Featured Post

#UsiaCantik dan Mengapresiasi Diri Sendiri

Bu, sekarang umur Ibu sudah berapa?   Pernah sesekali waktu anak keduaku nanyain umur model petugas sensus begitu. Iya sih, jawabnya me...

27 July 2013

Travel Writing by Agustinus Wibowo

     Kejutan memang selalu datang tak terduga. Hari Selasa tanggal 23 Juli 2013 tak disangka-sangka aku mendapatkan undangan utk menghadiri acara Awarding Sayembara Gado-gado Femina di forum travel writing dalam acara Festival Wanita Wirausaha (Wanwir). Wow, mesti koprol kah daku? :D

    It means a lot for me. Aku dapat undangan bukannya sengaja submit, tapi karena akan ada acara award di atas. Nah, apa hubungannya coba?  Kukonfirmasikan ke pihak Femina kenapa aku mendapatkan undangan itu. Eh ternyata tulisanku yang kukirim untuk mengikuti sayembara rubrik Gado-gado di Femina masuk nominasi. Alhamdulillah.


    Senang sekaligus sedih. Senang karena akan mendapatkan ilmu menulis, khususnya travel writing dari mas Agustinus Wibowo, seorang backpacker handal yang telah menelurkan buku Selimut Debu dan Garis Batas. Selimut Debu merupakan kisah perjalanannya di Afghanistan, sedangkan Garis Batas mengisahkan perjalanan melintasi Tajikistan-Kyrgyzstan, Kazakhstan, Uzbekistan hingga Turkmenistan. Sungguh layak untuk disyukuri akan mendapatkan ilmu dari mas Agustinus. Namun rupanya impian memang selalu tak seindah kenyataan. Banyak hal di tempat kerja maupun rumah yang tidak memungkinkan aku untuk berangkat ke Jakarta.

    Sayang sekali kan ilmu seberharga ini harus lewat begitu saja. Harus tetap ada orang yang menggantikanku untuk menyerap ilmu itu. Secara sambil lalu aku ngobrol dengan teman kuliah dulu yang tinggal di Jakarta. Dia rupanya antusias untuk mewakiliku di sana sekaligus belajar menulis. Uriona, perempuan asal NTT ini piawai dalam hal fotografi dan shooting, namun mengaku tidak bisa menulis. Aku sebenarnya tak percaya sih, tapi berhubung my dear friend Uri tetep keukeuh bilang tidak bisa ya sudah aku ngikut saja :D  Oleh pihak Femina diperbolehkan untuk mengirimkan perwakilan bila berhalangan hadir. Sip lah, confirm sudah kehadiran Uri di sana.
    Jadilah Uri berangkat ke Main Stage Atrium, Lotte Shopping Avenue untuk mengikuti writing clinic nan keren ini. Dan di bawah ini adalah ilmu yang ingin dibagikannya kepadaku dan teman-teman blogger yang ingin tau materi dari Agustinus Wibowo. Ku-copas apa adanya saja ya, kalau masalah content kan aku tidak tau sama sekali ;)

------------------------------------

Summary of Travel Writing coaching
by Agustinus Wibowo (backpacker,blogger,journalist)
26 Juli 2013
    Sebelum menulis kisah perjalanan, coba ingat hal ini. Apa reaksi anda saat membaca buku traveling? Melewatkan berlembar-lembar halaman karena bosan? Mmembantingnya karena kesal? Atau tak sabar melanjutkan karena penasaran?

    Bagi sebagian besar pembaca, opening atau kalimat awal adalah bagian terpenting dalam tulisan. Orang memutuskan akan melanjutkan bacaan atau tidak tergantung pada awal sebuah tulisan. Begitu banyak media, begitu banyak buku, dan hanya sedikit waktu untuk membaca. Maka jadikan kalimat awal pemancing penasaran pembaca.

    Pada bagian isi, setelah "menangkap" pembaca, sekarang persoalannya bagaimana membuat pembaca betah. In travel writing,you must take your reader into your experiences. Make your writing comes to live! Misalnya: "Kereta api ini sesak." --bandingkan dengan: "Kereta api ini sesak, sampai orang susah lewat." --- lalu dengan : "Kereta api ini sesak sampai saya harus berdiri dengan satu kaki". --- dan akhirnya yang paling deskriptif : "Hampir tak ada tempat meregangkan badan, setiap inci kereta telah terisi orang yang tidur menggelosor atau duduk di pojokan sambil mengempiskan perut, mengecilkan pantat, agar bisa mendapat tempat (ini versi lain tanpa menggunakan kata 'sesak'.). Jadi intinya, gunakan panca indera, kelima-limanya untuk mendeskripsikan pengalaman yang diceritakan.

    Teknik lain yang bisa digunakan utk menghidupkan tulisan adalah dengan cara tulisan model dialog. Ini bisa "mempercepat ritme" tulisan. Asal hati-hati agar dialog tidak membosankan. Langsung gunakan dialog yang 'bercerita'. Tak usah gunakan dialog basa basi semacam "Hai,apa kabar".

    Jangan ragu memasukan adegan dalam tulisan deskriptif. Misalnya menulis perampokan menggunakan adegan tanpa satupun kata 'perampokan'. Biarkan pembaca menyimpulkan sendiri. Misalnya : Ketika aku terjerembab ke pojokan ,lelaki itu mengeluarkan bilah tajam berkilat, mengacungkannya ke arahku. "Wallet," katanya parau.

    Less is more. Makin simple tulisan, makin menarik. Jangan bertele tele. Sampaikan hal rumit dengan kalimat sederhana. Jangan memberitahukan semua detil, beri ruang untuk pembaca berimajinasi. Stay away from wikipedia style.
    Penutup : biasanya berupa akhir perjalanan. Tapi ini biasa saja jadinya. Yang bagus adalah membuat ending jadi 'gong' yang 'nyambung' atau jadi jawaban kisah pembuka di awal tulisan yang membuat penasaran.

    Rajinlah menulis jurnal selama perjalanan. Semua pengalaman, perasaan, ide, anything.Selain menghindari lupa, juga bisa jadi sumber inspirasi saat mentok dalam menulis kisah perjalanan. Tulislah dalam bahasa yang baku.Tapi baku bukan berarti lantas kaku. Bahasa baku akan tetap enak dibaca bertahun-tahun mendatang. Bahasa gaul memang asik, tapi cepat hilang ditelan waktu.

    Kisah perjalanan tak selalu harus tentang cara melakukan perjalanan di tempat-tempat jauh. Bisa juga tentang lokasi-lokasi dekat. Asalkan bisa membawa pembaca merasa turut melakukan perjalanan saat membaca. Makin mudah suatu masyarakat melakukan perjalanan, tren travel writing juga turut bergeser. Dari tren buku-buku panduan perjalanan, buku-buku 'how to' menjadi buku narasi perjalanan yang bersifat personal dan tidak massal.

 ----------------------------------------------

     Hmm, sangat bermanfaat ilmu menulis yang telah diberikan oleh Agustinus Wibowo tadi. Thanks a lot to my lovely friend Uri, GBU. Terima kasih telah mau repot-repot datang ke acara keren ini, sampai dibela-belain cuti. Jadi merasa bersalah nih ;)
para pemenang sayembara Gado-gado Femina, foto by Uriona
    Untung rasa bersalahku ini bisa tertebus oleh ilmu yang diberikan dalam writing clinic ini, yang ternyata sangat diidam-idamkan oleh Uri. Kita impas ya, Girl ;)  Meskipun di acara awarding aku tidak menang, it's not a problem at all. Sudah bisa masuk nominasi saja merupakan kebanggaan yang luar biasa dari seorang pemula sepertiku. Kata teman blogger dari Magelang, mba Lies Hadi, naskah yang masuk ada 86. Menjadi salah seorang nominee di 7 besar sudah lumayan banget lah. Mba Lies Hadi sendiri berhasil menjadi juara kedua. Selamat mbakkuuu... *cipikacipiki

mimpiku untuk menjadi salah satu dari mereka kuikhlaskan untuk sobatku Uriona. Foto ini dari dokumentasi pribadinya
    Semoga sedikit ilmu ini bisa bermanfaat untuk teman-teman yang sangat ingin menguasai cara handal menjadi travel writer. Aku saja sering membayangkan bisa seperti mba Asma Nadia atau mba Imazahra (si Honeymoon Backpacker). Tapi bagaimana mungkin, lha wong rutenya cuma rumah-pom bensin-kantor-warung-selepan beras-rumah lagi. :D   

    Have great days, Kawan...


16 comments:

  1. Acaranya seru kali ya Mba.

    Salam wisata

    ReplyDelete
  2. Mak Lies menangggg? Aaaaa kereeeen >.<
    saya pernah kopdar sama beliau, enerjik bgt :D

    ReplyDelete
  3. Udah lumayan sangat tuh masuk 7 besar ;)

    ReplyDelete
  4. iya seru sekali acara ini dan saya bersyukur sekali bisa ngangsu kawruh di writing clinic meskipun tdk hadir langsung ;)

    ReplyDelete
  5. Mupeng juga ama acara travel writingnya.. Terima kasih sudah menyarikan apa yang disampaikan Agustinus Wibowo, Mbak. Sangat bermanfaat. Ira

    ReplyDelete
  6. Waduhhhhh senengnyaaaa aku pengen ikutannn :(

    ReplyDelete
  7. Jane pengen banget ikutan acara kek gini ya mbak. Kadang ibu rumah tangga rempong juga kalau pergi jauh2

    ReplyDelete
  8. Wah selamat masuk nominasi Gado-gado, saya selalu suka tulisan-tulisan Gado-gado Femina. Unik dan temanya walau tentang hidup sehari-hari tapi berkesan :) punya mbak nanti dimuat juga ga ya?

    Makasih untuk berbagi pengalamannya. Jadi pembelajaran buat saya..

    ReplyDelete
  9. Mak Ira : pengin juga nih dapet ilmu nulis travel writing ala Traveler Family ;) yuk sharing online mba...matur nuwun

    Mak Hana : aku yo pengin ikutan mak, apa daya hiks hiks...

    Mb Ika : leres mba, pilihan yg sangat sulit saat harus meninggalkan krucils & kerjaan :'(

    Noniq : enggak dimuat kayaknya, yg dimuat hanya milik juara pertama. tak apa, next time nulis lagi dan kirimkan lagi ;)

    ReplyDelete
  10. Waaah slamat ya mak uniek, keren euy bs jd nominator. Tema tulisan ttg apa mak?

    ReplyDelete
  11. mak Rahmi : matur nuwun, tentang lebaran mak

    ReplyDelete
  12. Terima kasih ilmunya jeng.
    Terus terang saya menyesal..menyesal..menyesal...
    begitu banyak saya melakukan perjalanan di benua Asia,Afrika,Eropa,Amerika, Australia dan Asia belum satupun yang saya abadikan dalam bentukl buku.

    Saya akan mencoba merekonstruksi perjalanan itu deh.

    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  13. ayo pakde ditulis yuuukkk... klo sdh jadi buku saya jadi pembeli pertama wes, teniiinnn... semangat nggih pakdhe :)

    ReplyDelete
  14. Woah rameh dan seru tuh hehe jadi kepengen jalan-jalan terus ditulis deh diblog :D

    ReplyDelete
  15. Wedeewww...pantesan kupingku sriwing sriwing...ada namaku di sebut tah ? :D

    kumplit banget nulisnya...aku malah belum nulis apa2 Mbak..tepar sejak dari Jkrt...tensi drop !

    Mbak Uniek top markotop dah !

    ReplyDelete
  16. Enaknya bisa ikut klinik menulis :D Btw, seru juga nih kalo nyoba nulis tentang perjalanan :)

    ReplyDelete