku dan mitra bossku bertemu dengan pengusaha Singapura yang menyewa stand lumayan besar di situ. Itulah rupanya ‘luck’ keduaku muncul. Berbincang-bincang basa-basi bisnis yang berujung pada berpindahnya kartu namaku ke Steven Chew, salah satu putra dari Mr. George Chew, pengusaha kayu ternama dari Singapura. Sempat disindir oleh sang bapak bahwa mereka pameran di sana untuk mendapatkan pembeli, bukan mencari supplier. Namun ternyata di kemudian hari baru kutau bahwa pertemuan itu menghasilkan order puluhan kontainer dari Steven untukku. Ya, puluhan kontainer besar 40 feet berhasil kudapatkan di kemudian hari. Berkat pertemuanku hari itu dengan Steven. Jadi, apakah bukan ini yang dinamakan keberuntungan?
Selain datang ke pameran ini, boss juga mengajakku mengunjungi beberapa perusahaan yang mengimpor kayu dari Indonesia. Aku, boss dan si mitra kerja akhirnya kemana-mana bertiga. Adapun keluarga si boss berkeliling Eropa naik mobil sewaan mereka untuk berwisata dan belanja. 
 
di Wuppertal, keretanya jalan di atas mobil euyy.. (bersorak norak)
Kami sempat singgah di Wuppertal, kota dengan keeksotikan dan keunikan tersendiri. Hanya di kota ini kami bisa menyaksikan kereta yang melaju di atas jalan raya. Kereta itu melaju di atas mobil yang kami tumpangi saat Mr. Zahn, salah satu buyer, membawa kami melaju menuju kantornya setelah sehari sebelumnya menerima kami dengan ramah di rumahnya, di Muenster. Tak kusangka, ternyata ada juga ya orang Jerman yang ramah. Kupikir mereka itu kaku sikapnya. Sungguh bayangan yang melampaui imajinasi.

Aku, Herr Wohlers dan mba Nita di Koln Bahnhoff, bersiap meluncur ke Hamburg
 Di hari berikutnya kami harus kembali melaju berkereta. Bukan kereta eksekutif seperti sebelumnya. Kali ini naik kereta ekonomi, cukup nyaman. Hanya dengkuran keras dari boss-ku yang mungkin kelelahan saja lah yang membuatku duduk jauh-jauh darinya. Biar saja dianggap tidak kenal. Lumayan lama aku harus menghabiskan waktu dari Koln menuju Hamburg, kota yang ada di bagian utara Jerman.
Kali ini aku harus berurusan dengan klaim dari Herr Wohlers yang menyatakan kayu yang pernah dikirim perusahaan kami (sebelum aku bergabung) tidak sesuai spesifikasi yang telah ditentukan.
harus naik-naik ke tumpukan kayu di gudang buyer
Aku terpaksa ‘merana’ inspek ke gudang si jangkung Wilhelm Wohlers ini, naik-naik ke semua tumpukan kayu kami yang telah terdampar di ‘yard’nya. Beradu argumen yang logis bersama bossku, kami harus menghadapi keresahan Herr Wohlers yang merasa kami rugikan. Satu kesepakatan telah dibuat. Case closed.
Berpindah lagi ke buyer berikutnya. Aku bertemu dengan person in charge, kali ini masih muda, tidak seusia Herr Wohlers, ataupun Herr Zahn yang sudah pantas menjadi ayahku. Kali ini si ‘dandy’ Ulf Boettcher membawa kami meeting di kantor mereka, di Hans-Henny-Jahnn-Weg, Hamburg. Kami diperkenalkan kepada pimpinannya yang terlihat aristokrat, yang ternyata diakui oleh sebagian pengusaha kayu di Jerman sebagai ‘the real gentleman’. Entahlah apa maksudnya. Ulf telah menceritakannya padaku namun aku tetap tak mengerti apa yang dimaksud. Berhubung bahasa Inggrisku pas-pasan, juga daya tafsirku yang lumayan kacau atas bahasa Inggris berdialek Jerman, aku tak menangkap inti dari sebutan tadi.
mendiskusikan kualitas kayu yang bermasalah dengan Ulf
Begitu juga saat meeting, membahas prospek order kami ke depannya, tak semua yang Ulf bicarakan bisa kutangkap. Kuambil inti-intinya saja. Untunglah, saat dia menanyakan sesuatu padaku, jawaban yang kuberikan rupanya tepat. Aku memang harus berjuang sendiri menterjemahkan bahasa Inggris keJerman-Jerman-an ini karena my dear boss hampir tidak bisa berbahasa Inggris. Well, was it called ‘luck’ again? Aku dan bossku yang tertatih-tatih berbahasa Inggris masih bisa bertahan hingga di titik ini.
Begitu pun saat kami dijemput dari penginapan, oleh big boss dari perusahaan yang lain, menuju sawmill mereka di Rote Brücke, Hamburg. Oleh sang big boss kami dioperkan ke sang Einkaufsleiter alias Purchasing Manager, seorang Jerman keturunan Polandia, Wilhelm Widok. Nice, charming, dan yang jelas sangat kooperatif menghadapi kami orang-orang Asia yang sangat berbeda kultur dan cara pemikiran atas bisnis ini.
mesin canggih tanpa operator manusia di sawmill Daldorf

proses pengolahan kayu limbah - Daldorf

Herr Widok juga mengajak kami tour di sawmillnya yang lain, yaitu di Daldorf. Entah ini kota di bagian mana aku tak tau. Yang jelas aku sangat beruntung, tak harus kemana-mana naik bis atau pun kereta lagi. Herr Widok mengantar kami kemana-mana, mulai dari tour di dua sawmill perusahaan itu, hingga ‘Hamburg-down-town’ alias jalan-jalan. Di kemudian hari kami menerima order yang tidak sedikit dari perusahaan ini, kemungkinan besar juga atas hasil kunjungan kami ini.  Bahkan saat Herr Widok berkunjung ke Indonesia setahun berikutnya, boss sempat mengajaknya untuk off road bersama di areal perkebunan Kendal. Nice moment.
kanan ke kiri : aku, Widok dan boss-ku, sedang off road setahun kemudian

Perjalanan nan melelahkan sekaligus menyenangkan itu sangat berdampak positif pada kinerjaku di kemudian harinya. Satu persatu buyer yang kami kunjungi ataupun ku’approach’ mulai mengirimkan berbagai email untuk menanyakan kesiapan kami atas order-order mereka. What a lovely outcome of a lovely journey……
Kembali kubertanya, nikmat Allah mana lagi kah yang pantas kudustakan untuk semua ini? I’m a very lucky one. Seorang ibu bekerja yang semula tak tau apa-apa tentang kayu, hanya berkutat dengan rute rumah-kantor saja. Meskipun kini aku tak lagi bekerja dengan boss-ku yang berjasa ini (aku harus pindah ke perusahaan yang lain karena sesuatu hal), semua keberuntungan yang kudapat dulu tak akan pernah lekang dari ingatan. Hingga kini aku masih harus berkutat dengan tumpukan dokumen, tumpukan kayu, tetap bekerja di desa, namun rasa syukurku tetap selalu terpatri atas berkah mendapatkan ‘lucky bid’ kala itu. 
Keseharianku : sekali-sekali ke pelabuhan

Keseharianku : rutin mengikuti berbagai sosialisasi dari instansi terkait

tulisan ini diikutsertakan dalam CHIC Blog Competition

6 comments:

  1. Love this posting so muchhh...never stop to believing..love u sista, hope you win it! Aameen..

    ReplyDelete
  2. matur nuwun mak Dedew chayank.... engkau dan IIDN makin menyemarakkan hari-hariku kini :)

    ReplyDelete
  3. waw kereeen mak.... keberuntungan ini datang berkat kerja kerasmu juga :D
    Moga dapt vouchernya ya makkk

    ReplyDelete
  4. suwun mama thifa.. eh tapi jan2e aku gak ngerti loh hadiahe opo. voucher MAP apaan sih mak *ketok ra mutune ya?xixixiiii

    ReplyDelete
  5. Tak bantu doa menang ya, Mak. Aamiin. Ternyata dikau pernah tomboy juga, hehehe

    ReplyDelete
  6. hehehee... yang penting nulis kan Wuri? makasih udah mampir. eh sejatinya emang tomboy loh, yg sekarang kan cuma penyamaran :D

    ReplyDelete