Siapa yang suka harpitnas? Itu
tuh, hari kejepit nasional. Kemarin libur, tapi hari ini masuk, padahal besok
ketemu tanggal merah lagi. Hari yang paling tidak aku suka bagaikan membenci
cewek-cewek hobi php (pemberi harapan palsu). Sekaligus mendorong aku giat belajar demi cita-cita
menjadi pengusaha spesialis percetakan kalender. Kelak dengan jabatanku sebagai
direktur utama, seluruh harpitnas akan menggunakan warna merah. Sayangnya, aku
mengawali harpitnas kali ini dengan hujan kesialan, seakan dewi fortuna tengah
cuti liburan ke Timbuktu.
Sumber sialku sebenarnya adalah
si Tyrannosaurus. Dia bukan hewan peliharaan, tapi kendaraan roda empat yang
suara mesinnya mirip singa kelaparan tujuh hari. Belum lagi Pakdhe Juki, supir pribadi, baru tahu kalau
ban mobil bocor. Apalagi ban serep ternyata semalam menjadi camilan pesta para
tikus rumah. Untuk sementara, si Tyrannosurus rawat inap dulu di bengkel
terdekat.
 |
| sumber : drwox.com |
Tiba-tiba teringat target pribadi yang sudah berbulan-bulan terlupakan dengan seribu satu alasan. Yang sibuk urusan di kantor lah, sibuk dengan anak-anak lah, sibuk hang out lah, halaaahhh... aku ini memang paling jago bikin alasan. Nah, target pribadi apakah itu?
Masih teringat pada ucapan seorang penulis senior tentang sesuatu hal di penulisan fiksi, bahwa tidak ada yang namanya kebetulan untuk dijadikan dasar logika cerita. Pasti ada alasan, motif, sebab-akibat hingga cerita itu terbentuk. Rupa-rupanya itu pula yang terjadi di dunia yang bukan fiksi ini.
Pada 10 Maret 2012 aku diajak rekan sekantor untuk mengikuti talkshow yang diselenggarakan oleh majalah Ayahbunda.
Pernah jadi bu guru di sekolah dasar
(SD)? Pastinya berat ya? Membimbing anak-anak yang notabene masih 'belum
ndolor' (belum begitu mahfum A sampai Z nya dunia) tentu butuh
kesabaran ekstra.
Yang sudah kenal lama denganku pasti gak bakalan percaya kalau kuceritakan bahwa aku pernah
selama 2 tahun jadi bu guru di SD. Aku yang temperamental dan 'ngoboy'
tentu tak pantas masuk penilaian sebagai bu guru idaman. Belum lagi tak
punya dasar ilmu keguruan. Out of mind lah....
Street food itu tidak sehat dan tidak enak, itu kata Mr. X temanku. Wahai penggemar street food Indonesia, benarkah ini? Kalau aku sih ragu, buktinya apa? Sebelum berlanjut kali ini untuk Femina Foodlovers Blog Competition 2013 aku ingin "berkelana" menjelajahi indahnya keragaman makanan khas kaki lima. It's called a huge heaven of
culinary. Ya, itulah Street Food Indonesia.
Tengah hari selepas waktu Jumat'an tadi aku terima broadcast (BC) dari beberapa teman yang mengabarkan tentang kecelakaan. Tragedi ini terjadi di Jl. Dr. Wahidin atau lebih terkenalnya dengan tanjakan Tanah Putih bagi warga Semarang. Tanjakan yang lumayan curam nih. Pada BC itu disampaikan pesan untuk kembali BC ke sesama pengguna hape tertentu, dengan tujuan agar keluarga korban bisa segera tau.
Lah, darimana keluarga korban tau, wong korbannya siapa aja tidak tau. Kadang-kadang berita seperti ini ada juga yang hoax. Ragu deh untuk mem-forward ke teman-teman lainnya.
Hai my dear Myself,
Sadarkah engkau bahwa segala yang kau punya saat ini adalah anugrah terindah dari Yang Maha Kuasa? Coba kembali kau ingat, saat bangun pagi masih bisa bernafas dan duduk tegak, bukankah itu patut disyukuri. Saat anak-anakmu tertawa meriah dan bicara sekuat tenaga, dapatkah kau bayangkan banyak orang di luar rumahmu sana yang begitu mendambakan kehadiran bocah-bocah lucu nan menawan? Kenapa selama ini kau anggap buah hatimu kebisingan semata?
Ah Myself, ayo lah bangun sayang, masih banyak yang harus kau perbaiki.