Pernah mendengar atau membaca tentang ngemil bijak?
Coba, siapa yang begitu baca kalimat di atas langsung ngerespon gini :
"Mana ada ngemil kok bijak, ngemil tuh ya udah bebas ajah."
"Ngemil ya ngemil aja, ngapain mikirin soal bijak segala!"
Lalu emosi. Habis biskuit sekaleng nggak kerasa. 😀
Setiap kali membaca artikel tentang perjalanan umroh ataupun haji, hati ini
serasa tergetar hebat. Selain berdoa dan melakukan ikhtiar tanpa henti, aku
jadi teringat saat ibundaku dulu berangkat ke Baitullah menggunakan paket
umroh dari Madinah Iman Wisata (MIW).
Teringat pada tanya si bapak pengelola MIW Semarang ini :
"Mengapa Ibunda dibiarkan berangkat sendiri? Kenapa Mba tidak menyertai
Ibunda?"
Terheran-heran aku membaca salah satu buku yang sempat kubeli karena rasa penasaran. Kecenderungan remaja untuk mencari bahan bacaan melalui salah satu aplikasi di smartphone tentu saja mengundang rasa ingin tahu pada diriku. Penasaran dan ingin mencari tahu letak cacat sastra yang kian lama kian menghantui.
Di masa sebelumnya, orang hendak menerbitkan buku itu harus melalui proses yang bertahap. Dimulai dari mengumpulkan ide, menata alur, menuliskannya dan melamar kesana-kemari agar tulisannya itu bisa diterbitkan.
Beberapa waktu yang lalu, aku pernah mendengarkan keluhan seorang teman
tentang seringnya mendapat telepon maupun SMS tagihan utang dari penyedia
pinjaman online. Dia tak pernah merasa memiliki utang, namun kok rasanya hidup
jadi penuh teror baginya.
Kok bisa gitu?