Featured Post

#UsiaCantik dan Mengapresiasi Diri Sendiri

Bu, sekarang umur Ibu sudah berapa?   Pernah sesekali waktu anak keduaku nanyain umur model petugas sensus begitu. Iya sih, jawabnya me...

28 April 2013

Cenat Cenut Reporter


reporter handal by credit
   Keren yak pastinya bila dirimu jadi seorang reporter? Pan kudu pinter tuh, mahir berbicara dan memancing informasi dari narasumber maupun endus-endus sumber berita yang lain. Tul kan, bukankah begitu lazimnya reporter? Harus sekolah di mana sih untuk menjadi reporter handal?
    Itulah pertanyaan mendasar dan yang menjadi alasan pertama saat teman sebangkuku sekaligus sohibku menyodorkan pilihan untuk masuk jurusan Komunikasi saat lulus SMA dulu. Padahal tadinya aku pilih jurusan lain loh, eh dibilang ama dia itu Madesu. Masa depan suram booowww...
Olala, es teh bin sok teong amat yak temenku ini. Namun terlepas dari kesoktauannya itu, akhirnya aku ikut-ikutan memilih jurusan yang dia sarankan. Pada saat pengumuman UMPTN (keliatan banget sekolahnya jaman tahun Flinstone) berdebar-debar kami berdua menyimak pengumuman melalui surat kabar lokal. Alamak, yang keterima malah aku, adapun sohibku tertunduk galau karena nomornya tidak ada di daftar. Wah, kagak bertanggung jawab nih bocah, nyuruh-nyuruh aku masuk ke jurusan yang tak kuketahui rimba belantaranya, malah dia sendiri tidak keterima. Apes banged dach... *eh yang apes sebenernya siapa ya? aku atau dia?
    Dan hari-hari pun terus berlalu, seiring irama waktu.... *wooiii... ini ikutan GA malah nyanyi ndiri :D Aku pun menjalani hari-hari nan ceria penuh suka tawa dan canda, menganga tak percaya akan padatnya aktivitas perkuliahan. Terutama yang berkaitan dengan jurnalistik. Di semester dua dan seterusnya aneka kuliah jurnalistik datang silih berganti mendera. Padahal ya, terus terang aku paling keder kalau harus nyelesaiin tugas-tugas model begini. Apalagi yang namanya reportase tuh, hwaduuuhh... aku kan pemalu kelas akut. Mana berani ngadepin para narasumber yang pastinya jauh lebih pintar dan cerdas dibandingin aku *itu pasti....tapi aku tak mau perduliii... *walah nyanyiiii meneeehhh, maaf maaf ya Wuri ;)
    Aku sering terkagum-kagum pada teman seangkatanku yang pada aktif ikut majalah kampus. Wow, mereka itu keren-keren loh. Kalau sudah pada ngumpul di pojokan tangga FISIP, tempat ngantornya mahasiswa-mahasiswi reporter yang handal itu, nuansa perbincangannya pasti sudah tak mampu tertangkap oleh radar intelegensiaku yang kelap kelip 5 watt. Mangkanya aku suka cari 'timing' yang pas untuk ikutan nongkrong bersama mereka, biar ketularan pinternya. 
     Dan timing yang pas tadi adalah saat ada personel yang masuk ke ruang redaksi dengan membawa kantung plastik hitam yang agak berkilat-kilat. Mau tau itu apa friends? Kukasih tau, tapi wani pirooooo???  Oke lah kuberitahu bocorannya deh. Itu kantung plastik berisi full gorengan, kadang-kadang juga rujak es. Yuhuuuiii... kapan lagi ikutan makan gretongan ama reporter-reporter muda harapan bangsa kalau enggak penuh siasat begini. Mohon jangan ditiru modus operandi yang extraordinary ini ya, pleaseeee...
     Pengalaman paling seru terjadi saat kuliah kerja lapangan (KKL). Untuk televisi, biro Public Relation dan surat kabar, kampusku berangkat ke Jakarta. Ngoprek Indosiar, TPI, Bisnis Indonesia, Kompas dan 2 biro PR yang cukup besar (sudah bisa dipastikan aku tak akan mampu mengingatnya, yang 5 watt tadi sudah turun menjadi 3 watt ndheprox ndhodhox, oalah gustiiiiii apa sih yang sebenernya kubisa?). Duh, ayok ah ngelanjutin nulis buat GA Cenat Cenut Reporter sambil cenat cenut sendiri meratapi nasib, sambil sesekali terharu biru mengingat masa lalu nan kelabu *niy pasti yang punya GA udah sutris baca tulisan amburadul ini ya?
     Kunjungan lapangan, penjelasan teknis yang juga disertai sesi tanya jawab sudah pasti menjadi incaran teman-teman reporter yang cerdas. Bahkan ada salah satu teman yang dalam sesi pertanyaan mengajukan 3 pertanyaan, masing-masing pertanyaan terdiri dari a, b, c dan d. Wadaw, ngabis-ngabisin jatah teman lainnya donk. Kalau aku sih tidak begitu perlu bertanya. Udah jelas memangnya? Ya enggak lah, wong tidak bisa tanya gara-gara tidak mengerti sama sekali penjelasannya. *disambit buku CCR
sibuk mencari berita by credit
    Yang paling asyik sebenarnya justru saat KKL di RRI Semarang. Salah satu tugas yang diberikan adalah membuat feature radio. Aku kebagian tugas mencari narsum tentang problema lingkungan pesisir. Ah, kalau ini mah cetek, tinggal wawancara aja ama temen nongkrong di markas pencinta alam, mereka kan jago-jago tuh kalau masalah seperti ini. Jadi jatah reportase terselesaikan dengan manis. Enak banget loh wawancara dengan teman sendiri, sambil duduk selonjoran di joglo markas PA dan nithili jajanan gilo-gilo yang lagi lewat. Syedaaapp..
     Masalah mulai timbul saat hasil reportase digabungkan dengan liputan teman-teman yang lain. Selain memunculkan suara narasumber, masing-masing reporter diwajibkan untuk memberikan pengantar sebelum suara narsumnya muncul. Aku sudah bolak balik menulis pengantar plus membacakan dan merekamnya di walkman kesayanganku. Udah bagus banget loh. Sumpeeee.... Suaraku manis merdu merayu *anggapan orang yang tidak pernah rutin kontrol ke dokter THT.
     Yang bertugas menggabung-gabungkan liputan tentu saja petugas profesional di RRI sekaligus mentor kami. Wah ciamik bener feature buatan kelompokku. Setelah selesai digabungkan maka masing-masing feature diputar dan didengarkan bersama di auditorium. Buatan kelompokku dibuka secara manis oleh musik Kenny G lewat lagu The Moment yang mendayu-dayu, suara merdu salah satu temanku yang dipilih menjadi penyiar tunggal di feature itu pun mulai melantun. Aneka cerita dan liputan mulai bergulir hingga bencana itu datang. Masuk ke tema lingkungan, suaraku dan narsumku pun mulai menggema. Jatah ndengerin suaraku teman-teman dan mentorku tertawa terpingkal-pingkal. Kenapa sih... apa yang salah? 

reporter bersuara cetar, gambar dari sini
    Ternyata oh ternyata, suaraku yang kuunggul-unggulkan bisa bersanding dengan suara Chantal Della Concetta itu sebenarnya memang bagus loh. Cuman ya ituuuuu.... medoknya enggak ketulungan. Seluruh auditorium terpingkal-pingkal saat suaraku mulai mengalun membacakan pengantar reportase itu. Wah, cilakak dua belas nih. Kalau aku malu kan malah jadi enggak keren. Maka aku pun berdiri sambil melambai-lambaikan sapu tanganku yang sudah kusut masai bersimbah keringat. Bodo amat saat mentor kami melotot padaku, kubalas dengan lambaian yang manis. Whatever lah, palingan suaraku juga cuma 1 menit aja koq terdengar, ngapain dipikirin. Kuterima dengan legawa semua pujian dan pandang kagum teman-temanku. Tidak boleh sirik ya prens, it's already my fate... I will always be a star no matter happened *ngikik gak sopan untuk nutupi minder
     Nah, gokil-gokilan model begitu juga bisa disimak loh di novel temanku yang keren ini. Wuri Nugraeni ngakunya kalem, tapi novelnya bikin ngakak ngikik ngukuk kagak abis-abis. Moga-moga dapet bukunya ya, aku udah mati-matian nih nulis untuk GA ini, rela mempermalukan diri sekuat hati. Buat teman-teman yang lain, don't miss this nice Give Away event ya, rugi loh kalau gak dapet novel Cenat Cenut Reporter ini. 


6 comments:

  1. template baru mak, kereeen jadi lebih rapi blognya... bsok pas kopdar aku diajari yo...
    Btw tukul wae medok ngono bisa terkenal hihihi.. sukse Gaya, aku niat meh ikutan malah wis tutup

    ReplyDelete
  2. suwun mami thifa, ini cuma dapet donlotan aja koq trus pengin nyobain :)
    kalo thukul selain medok kan over pede, beda donk ama akyu yang pemalu xixixiiii....

    ReplyDelete
  3. tambah hari tambah keren blognya....sipp (y)

    ReplyDelete
  4. matur nuwun inung, ijek belajar yo say....

    ReplyDelete
  5. ha? ha? sejak kapan Mak Uniek pemalu? *disambit sandal.
    tengkyu tulisannya...

    ReplyDelete
  6. ssstttt... Wuri jangan buka rahasia donk :D

    ReplyDelete