This article was awarded as Favourite Winner, you could trace it here
Saat anak-anak memasuki masa
liburan sekolah merupakan masa-masa yang sama mencemaskannya dengan saat mereka akan menjalani tes kenaikan kelas. Bila dalam persiapan tes kenaikan, aku sebagai ibu sekaligus mentor dadakan harus ekstra konsentrasi membimbing kesiapan penguasaan materi sekolah. Selalu harap-harap cemas, nanti apakah anakku bisa mengerjakan tes dengan benar atau tidak. Nanti saat hitungan matematika dia ingat yang tadi diajarkan atau tidak. Pada pelajaran PPKN apakah anakku bisa mengartikan pertanyaan yang sering berbelit-belit atau tidak. Ya, sejuta kekhawatiran yang terus menyelimuti pikiran, yang ternyata selama ini hanyalah 'paranoid temporer' jelang tes sekolah.
Si sulung yang baru saja sukses membuktikan kemampuan belajarnya dalam tes kenaikan kelas, telah membuatku lega. Sama persis dengan tes-tes yang dia jalani di kelas I dan kelas II SD yang lalu, saat ini sulungku dari kelas III naik ke kelas IV dengan hasil yang sangat memuaskan. Tentu saja aku bahagia luar biasa. Meskipun tidak mematok hasil tertentu, bila anak berprestasi tentu orang tua bangga juga kan?
Nah, saat mencemaskan berikutnya telah tiba. Loh, kok malah cemas, bagaimana pula ya itu maksudnya? Ananda tersayang sukses tes kenaikan kelas kok malah disambut kecemasan. Dimanakah letak kecemasan tersebut bersumber?
"Braaakkk...." setumpuk dokumen kuletakkan dengan kasar di atas meja kantor. Hari itu merupakan hari yang sangat melelahkan dan menjengkelkan. Saat aku harus berjibaku dengan panas dan keringat di area lapangan terbuka pabrik di tempat aku bekerja, eh teman kantorku ada yang mengajak berseteru. Ketidakpahamannya atas berbagai prosedur lapangan membuat dia beranalisa tidak pada tempatnya. Alhasil terciptalah laporan kepada atasan yang simpang siur. Berasa kepengin kutelan saja nih orang *maaf asap mengepul dari kepala ;)
Meretas Ego Di Tempat Kerja
Kejadian seperti tadi kebanyakan pernah dialami oleh mereka yang harus bergesekan dengan banyak orang dan beragam divisi dalam suatu perusahaan. Tak terkecuali diriku.
Musik ceria dan cute ala WHAM di atas telah familiar di telingaku sejak kecil. Lagu itu kudengar berulang-ulang di dalam L-300 yang membawaku bersama rombongan atlet Jawa Tengah lainnya rehat sejenak di antara padatnya event Kejurnas Renang & Loncat Indah, menuju arena Pekan Raya Jakarta di tahun 1984. Kala itu aku masih berusia 9 tahun dan sangat tidak 'tepat' untuk mendengarkan lagu yang kebanyakan disukai oleh remaja sepantaran kakakku yang delapan tahun lebih tua dariku. Aku pun hanya bisa ikutan menyanyikan satu baris lirik saja di lagu itu : Wake me up before yo go go.... Cuma itu saja yang kubisa karena lirik itu juga sekaligus judul lagunya ;)
Wowww.... apa ini? Mataku tertumbuk pada logo berwarna merah ini. Mungil, unik namun catchy. Warna merah yang acap diartikan sebagai pemberani itu jelas menyeruak di tampilannya. Hmm... keberanian seperti apa ya yang ditawarkan oleh logo unik ini?
 |
| just point your mouse over this icon to make it double-sized ;) |
Penasaran deh jadi ingin tau, sejatinya apa sih ini. Buka mata, buka telinga dan lentikkan jari jemari di laptop dulu aaahh....
Nah, ini ada lagi, kok berkoneksi dengan Facebook dan Twitter pula ya?
Hayo siapa yang tidak pernah mendampingi putra putrinya saat belajar? Apalagi menjelang tes, kebanyakan orang tua -- sepertinya lebih banyak ibu/mama/bunda deh ya dibandingin bapak/papa/ayahnya -- menjadi tentor dadakan untuk ananda tercinta. Sistem kejar tayang demi menghadapi tes esok paginya.
Bisa dibayangkan kah ekspresi anak-anak kita saat 'spaneng' belajar model kejar tayang begitu?