Featured Post

#UsiaCantik dan Mengapresiasi Diri Sendiri

Bu, sekarang umur Ibu sudah berapa?   Pernah sesekali waktu anak keduaku nanyain umur model petugas sensus begitu. Iya sih, jawabnya me...

20 August 2013

Beda Ras, Sama Rasa

    Sebelumnya perlu kugarisbawahi, tulisan ini bukan bermaksud menonjolkan perbedaan yang mengarah pada isu SARA. Justru perbedaan yang kualami ini makin membuatku sadar, bahwa kita semua merupakan makhluk Tuhan yang memiliki hak yang sama untuk dihargai dan kewajiban yang sama untuk menghormati orang lain.

    Sejak kecil aku hidup dalam lingkungan yang sangat Islami. Bapak ibuku muslim. Di depan rumah terdapat mushola yang seakan tak pernah kehilangan geliat keagamaannya, selalu melantunkan panggilan ibadah maupun pelaksanaan berbagai perayaan keagamaan yang akan selalu ramai dihadiri warga sekitar. Kebetulan mayoritas penduduk di daerahku memang muslim.

    Pun ketika masuk ke sekolah negeri yang notabene mayoritas siswanya pemeluk agama Islam. Mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah, aku terbiasa melihat siswa-siswa non muslim yang rela keluar dari kelas saat pelajaran agama berlangsung. Bukan diminta keluar sih, hanya saja karena jumlahnya yang sedikit mereka yang menyesuaikan diri, mengikuti pelajaran agama masing-masing di ruang yang berbeda. 

    Menjalani fenomena seperti itu terus menerus membuatku merasa berada pada golongan mayoritas yang lebih populer. Meskipun tak pernah memandang negatif pada pemeluk agama yang lain, namun aku tak pernah berpikir lebih lanjut tentang kesetaraan hak tiap-tiap makhluk Tuhan meski berbeda ideologi. Aku selalu menganggap I'm in the best side of God.

    Kedekatanku dengan seseorang yang berbeda agama baru terjalin setelah masuk ke dunia kerja. Kebetulan aku memiliki anak buah, seorang mandor lapangan perempuan yang tidak hanya berbeda agama, namun juga berbeda ras. Beda kepentingan dalam posisi kami yang memiliki jabatan berbeda membuat aneka perselisihan terus terjadi berkepanjangan selama kami bekerja di perusahaan A.

    Tingginya konflik saat kami berada dalam satu manajemen ternyata tidak berlaku setelah masing-masing dari kami pindah ke perusahaan yang berbeda. Justru setelah tidak jalan bareng itulah kami bisa menjadi teman. Cik Yanti, begitu aku biasa memanggilnya. Dia sesekali bertandang ke rumah. Dia juga menemaniku saat usai persalinan anak kedua dan aku mesti boyongan pulang ke rumah dari tempat bersalin. Kadang-kadang Cik Yanti meneleponku sekedar menanyakan kabar ataupun mengajak makan bersama setelah menerima gaji. Sesekali dia yang mentraktir, di lain waktu gantian aku yang membayar makanan dan minuman kami berdua. Paling sering dia mengajak ketemuan bila ingin curhat, entah itu masalah pekerjaan atau rumah tangganya. 

    Teman-teman di kantor baru pun sampai terheran-heran, kok bisa aku berteman dengan Cik Yanti yang memiliki banyak perbedaan denganku. Dia Cina aku Jawa, dia Kristen aku Islam, dia berpendidikan SMP aku sarjana. Ah, untukku itu semua tak menjadi masalah. Toh kami memiliki satu kesamaan, sama-sama perempuan mandiri yang berwatak keras. Itulah mengapa dulu kami tak cocok saat berada dalam satu perusahaan, selalu bentrok karena mempertahankan pendirian masing-masing. Setelah 'pisah ranjang' justru Cik Yanti lah yang membuatku menghargai arti perbedaan.

    Dia sangat menghargai agama yang kupeluk, sehingga tidak pernah mengajak makan di rumahnya karena banyak peralatan makan yang pernah digunakan untuk memasak jenis makanan yang tidak boleh kusantap. Dia juga rela datang ke kantor baruku sekedar mengantarkan penganan untuk berbuka puasa saat bulan Ramadhan. Dari Cik Yanti juga lah aku tau tentang 'perpuluhan' yang dilakukannya di gereja, yang kurang lebih sama dengan ajaran di agamaku untuk menyerahkan sekian persen dari gaji yang diperoleh bagi kaum dhuafa.

selalu merindukan kangen-kangenan dengan Cik Yanti seperti ini

    Kami memang berbeda ras, namun rasa persahabatan yang kami miliki bagaikan tali persaudaraan. Melalui pertemanan dengannya, pandanganku makin terbuka kepada orang-orang yang agama, suku ataupun rasnya berbeda denganku. Ternyata stereotip terhadap golongan tertentu itu tidak benar. Baik atau jelek itu bukanlah karena dia berasal dari suku / agama / ras tertentu. Segala kebaikan itu datangnya dari Tuhan, adapun manusia lah sumber dari segala kelemahan.

Postingan ini diikutsertakan dalam Giveaway 4th Anniversary Emotional Flutter

24 comments:

  1. Persahabatan memang tak melihat perbedaan tapi merasakan kesamaan yang dimiliki.. ^^

    Sukses ya mbak, ngontesnya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener Bunda, yg penting 'klik' gitu lah ;)

      Delete
  2. sahabat itu bisa kita teukan dimana saja dan sama siapa saja ^^
    *termasuk kita kan mbk unik???hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya say, I'm glad to be your friend *peyuuukkk...

      Delete
  3. Sukses ikutan GAnya mbak. Aku mau ikutan udah telat. Hiks :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih mb Ika... yah, sayang sekali mb Ika ndak ikut, mau takbaca postingane padahal :(

      Delete
  4. Persahabatan yang indah tanpa memandang perpedaan ras, suku dan agama ya Mbak...sukses untuk GA nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mak Lies, sama-sama makhluk Sang Pencipta. matur nuwun mak :)

      Delete
  5. Perbedaan jutru membuat semakin semarak suasana. Semoga menang Kak Uniek.

    ReplyDelete
  6. Perbedaan akan terasa indah dan menjadi perekat persahabatan di saat rasa saling mengerti dan menghargai tumbuh secara nyata ya, mba? Sukses utk giveawaynya yaaaa. Smg menang. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih jadi berbunga-bunga dikunjungi mba Al nih ;) Benar mba, persahabatan sejati itu menepis segala beda yang ada. Terima kasih mba Al.

      Delete
  7. walau beda agama dan beda ras serta beda warna kulit, namun kita tetaplah hanya manusia biasa ciptaan TUHAN ......dan di situlah kita bisa menempatkan diri sebagai manusia yang saling membutuhkan dan juga saling menghormati....,
    selamat berlomba..semoga menjadi yang terbaik...salam :-)

    ReplyDelete
  8. Kayak kita ya Mak. Walo beda warga negara (beda kecamatan) tapi tetap best friend xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. teuteup ya Wuri, BFF wes pokokmen *kerling ala Korea

      Delete
  9. Perbedaan itu indah, seharusnya bukan jadi masalah dalam kehidupan, tetapi jadi warna yg memperindah relasi antar manusia, hehehe

    Thanks udah ikutan giveaway Emotional Flutter ya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih sudah diberikan tema menulis yang membuat tersadar akan indahnya warna-warni hubungan antar manusia. sukses ya GAnya bro Keven, pesertanya buaanyaaakkk (y)

      Delete
  10. Belom pernah sih Mbak, ngerasain punya sahabat yang model Cik Yanti ini. Bukan berarti nggak mau temenan sama yang beda rass da keyakinan ya, tapi karena belom nemu yang klik aja..

    Semoga menang giveaway ya Mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, intinya ya di 'klik' tadi itu ;)
      matur nuwun ya sudah mampir di tulisanku ini

      Delete
  11. semua manusia sama di hadapan Tuhan,,yg bikin beda adalah amal perbuatannya,, ya kan mba,,semangat mba,,semoga menang he he,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget Bunda Aisykha, amal kita di dunia lah yang menentukan derajat sebenarnya ;)
      Enggak menang koq mba tulisan ini, tapi tak apa-apa, yang penting udah bisa asyik nulis :D

      Delete
  12. sy juga terbiasa dg berada di kalangan mayoritas yg segama dg saya, Mbak. Pas kerja baru merasakan kl diantara teman2 kantor yg dekat dg saya, justru cuma sayalah yg muslim. Tp memang gak ada ada rasa yg kayak gimanaaaa... sy tetap seneng bermain bersama teman2 sy itu dan kami slaing meghargai :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah the power of friendship ya Mak Myra, enjoy it

      Delete