Halo, teman-teman semua. Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2025 yang terasa begitu berat yaaa..
Saat menulis artikel ini, hati saya dan mungkin hati hampir semua rakyat Indonesia sedang tertuju pada saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang sedang dilanda bencana besar. Penderitaan mereka dalam ketidakberdayaan sungguh menyayat hati.
Apa yang bisa saya lakukan di tengah kondisi seperti ini? Sebagai seorang ibu sekaligus blogger, ada perenungan kecil yang terbit dalam kepala. Apakah ada peran literasi yang relevan di tengah keprihatinan nasional ini?
Jika dikaitkan dengan datangnya tahun 2026 yang oleh sebagian orang diyakini sebagai Tahun Kuda Api, apakah energi Kuda Api yang penuh semangat bisa kita selaraskan dengan kondisi Indonesia yang sedang terluka?
Mengenal Energi Kuda Api di Tengah Keprihatinan
Kuda Api, yang muncul 60 tahun sekali, adalah simbol kecepatan dan kekuatan yang meluap. Namun, ketika elemen "Double Fire" bertemu dengan realita bencana alam yang kita hadapi sekarang, kita diingatkan bahwa energi yang besar tanpa kendali bisa membawa gejolak.
Bencana di Aceh dan Sumatera adalah pengingat keras bahwa kita tidak hanya butuh kecepatan untuk maju, tapi juga ketangguhan untuk bertahan. Jika Kuda Api melambangkan keberanian untuk berlari, maka literasi adalah peta yang memastikan kita berlari ke arah yang aman, bukan justru menuju bahaya.
Kontribusi Nyata Melalui Literasi Bencana di Masa Sulit
Melihat kondisi Aceh, Sumut, dan Sumbar saat ini, saya merasa kontribusi literasi di tahun 2026 harus bertransformasi menjadi Literasi Tanggap Bencana. Ada beberapa poin yang bisa kita rumuskan dalam perjalanan literasi ke depan.
1. Literasi Informasi
Di tengah situasi darurat, informasi yang salah bisa berakibat fatal. Kita sering melihat hoaks seputar bantuan atau prediksi bencana susulan yang tidak berdasar menyebar di grup-grup keluarga. Di sinilah peran para blogger dengan menjadikan blognya sebagai acuan.
Saya ingin mengajak teman-teman blogger untuk menjadi "pemadam kebakaran" informasi. Sebelum membagikan berita tentang bencana, mari kita cek sumbernya. Literasi digital bukan hanya soal gaya hidup, tapi soal menyelamatkan nyawa dengan menyebarkan data yang akurat dari lembaga resmi.
2. Literasi Kemanusiaan dan Penggalangan Dana Digital
Tahun Kuda Api mendorong kita untuk bergerak cepat. Sebagai blogger, saya dan teman-teman blogger semuanya bisa menggunakan ruang digital untuk memfasilitasi literasi donasi. Banyak orang ingin membantu, tapi bingung atau takut tertipu.
Para blogger bisa mengedukasi pembaca tentang bagaimana menyalurkan bantuan secara aman melalui platform digital yang kredibel. Kita akan belajar bersama bagaimana membaca transparansi laporan bantuan, sehingga empati yang kita miliki benar-benar sampai kepada saudara-saudara kita di Sumatera secara efektif.
3. Literasi Psikologis dan Pemulihan Keluarga
Anak-anak saya yang sudah remaja dan dewasa pun ikut merasakan kesedihan melihat berita bencana ini. Di tahun 2026, saya ingin fokus menulis tentang bagaimana kita, sebagai orang tua, memberikan literasi empati kepada anak-anak yang sudah besar.
Bagaimana kita mendiskusikan perubahan iklim, kesiapsiagaan bencana, dan solidaritas sosial sebagai bagian dari kurikulum kehidupan di rumah. Kita perlu mendidik generasi muda agar memiliki kecerdasan emosional dalam menanggapi tragedi, bukan hanya sekadar menontonnya lewat layar ponsel.
4. Literasi Finansial di Masa Krisis
Bencana seringkali diikuti oleh tantangan ekonomi. Blog bisa dimanfaatkan sebagai media berbagi tentang literasi manajemen risiko. Bagaimana keluarga Indonesia bisa lebih siap secara finansial menghadapi ketidakpastian alam, mulai dari pentingnya dana darurat hingga pemahaman tentang asuransi.
Kalau dikaitkan dengan filosofi tahun Kuda Api, kita diharapkan untuk waspada. Sebaiknya kita harus punya cadangan energi (dan dana) sebelum badai datang.
Bergerak Bersama Menuju 2026
Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar adalah ujian bagi solidaritas kita. Menyongsong 2026, saya mengajak teman-teman untuk melakukan aksi nyata melalui literasi.
1. Saring Sebelum Sharing
Jadilah pahlawan literasi dengan tidak menambah kepanikan lewat informasi yang belum teruji kebenarannya.
2. Tulis untuk Menginspirasi
Jika teman-teman memiliki blog atau media sosial, gunakanlah untuk menceritakan kisah-kisah ketangguhan (resiliensi) para penyintas. Energi Kuda Api sangat menyukai narasi keberanian. Hal ini bisa menjadi dukungan moral yang besar bagi mereka yang sedang berjuang bangkit.
3. Edukasi Diri tentang Mitigasi
Mari jadikan tahun 2026 sebagai tahun di mana kita melek literasi mitigasi. Pelajari jalur evakuasi di lingkungan masing-masing dan pahami protokol keselamatan.
Cahaya Literasi di Ujung Terowongan
Tahun Kuda Api 2026 mungkin akan terasa sangat intens. Namun, berkaca dari bencana besar yang melanda sebagian pulau Sumatera, kita belajar bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat jika bersatu.
Yuuk teman-teman blogger, kita terus menulis, terus berbagi, dan terus mengedukasi. Gunakan blog kita untuk meluaskan wacana di berbagai aspek. Selain menulis tips keseharian, kita juga bisa membincang tentang kemanusiaan.
Literasi adalah cahaya. Dan dalam kegelapan bencana, sekecil apa pun cahaya yang kita nyalakan melalui tulisan atau edukasi, tentunya akan sangat berarti bagi mereka yang sedang mencari jalan pulang.
Mari kita masuki tahun 2026 dengan semangat Kuda Api. Berlari kencang untuk membantu, bekerja keras untuk mengedukasi, dan menjaga hati agar tetap hangat bagi sesama. Mulailah dari satu langkah kecil, yaitu menyebarkan satu informasi yang benar dan bermanfaat hari ini.
Bagaimana menurut teman-teman, adakah yang bisa ditambahkan?
---
Referensi bacaan:
- kompas.tv/regional/638249/update-bencana-sumatera-korban-meninggal-dunia-jadi-1-068-orang
- bnpb.go.id
- aljazeera.com/gallery/2025/12/11/indonesias-aceh-families-struggle-as-floods-leave-villages-in-ruins
- thejakartapost.com/indonesia/2025/12/22/discontent-grows-in-aceh-over-flood-response.html
- chinesefortunecalendar.com/2026.html
- en.wikipedia.org/wiki/Fire_Horse



Blogger memiliki media yang kebebasannya hanya dibatasi oleh UU ITE & tagihan tahunan. Blog bisa dimanfaatkan seluas-luasnya untuk membangun literasi yang baik.
BalasHapusBencana alam terutama Sumatra dan Aceh, makin buka mata kita. Aku jadi belajar mitigasi, ngenalin itu pada Bocah. Bahwa kita saat ini tinggal di negara rawan bencana. Jadi harus bersiap, bukan yang nakut-nakutin. Jujur, PR kita memang masih banyak ya
BalasHapusCan't agree more mba Uniek...literasi membawa cahaya dan harapan serta penyelesaian masalah atau tantangan yang kita hadapai. Ada begitu banyak masalah yang kita hadapi karena misinformasi dan disinformasi ini. Semoga bencana dan segala gulirannya bisa segera tertangani dengan baik ..
BalasHapusKebebasan berekspresi bukan berarti menyalahgunakan kesempatan itu ya. Justru sebagai pegiat literasi kita para blogger nih harus berani mengambil sikap bijak. Jadi teladan untuk netizen lainnya yuk...
BalasHapusMungkin bisa ditambahkan mengenai literasi bagaimana kita bisa berpartisipasi dalam menjaga lingkungan, dan informasi atau ilmu mengenai dampak lingkungan dari deforestasi, dan mengenai pembangunan yang berkelanjutan.
BalasHapusBisa ditambahkan literasi mengenai bagaimana kita bisa berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam, dampak lingkungan dari pembangunan yang tidak mengindahkan keberlanjutan.
BalasHapusBlogger bisa sebagai penawar informasi di media sosial yang terkadang hanya untuk mengejar view, like dan komen dengan menyajikan informasi yang memancing-mancing yang kebenarannya masih dipertanyakan. Semoga di tahun 2026 setiap kita ikut ambil bagian dengan menjaga nyala literasi.
BalasHapusBenar ya Mbak, menjaga 'nyala' itu jauh lebih sulit daripada menyalakannya di awal. Salut sekali dengan konsistensi Mbak Uniek dalam menjaga literasi tetap hidup. Ya saat ini Warga Jaga Warga menjadi andalan. Saling mengingatkan tentang pentingnya literasi
BalasHapusTernyata Kuda Api ini nantinya bakalan membuat semangat on fire ya, sehingga perlu dikendalikan ke arah² yang baik, salah satunya perkuat literasi dengan bijak dan tepat
BalasHapusMakasih tulisan indahnya di awal tahun ini MbaUn. Cara merealisasikan bisa dengan bentuk apapun literasinya yaa.
BalasHapusApalagi Blogger bisa diplatform yang bikin nyaman blog atau sosmednya.
Hiks, jadi teringat pengujung tahun kemaren ditutup dengan perjalanan ke tempat bencana, menyampaikan titipan bantuan langsung ke yang berhak. Alhamdulillah, semoga saudara2 kita di Aceh cepat pulih
Aamiin.
Tahun kuda api, aku sudah membayangkan ini tahun yang kuat dan menyala, dimana kita akan mendapat energi besar jadi mau beraktivitas dengan sepenuh daya. Mari kita ikut berpartisipasi dalam literasi bangsa ini
BalasHapusSemoga segalanya lebih baik ya di tahun ini. Semoga literasi jadi penerang dan dengan sadar literasi kita juga bisa mengedukasi orang lain. Taggar Warga Jaga Warga di sosial media juga jadi secerah harapan di tengah bencana.
BalasHapusMakin besar ya tantangan di era internet ini. Kalau nggak pintar pintar memang bisa mudah terpecah. Soalnya saya sudah berapa x aja menemukan postingan yang justru menyudutkan korban bencana. Ntah apa tujuannya membuat konten yang seperti itu.
BalasHapusPerjuangan literasi di tengah ujian memang nggak kelihatan hasilnya cepat, tapi dampaknya panjang. Konsistensi justru jadi poin terkuatnya
BalasHapusTulisan yang sangat menyentuh dan reflektif. Memang benar, di tengah duka yang menyelimuti saudara kita di Sumatera, literasi bukan sekadar hobi, melainkan instrumen penyelamat. Saya sangat setuju bahwa energi "Kuda Api" 2026 harus kita arahkan menjadi bahan bakar kepedulian. Peran blogger sebagai "pemadam kebakaran" hoaks sangat krusial saat ini. Semoga nyala literasi ini bisa menguatkan kita semua untuk bangkit dan tetap tangguh menghadapi ujian bangsa.
BalasHapus2026 bisa dikatakan tahun yang penuh semangat meskipun diawal penuh tantangan untuk memulainya melihat kondisi saat ini. Literasi yang berkualitas memang saat ini menjadi hal yang sangat penting.
BalasHapusSetuju. Sebagai blogger, kita harus bisa menggunakan ruang digital untuk memfasilitasi literasi donasi. Jangan sampai tertipu.
BalasHapusBanyak itu donasi bencana Sumatera tapi ujungnya dana entah nyangkut dimana. Beneran kita harus melihat mana yg amanah dan mana yang tidak