Featured Post

#UsiaCantik dan Mengapresiasi Diri Sendiri

Bu, sekarang umur Ibu sudah berapa?   Pernah sesekali waktu anak keduaku nanyain umur model petugas sensus begitu. Iya sih, jawabnya me...

05 July 2013

Jangan Pernah Takut Bermimpi, Bahkan Bila Itu Untuk Keseribu Kali Sekalipun

berani mimpi
    Siapa sih yang dari kecil tak punya mimpi? Sepertinya hampir sebagian besar anak mempunyai mimpi yang terpendam. Bocah dengan daya imajinasi dan kreativitas yang menggunung akan memiliki mimpi setinggi langit.

    Nah bagaimana denganku? Aku sendiri hampir-hampir sudah lupa pernah punya mimpi-mimpi yang indah.. Aneka cita-cita berkelebatan di masa lalu. Kadang tampak begitu nyata untuk diraih, namun kemudian seiring berjalannya waktu semua tampak menjadi kelabu. Mengapa bisa begitu?

    Ya, masa kecilku kujalani dengan sangat indah. Menjadi anak bungsu dari empat bersaudara, dengan jarak umur terpaut cukup jauh dari kakak-kakakku membuat limpahan kasih sayang dari orang tua tercurah begitu besar padaku, khususnya dari almarhum bapakku. Setelah 6 tahun tidak bercanda dan menggendong anak bayi lagi, kehadiranku membuat beliau sangat bersuka cita.

    Meskipun aneka fasilitas yang dulunya sulit diperoleh kakak-kakakku bisa kudapatkan dengan mudah dari alm. bapak, itu tidak berarti aku bebas dari berbagai kewajiban yang harus kupikul sebagai anak yang tumbuh di dalam keluarga yang taraf ekonominya hanya pas-pasan. Bersama-sama membersihkan rumah, mencuci, maupun memberi makan ternak. Saat aku kecil alm. bapak memiliki peternakan ayam petelur. Setiap pagi sebelum mandi kami berempat harus bergegas-gegas ke kandang ayam, memberi makan dan minum peliharaan kami itu. Bila tak bergegas, alamat bisa telat nanti sampai di sekolah.

    Selain kerja keras membantu orang tua dalam hal urusan rumah ini, kami semua juga dituntut untuk belajar dengan segenap daya upaya. Bahkan alm. bapak pernah mengatakan bahwa beliau tidak akan mau menyekolahkan kami bila tidak di sekolah negeri (saat itu sekolah negeri menjadi andalan bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sekolah bermutu namun dengan biaya yang ekonomis, tidak seperti sekarang, sekolah negeri favorit pasti biayanya selangit). Cukup keras bukan cara beliau mendidik kami?

jadi dokter ah biar keren :)  pic by credit
    Hal ini lah yang membuat aku bermimpi ingin menjadi DOKTER saat besar nanti. Aku selalu melihat penampilan dokter itu berbaju rapi, naik mobil, rumahnya bagus, pastinya kaya lah ya. Nah, kalau aku kaya pasti bisa membantu bapakku, biar bapakku tidak hidup susah lagi. Juga bila bapak atau ibuku sakit, tak perlu keluar biaya banyak, cukup kusuntik saja *eh  Mulia sekali ya cita-citaku itu :D Bapak bilang kalau mau jadi dokter sekolah harus pintar. Tentu saja aku menurut. Belajar mati-matian agar selalu punya nilai bagus. Saat itu nilai jelek sama dengan tidak bisa jadi dokter. Yah, pemikiran anak-anak yang masih polos dan lugu. Seperti membalikkan telapak tangan saja ya kesannya. Namanya juga bermimpi, maunya ya setinggi bintang dan mentari.

    Begitu masuk sekolah menengah, aku mulai terbangun dari mimpi. Rupanya mimpiku itu tak sesuai dengan bakat dan kemampuanku. Terutama saat di SMA, matematika eksakta, fisika, biologi dan kimia menjadi monster mengerikan bagiku. Selalu kepengin 'cabut' saja setiap kali ada pelajaran itu hehee... Ajang Porsiptar (Pekan Olah Raga Siswa Pelajar dan Taruna) yang diadakan rutin tiap tahun oleh Akpol (Akademi Kepolisian) menjadi ajang pelarianku. Yang ikut renang lah, atletik lah, bola voli, apa saja deh asalkan tidak usah masuk sekolah. Maunya sih setiap ada keempat pelajaran itu ya Porsiptar saja, biar bisa mbolos namun dapat ijin resmi dari sekolah. Modus banget ya :D

yok meng-account aja yok :)   gambar dari sini
    Cita-citaku pun berubah drastis. Mimpi masa kecil kubuang jauh-jauh seiring dengan kekecewaan yang harus bapak rasakan karena aku sudah tidak ingin menjadi dokter. Yaelah bapak, nggak jadi dokter kan bukan end of the world, begitu pikirku saat itu. Aku mengambil jurusan sosial dan mimpiku banting setir menjadi akuntan. Hitungan akuntansi terasa jauh lebih nikmat dibandingkan memesrai sinus cosinus dan tangen. Kembali aku belajar dengan keras agar nantinya bisa diterima di jurusan akuntansi di perguruan tinggi negeri favoritku.

    Tapi apa daya, kembali aku terjungkal. Baik melalui jalur siswa berprestasi maupun pendaftaran reguler, rupanya aku tidak berjodoh dengan jurusan idamanku itu. Aku tetap diterima di perguruan tinggi negeri namun pada pilihan kedua, alternatif jurusan yang disodorkan sobatku karena aku tidak punya mimpi cadangan. Aku hanya ingin masuk jurusan akuntansi, tidak ada bayangan mau masuk jurusan apa lagi selain itu. Lemes, lemes banget rasanya. Tapi mau bagaimana lagi, tetap harus kusyukuri bahwa aku masih bisa kuliah. Kembali teringat ucapan bapak yang tidak akan menyekolahkanku bila tidak masuk negeri. Bisa gawat kan, mana aku tidak terbiasa punya pekerjaan sambilan saat sekolah, jadi harus nurut kepada bapak untuk menjalani kuliah S1 di jurusan yang bukan idamanku ini. Padahal tadinya aku masih tetap ingin jadi akuntan dengan cara mengambil program diploma. Namun oleh bapak tidak boleh, beliau hanya mau menyekolahkanku di S1 saja. Yasud lah, as daddy said saja deh, padahal nanti setelah lulus D3 masih bisa melanjutkan ke S1 kan?

    Dua mimpi besarku telah runtuh. Aku akhirnya terbiasa untuk menerimanya. Tapi bukan berarti mimpi selanjutnya tidak tercipta. Mimpi akan selalu memicu langkah untuk terus bergerak dan berputar. Kini meskipun aku masih harus bergelut dengan 'eight to five', rutinitas ngantor dari Senin hingga Sabtu, bukan berarti mimpi menjadi bos bagi diri sendiri padam begitu saja. 

    Sejak tiga tahun yang lalu aku mewujudkan mimpi kecilku untuk jadi 'pengusaha' melalui kolaborasi dengan kakak tercinta dalam pembuatan dan penjualan aksesoris dari rajut. Bermula hanya dari aksesoris kecil seperti ini :
pernak-pernik lucu rajutan untuk anak-anak
    Hingga akhirnya permintaan makin banyak dan bervariasi. Kami pun mulai merajut dengan variasi model yang makin beragam. Segmen pun bertambah, tidak hanya untuk anak-anak, remaja dan perempuan dewasa pun ternyata juga menyukai kecantikan rajutan kami. Alhamdulillah, meskipun masih usaha rumahan tanpa karyawan, margin yang kami peroleh dapat dipergunakan untuk memutar modal kembali.

'virus' rajut mulai menyebar kemana-mana :D
    Semula baru berani menawarkan produkku pada teman-teman sekantor. Lama kelamaan mulai melebarkan sayap berdagang online melalui sosial media. Sampai saat ini kebanyakan customer adalah teman-teman lama, hanya 'sekian' persen yang kenalan baru. Untuk ke depannya aku bermimpi bisa 'mengepakkan sayap' selebar-lebarnya untuk usaha yang kubangun dari nol dengan segenap hati  ini. 

Ya, janganlah pernah berhenti bermimpi, Kawan. 
Meskipun hingga ke 999 kalinya tumbang, 
mimpi keseribu akan tetap kaujelang.

    Saat ini mimpi yang kuat terpatri adalah keinginan untuk pergi ke tanah suci, walaupun entah itu kapan nanti. Semoga Allah mengijabahi



   

16 comments:

  1. dari kecil Mbak Uniek udah mandiri ya? salut!
    Semoga semua impian Mbak terwujud :)
    terima kasih, sudah terdaftar yaa ^^

    salam manis,
    @argalitha

    ReplyDelete
  2. Zwan : sama2 ya dear, sukses juga untukmu

    Artha : lha piye neh Tha, mau bermanja2 tidak mungkin je heheee.. aamiin utk doanya, begitu juga dengan impian2mu ya Tha, all the best for you

    ReplyDelete
  3. Mimpi harus diwujudkan ya jeng
    Uangkan imajinasimu !!
    Semoga berjaya dalam GA bersama saya (halah..halah..)
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  4. Smg segera terwujud nggih mbak Uniek...mimpi njenengan pergi ke rumahNya, aamiin ^_^

    * Smg sy jg sgra bisa ke rumahNya.....:)

    ReplyDelete
  5. Cerita yang sangat luar biasa.. dan hampir seperti cita2ku.. tapi ada beberapa perbedaan tentunya ^^

    Sukses GAnya mbak ^^

    ReplyDelete
  6. matur nuwun Bunda Dzaky, semoga cita2nya bisa tercapai ya. sukses juga utk GAnya bunda :)

    ReplyDelete
  7. mimpi dan impian adalah langkah awal untuk menggapai kesuksesan...selamat berlomba semoga menjadi salah satu yang terbaik...salam :-)

    ReplyDelete
  8. terima kasih pak, semoga njenengan pun menjadi yg terbaik dalam bidangnya :)

    ReplyDelete
  9. Mbak uniek, mau dong diajari renaaaang, saya kelagepan kalo di dalam kolam. Hahaha.

    ReplyDelete
  10. Beruntunglah pribadi yang selalu menyadari pola perubahan yang sedang dialami meskipun tidak sesuai dengan apa yang dibangun sebelumnya.Dan sepakat bahwa apapaun yang terjadi dan teralamai, kelak kita akan menyadari bahwa setiap langkah yang tidak tercapai sebenarnya adalah pijakan kita menuju banyak kebaikan menuju sukses di masa depan dan ini akan bisa kita simpulkan kelak ketika kita sudah mencapai kehidupan mandiri dan sukses menurut ukuran pribadi masing-masing. Dan sayapun mengalami hal yang sama, yang pada akhirnya di usia sekarang menjadi tersenyum dan bersyukur atas kepahitan langkah masa lalu.

    ReplyDelete
  11. rajutannya bagus, mba uniek. kreatif. :D

    ReplyDelete
  12. Ika : hayuukk sini kita pelajari gaya 'batu' aja ya hehehee...

    Pakies : benar sekali, semoga kita selalu menjadi manusia yg bersyukur dan bermakna utk org lain

    Kiky : yok ayok pesen yuuuukkk ;)

    ReplyDelete
  13. salah satu mimpi kecilku jadi reporter :-) sekarang jadi nyonya reporter sajah

    ReplyDelete