10 August 2017

Bersemayamkah Batik di Urat Nadimu



Nggak rela... masak batik di-claim sebagai kekayaan budaya negara tetangga.

Duh, pernah nggak sih tau ucapan di atas? Iya, pada masanya dulu ada friksi kepentingan antara negara kita dengan negara tetangga sehingga terlontar ujaran di atas. Kurang lebihnya kita pun lalu kusut masai dan tidak terima lantas berucap seperti itu.

Beneran enggak rela nih? Coba, dalam seminggu kita menjalani hidup, berapa kali kita menggunakan batik? Jujur lho yaaa... 😉

Biasanya memang kita mengenakan batik dalam acara-acara khusus yang resmi maupun setengah resmi, misalnya pergi ke kondangan maupun saat seminar atau rapat. Namun dalam perkembangannya, kini setiap orang bebas menggunakan batik di acara apapun. Busana yang kita kenakan sehari-hari pun kini telah banyak yang dibuat dari kain batik.

Dalam perkembangannya, batik kini tak hanya digunakan sebagai bahan pembuat kemeja dan blus. Barang-barang lain seperti sepatu, tas, dompet dan piranti aksesoris lainnya makin cantik dan memesona jika terbuat dari batik.

Kayak Pak RT aja pakenya batik.

Apaaaahhh... siapa tuh yang berani bilang gitu? Mau nggak dibikinin surat pengantar kelakuan baik dari Pak RT ya? 😛

Salah kaprah deh kalau ada yang bilang seperti itu. Batik tidak identik dengan usia tua maupun jabatan tertentu. Persepsi inilah yang sepertinya wajib kita dobrak. Lha wong mamah kinyis-kinyis kayak diriku aja pake batik loohhh *kinyis-kinyis koq ubanan 😁😂


Saya pakai batik lho Pak Asip... Bu Arini...

Kenapa sih kita harus bangga saat mengenakan batik?
  1. Heloooo... saat sedang melenggang di Stasiun Paddington hendak menuju peron 9 3/4, terlintas kah dalam benakmu bahwa semua orang akan tau jika dirimu adalah fans berat Harry Potter yang berasal dari Indonesia? Iyesss... ada lagikah orang yang menggunakan batik dengan penuh rasa bangga seperti orang Indonesia? Kalau bukan kita, siapa lagi kan yang bisa mengharumkan nama bangsa dengan membawa serta batik kemana pun kita pergi. Dikenalnya batik sebagai ciri khas Indonesia tak lepas dari peran serta kita yang secara langsung mengenakannya. Meskipun secara fakta hal ini hanya sumbang sih kecil, jika dilakukan oleh jutaan orang Indonesia yang pergi ke manca negara, tentu bumi pertiwi ini akan tersenyum bahagia.
  2. Batik merupakan hasil tangan-tangan terampil yang telah turun-temurun berjalan sejak dahulu kala. Ada memang batik dengan motif tertentu yang tingkat kerumitan pembuatannya sangat tinggi. Namun di atas itu semua, setiap goresan motif batik mewakili nilai seni adiluhung Indonesia. Jadi wajar aja dong kalau kita sudah semestinya bangga mengenakan batik dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Batik adalah warisan budaya dunia. Taukah teman jika pada 2 Oktober 2009 UNESCO telah menobatkan batik sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity (warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan non bendawi). Lalu pemerintah Indonesia juga menetapkan tanggal 2 Oktober tersebut sebagai Hari batik Nasional. Pengakuan dari UNESCO ini meliputi teknik, teknologi serta pengembangan motif dan budaya terkait. Gimana enggak bangga kan ya jika kita mengingat-ingat bagaimana batik sudah memilik kelas tersendiri di tingkat dunia.
  4. Batik tidak kalah cantiknya bila dibandingkan dengan pakaian tradisional negara lain. Jika kita merasa kece saat mengenakan kimono maupun hanbok, begitu juga lah saat kita secara elegan menggunakan kain batik ke tubuh. Malahan batik ini jauh lebih fleksibel dikenakan di acara apapun meskipun batik dikenal sebagai kain bermotif tradisional.
  5. Ikut memajukan perekonomian negara. Nah, kain batiknya boleh beli kan bukan minjam? 😉 Dengan rutin membeli kain batik di perajin batik lokal, kita telah berusaha untuk turut serta meramaikan lalu lintas uang di negara kita sendiri. Jangan cuma hobi shopping di luar negeri aja ya teman, kalau bisa bikinlah populer kain batik sehingga semua negara di dunia kulakan baju batik ke Indonesia. Mantaaabbb...


Perjalanan Seni Karya Batik di Indonesia



Batik identik dengan seni gambar di atas kain yang dulunya didominasi oleh keluarga raja-raja di Indonesia. Mulanya batik diproduksi hanya untuk dikenakan keluarga raja saja. Budaya batik telah dikenal sejak jaman Majapahit dan terus berkembang melalui kiprah raja-raja berikutnya.

Batik mulai menyebar luas penggunaannya ke masyarakat pada kisaran akhir abad ke-18. Pada waktu itu, semua batik yang dihasilkan adalah batik tulis. Baru pada abad ke-20 di sekitaran tahun 1920 baru muncul batik dengan teknologi cap.

Jika semula batik hanya terkenal digunakan oleh kalangan raja Mataram, maka akibat peperangan yang terjadi baik antar keluarga raja maupun dengan penjajah Belanda, banyak keluarga raja yang mengungsi. Termasuk juga Pangeran Diponegor dan para pengikutnya yang mengungsi ke wilayah seperti Banyumas, Pekalongan, Ponorogo, Tulungagung dan sebagainya. Inilah awal mula batik menyebar ke seluruh pelosok pulau Jawa.

Corak batik di daerah yang baru disesuaikan dengan kondisi di daerah tersebut. Di Pekalongan proses dan desainnya banyak dipengaruhi oleh batik dari Demak. Mulanya di daerah Pekajangan lebih marak usaha tenun yang membuat produk berupa stagen. Lalu belakangan orang-orang yang melakukan pembuatan stagen ini mulai membatik, bahkan kemudian perkembangan batik jauh lebih pesat dibandingkan dengan usaha pembuatan stagen tadi. Para pekerja dari sektor lain seperti buruh pabrik gula di Wonopringgo dan Tirto pun akhirnya berpindah ke perusahaan batik karena upahnya lebih tinggi.


Batik Petungkriyono karya H. Failasuf

Sudah baca tulisanku saat datang ke Pekalongan untuk eksplor Hutan Petungkriyono? Boleh dibaca dulu yang ini : Berburu Oksigen dan Keseimbangan Hidup ke Petungkriyono




Dalam rangkaian acara Amazing Petung National Explore (APNE) 2017, Bupati Pekalongan Bp. Asip Kholbihi kembali hadir untuk menutup acara ini sekaligus meresmikan peluncuran Batik Petungkriyono karya Bp. H. Failasuf.

Pak Failasuf ini merupakan perancang batik yang karya-karyanya sudah melanglang buana. Didukung oleh keterangan Pak Bupati bahwa karya batik dari Pekalongan telah tersebar di seluruh penjuru Indonesia, bahkan sampai di luar negeri. Keberadaan batik Pekalongan telah mendominasi distribusi batik di Indonesia. Banyak batik yang dijual di luar Pulau Jawa yang berasal dari Pekalongan.

Saat mampir di Padepokan Pesisir milik Bp. Failasuf, tampak para pembatik dengan penuh kecintaan mewujudkan karya seni ke dalam bentuk motif batik. Berikut ini beberapa proses pembatikan yang ada di padepokan batik tersebut.







Jadi jatuh cinta banget pada karya-karya batik perajin ini saat melihat hasil akhirnya yang seperti ini :


Cantik-cantik yaaaa batiknya. Berasa pengin dibawa pulang semua deh batik karya padepokan milik Bp. Failasuf ini.

Nah, tadi dibahas soal Batik Petungkriyno, seperti apa sih desainnya?



Bp. Failasuf beserta Pak Bupati sebelumnya telah menggagas bagaimana cara mengenalkan Petungkriyono ke masyarakat luas. Dengan kepiawaiannya sebagai perajin dan pengusaha batik, tentu saja Bp. Failasuf terinspirasi untuk membuat batik bermotif Petungkriyono untuk mewujudkan gagasan tadi.

Sesuai dengan gambaran alam Petungkriyono yang telah dijelajahi hari sebelumnya, karya batik Bp. Failasuf ini memperlihatkan pemandangan seperti sawah, pohon, curug, bahkan ada pendopo dan binatangnya juga. Persis plek dengan apa yang kulihat di sepanjang bentangan hutan Petungkriyono. Lengkap sekali karya batik Bp. Failasuf ini menarasikan alam Petungkriyono sebagai National Nature Heritage yang akan dikenalkan kepada masyarakat luas.

Rencananya Batik Petungkriyono ini akan dibeli oleh pemerintah Kabupaten Pekalongan dan melalui acara tertentu akan dipersembahkan kepada Presiden Jokowi maupun Sekjen PBB saat Pak Bupati hadir di markas UN.


Betapa bangganya warga negara Indonesia pada Pekalongan yang memiliki komitmen tinggi pada pengembangan karya seni batik. Tak sekedar menjaga eksistensi karya seni tinggi warisan nenek moyang, Pekalongan juga konsisten menjaga roda perekonomian bagi rakyatnya melalui usaha pembuatan batik.

Jadi tak heran lah ya bila Pekalongan pas sekali mendapat julukan Bumi Legenda Batik Indonesia. Banyak karya batik nan cantik sekaligus memiliki nilai seni adiluhung yang lahir dari tangan-tangan trampil putra daerah Pekalongan. Batik Pekalongan untuk Indonesia.... Batik Pekalongan untuk Dunia.


10 comments:

  1. Ihhh aku tiap hari pakai batik loh mba, adeeem dan jadi pengen bobok cantik. Etapi batik untuk jalan-jalan atau ke pesta juga ada stoknya. Komplit deh, namanya juga orang Indonesia, mesti bangga dong pakai Batik ��

    ReplyDelete
  2. Paling suka beli daster batik yang dari Pekalongan. Meski harga relatif lebih tinggi sedikit, tp enggak luntur dan desainnya lucuk. Warnanya pun bagus-bagus

    ReplyDelete
  3. suka banget batik...pengen banget ke Pekalongan untuk huntng batik

    ReplyDelete
  4. keluargaku usaha batik Mbk, sennag banget kalau Batik banyak disukai masyarakat ya. Apalagi motifnya juga kekinian yang jadul juga bagus dna penuh makna

    ReplyDelete
  5. Warna dan corak batik Pekalongan emg ciamik bgt, ibuk ku punya berpuluh-puluh kain tapih batik dengan motif serupa yang ada di padepokan Failasuf katanya sih itu warisan dari nenek dan sampai sekarang warnanya masih bagus bgt :D

    ReplyDelete
  6. lain waktu bisa blusukan ke kampung batik lain mba, masih banyak kisha yang bisa kita kulik

    ReplyDelete
  7. Batik emang keren, punya beberapa baju kerja batik dari pekalongan dan solo, selain coraknya etnic, adem dipakai di semarang yang panas 😊

    ReplyDelete
  8. motif batiknya bikin ademmmm.. secara nuansa pegunungan gitu..

    ReplyDelete
  9. Failasuf itu pengusaha saja sih, masih ada maestro yang lebih hebat darinya.

    ReplyDelete