Heart of Mine

Catatan Momblogger dari Semarang

  • Home
  • Kesehatan
  • Techno-Gadget
  • Artikel Lifestyle
    • Pendidikan
    • Kuliner
    • Traveling
    • Properti
    • Beauty
    • Fashion
    • Parenting
    • Healthy
    • Blogging
    • Ekonomi
    • Liputan
    • Obrolan-Inspirasi
    • Sosial
    • Budaya
  • Giveaway
    • Giveaway Cinta Produk Indonesia
    • ASUS Laptopku - Blogging Competition
    • Blog Competition - Makin Produktif dan Kreatif bersama Notebook Kesayangan
    • Giveaway Aku dan Kamera Ponsel
    • Giveaway Cerita di Balik Blog
    • 10th Wedding Anniversary
    • Kuis Bukune SGFD
    • Perempuan & Bisnis

Viral boleh hoaks jangan

Sebagai blogger dan content creator, tentu saya senang kalau konten yang saya buat banyak yang membaca, mendapatkan respons, bahkan dibagikan orang lain. Siapa sih yang nggak senang kalau postingannya ramai? 


Beberapa waktu lalu saya mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bertema “Viral Boleh, Hoaks Jangan! Efek Hukum Konten Misleading Influencer & Media”. Acara ini membahas sesuatu yang menurut saya sangat dekat dengan keseharian para blogger, influencer, dan content creator, yaitu bagaimana membuat konten yang menarik tanpa terjebak pada informasi yang menyesatkan.

Pada FGD ini juga dibahas tentang aspek hukum serta tanggung jawab influencer dan media terkaita pembuatan content.

Ada beberapa perspektif yang menarik karena datang dari bidang yang berbeda. Salah satunya dari Setiawan Hendra Kelana, Ketua PWI Jawa Tengah, yang membahas Manipulasi Informasi di Era Digital.

Sementara dari sisi penegakan hukum, ada IPDA Dodi Handoko, S.H., M.Kn., Panit 1 Unit 2 Subdit 3 Ditressiber Polda Jawa Tengah, yang membawakan materi “Viral Boleh, Hoaks dan Misleading Jangan” tentang kebijakan penanganan konten hoaks dan misleading serta peran platform digital.





Viral Bukan Satu-satunya Tujuan


Di media sosial kita memang terbiasa mengejar views, likes, engagement, followers, dan traffic. Sebagai content creator, ya wajar saja kalau berharap konten yang dibuat mendapatkan perhatian.

Tetapi ada satu kalimat dari materi Ditressiber Polda Jawa Tengah yang menurut saya sangat menempel di kepala:



“Viral adalah hasil. Akurasi adalah tanggung jawab.”


Nah, ini menarik.

Selama ini kita mungkin lebih sering bertanya, “Bagaimana supaya konten saya viral?”

Mungkin sekarang perlu ditambah satu pertanyaan lagi:

“Kalau konten saya viral, apakah saya yakin isinya benar?”


viral tapi akurat


Informasi di media sosial bisa menyebar dalam hitungan menit. Yang awalnya hanya sebuah unggahan, kemudian di-repost influencer, dikutip media, masuk ke TikTok, Instagram, X, WhatsApp, lalu akhirnya dianggap sebagai fakta oleh banyak orang. Padahal konten awalnya belum tentu benar.




Hoaks dan Misleading Itu Beda



Sebagian besar dari kita sudah cukup familiar dengan istilah hoaks, ye kaaan...

Hoaks adalah informasi palsu atau dibuat-buat. Beda lagi dengan istilah misleading. 

Misleading content ini lebih tricky loh, gaes.  Informasinya bisa saja berangkat dari fakta yang benar. Tetapi fakta tersebut dipotong, dipelintir, atau dilepaskan dari konteks sehingga orang akhirnya mendapatkan kesimpulan yang keliru.

Misalnya, sebuah video lama digunakan untuk menggambarkan kejadian yang baru terjadi. Videonya asli, kejadiannya memang pernah terjadi, tetapi waktunya salah.

Atau sebuah pernyataan tokoh dipotong hanya pada bagian yang paling kontroversial, sementara penjelasan lengkapnya tidak ditampilkan. Akhirnya maknanya berubah.

Jadi, konten misleading tidak selalu dimulai dari kebohongan. Kadang faktanya benar, tetapi konteksnya yang salah.

Menurut saya hal ini perlu menjadi perhatian kita sebagai pembuat konten.




Judul Lebih Heboh Daripada Isinya


Sebagai blogger, saya sangat paham bahwa judul memang penting. Judul harus menarik supaya orang mau membaca. Tetapi ada batas antara membuat judul menarik dengan membuat judul yang akhirnya memberikan kesan berbeda dari isi tulisan. 

Dalam materi tentang misleading, beberapa bentuk yang sering ditemui antara lain clickbait, informasi setengah benar, manipulasi data, out of context, dan manipulasi visual.

Misalnya nih kita menemukan berita dengan judul  “HEBOH! Ternyata…” Lalu setelah dibaca, ternyata kenyataannya biasa saja.

Bisa juga menggunakan foto lama untuk sebuah kejadian baru karena fotonya terlihat lebih dramatis.

Duh, kalau sebagai content creator kita tidak hati-hati, bisa-bisa niat awalnya cuma ingin membuat konten menarik malah ikut membuat orang salah memahami informasi.




“Tapi saya cuma repost…”




Ini juga perlu dipikirkan.

Dalam materi Ditressiber Polda Jawa Tengah, content creator disebut memiliki tanggung jawab atas konten yang dibuat dan disebarkan. Jadi jangan menganggap, “Saya cuma repost” atau “Saya cuma menyampaikan informasi.”

Bahkan ketika kita mengedit sebuah konten, memberikan caption baru, atau menyebarkannya dengan narasi sendiri, kontribusi kita tetap perlu diperhatikan.

Artinya, tombol share ternyata bukan tombol yang bebas konsekuensi. Apalagi kalau kita sudah memiliki audiens yang percaya kepada kita.





Sebelum Posting, Cek Dulu


Setelah mengikuti workshop ini, saya merasa ada kebiasaan sederhana yang perlu diterapkan sebelum membuat atau membagikan konten.
  1. Siapa sumbernya?
  2. Ada datanya?
  3. Konteksnya lengkap?
  4. Foto atau videonya benar-benar berasal dari kejadian tersebut?
  5. Apakah informasi ini sengaja dibuat untuk memancing emosi?

Jangan lupa, cari versi foto atau video yang lengkap, cek kapan dan di mana kejadian sebenarnya berlangsung, cari pemberitaan dari media terverifikasi, serta gunakan reverse image search bila diperlukan.

Sederhana, sebenarnya.

Lihat. Cek. Verifikasi. Baru share.

Bukan sebaliknya: lihat, langsung share, baru kemudian mencari tahu kebenarannya. Hehehe.




Content Creator Juga Harus Menjaga Kepercayaan


Selain soal etika, FGD ini juga membuka wawasan saya tentang aspek hukum. Materi dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah mencantumkan sejumlah landasan hukum yang berkaitan dengan konten digital, antara lain KUHP, UU ITE, UU Pers, PP Nomor 28 Tahun 2025, serta regulasi terkait perdagangan melalui sistem elektronik.


Semua yang dilarang di dunia nyata juga dilarang di dunia maya

Tentu saja, tidak berarti setiap kesalahan informasi otomatis menjadi tindak pidana. Ada banyak hal yang perlu dilihat, termasuk isi konten, bagaimana konten dibuat, siapa yang menyebarkan, serta akibat yang ditimbulkan.

Tetapi bagi saya pribadi, sebelum memikirkan soal hukum, ada satu hal yang rasanya jauh lebih penting, yaitu kepercayaan pembaca. Sebagai blogger, saya membutuhkan kepercayaan pembaca. Begitu juga content creator lainnya. Mendapatkan satu juta views mungkin menyenangkan, tetapi mendapatkan kepercayaan pembaca dan menjaganya bertahun-tahun, menurut saya jauh lebih berharga.

Jadi sekarang, kalau ingin membuat konten yang viral, saya rasa tidak ada salahnya menambahkan satu target lagi. Bukan hanya viral, tetapi juga benar. Viral bisa datang sebentar, sedangkan kepercayaan kita bangun terus-menerus dalm jangka waktu yang lama.

Setelah mengikuti workshop ini, saya semakin percaya bahwa menjadi content creator yang bertanggung jawab jauh lebih penting daripada sekadar menjadi content creator yang paling duluan viral. 😉


Bayangkan seorang pengusaha besar yang setiap harinya harus berpindah dari satu rapat ke rapat lain, menyiapkan presentasi penting, hingga mengawasi jalannya bisnis bernilai miliaran rupiah. Dalam situasi seperti itu, laptop bukan lagi sekadar perangkat elektronik, melainkan bagian dari strategi bisnis. 

maari bsb semarang

Halo ibu-ibu dan teman-teman pembaca setia blog ini, apa kabar semuanya? Semoga selalu dalam keadaan sehat, bahagia, dan penuh semangat dalam menjalani rutinitas harian, ya.

Jangan lupa jaga kesehatan, loh. Terutama yang udah estewe alias setengah tuwa kayak saya hehee... Gerakkan badan meskipun sedikit, penting untuk menjaga jantung tetap berfungsi dengan baik, juga otot selalu dalam kondisi aktif menopang tubuh kita. Jalan kaki, jogging, senam, yoga, dan banyak olahraga lainnya yang bisa kita pilih.

Saya ingat pernah jogging pagi mengitari asrinya area Danau BSB berdua bersama suami. Lumayan jauh dari rumah, tapi FOMO banget pengin ngerasain olahraga di area pinggir danau cantik di ujung barat Kota Semarang ini. Ternyata tidak menyesal sama sekali. Memang secantik itu suasana pagi di seputaran Danau BSB, danau buatan yang digemari banyak warga Semarang untuk berolahraga sembari menikmati pemandangan asri yang menyejukkan hati.

Kuliah di Singapura menjadi pilihan menarik bagi banyak pelajar internasional, termasuk dari Indonesia, yang menginginkan pendidikan berkualitas tinggi di lingkungan yang multikultural. Negara ini dikenal dengan sistem pendidikan yang modern dan universitas-universitas berstandar dunia. 


Selain menawarkan program akademis yang beragam, Singapura juga memiliki fasilitas teknologi canggih dan mendukung inovasi dalam berbagai bidang. Ditambah lagi, lokasinya yang dekat dengan Indonesia menjadikan Singapura pilihan strategis untuk melanjutkan studi tanpa harus jauh dari rumah.

kebun makna

Makin ke sini, makin jarang aja nih saya bepergian. Lamaaa sekali enggak update dengan cerita jalan-jalan maupun jajan. Makanya, begitu bisa mampir ke tempat ngopi yang syahdu, gasss lah saya bagikan ceritanya di sini.

Postingan Lama Beranda

Heart of Uniek Kaswarganti



Halo, saya Uniek, mom blogger dari Semarang yang punya hobi membaca novel, bertukar kartu pos dan membuat kerajinan cross stitch atau kruistik. Blog milik saya ini terbuka untuk kerjasama penulisan. Jika ingin menghubungi saya, silakan langsung klik laman Tentang Saya ini. Terima kasih.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Makan Siang Syahdu View Danau di Maari x Ideologist BSB Semarang
  • Seputar Kuliah di Singapura yang Perlu Kamu Tahu
  • Menjaga Nyala Literasi di Tengah Ujian Bangsa
  • Mampir Ngopi di Kebun Makna Magelang
  • ASUS ExpertBook Ultra, Laptop Premium Pebisnis Sukses
  • [BLOG COMPETITION] Makin Produktif dan Kreatif Bersama Notebook Kesayangan
  • Giveaway : 10th Wedding Anniversary
  • Giveaway - Cinta Produk Buatan Indonesia
  • Giveaway Cerita di Balik Blog
  • Giveaway Aku dan Kamera Ponsel

Trusted Blogger Intellifluence

Intellifluence Trusted Blogger

Seedbacklink

Seedbacklink

Blog's Archive

IBX582A750D7C3FA

Pengikut

Featured Post

Awas, Viral Belum Tentu Benar

Part of
Gandjel Rel Komunitas BP BloggerHub Indonesia

Copyright © Kinsley Theme. Designed by OddThemes