11 Desember 2025

Oase Unik Itu Bernama Microlibrary Warak Kayu

microlibrary warak kayu

Coba deh, kita bayangkan sebentar. Kita ini kan seringnya pusing mencari tempat yang adem, tenang, dan nggak perlu bayar mahal di tengah kota Semarang yang sudah begini padat. Apalagi kalau sudah menginjak usia matang kayak saya ini, maunya kan yang nyaman, yang bisa bikin hati dan pikiran sedikit lega tatkala mengalami kejenuhan berada di tengah keramaian.

Nah, saya mau cerita nih soal satu tempat nyaman, terutama untuk membaca buku di Kota Semarang. Siapa tau ada dari teman-teman yang tertarik untuk mampir ke sini.




Ini Dia Si ‘Rumah Panggung’ Kota Semarang

Saat pertama kali melihatnya, dijamin deehh.. perhatian kita pasti langsung tersedot pada kecantikan bangunannya. Bentuknya itu lho, unik sekali! 


perpustakaan unik di semarang

Beberapa saat yang lalu saya ke sana bersama seorang teman. Hobi membaca membawa langkah kami ke Microlibrary Warak Kayu yang terletak di Jl. Dr. Soetomo. Ancer-ancernya sebelum RS Kariadi kalau dari Tugu Muda Semarang.

Kita biasa lihat kantor atau ruko kotak biasa, tapi yang ini seperti rumah panggung modern. Seluruhnya dibalut dengan susunan kayu yang artistik. Dia seolah melayang di atas tanah, meninggalkan ruang di bawahnya yang bisa kita pakai untuk berteduh atau sekadar duduk-duduk santai.

Ini bukan sekadar bangunan baru, lho. Perpustakaan mini ini merupakan hasil dari sebuah ide sederhana tapi luar biasa. Kita semua tahu, ya kan, bagaimana susahnya mencari ruang publik yang berkualitas di kota ini, apalagi yang fokusnya literasi. Proyek ini hadir sebagai jawaban, digerakkan oleh semangat untuk menumbuhkan minat baca dengan menyediakan tempat yang benar-benar menarik dan mudah dijangkau.

Enggak perlu bayar loh untuk bisa masuk ke Microlibary Warak Kayu. Yang penting jangan lupa menggunakan kaos kaki saat datang ke sana yaa...



Kisah Kelahiran Sang Warak Kayu

Bangunan ini berada di Taman Kasmaran, memanfaatkan ruang udara yang tadinya kosong. Keren sekali, ya? Jadi, si perpus mini tersebut tidak merampas lahan hijau yang sudah ada. Justru memperindah ruang publik yang sudah ada.

Ide awalnya memang bagian dari gerakan besar Microlibrary Program yang ingin menyediakan ruang baca kecil nan unik di Indonesia. Khusus untuk Semarang, perpustakaan ini dibangun atas kemurahan hati Arkatama Isvara Foundation yang menjadi donatur utama, dan merupakan semacam hadiah bagi Kota Semarang.

Untuk desainnya yang memukau dan berhasil memenangkan penghargaan internasional, kita patut berterima kasih pada tim arsiteknya, yaitu SHAU Architecture and Urbanism. SHAU memang ahli merancang bangunan inovatif dengan konsep berkelanjutan. Mereka bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang yang menyediakan lahan strategis di Taman Kasmaran. Adapun PT Kayu Lapis Indonesia berperan dalam membantu penyediaan dan prefabrikasi kayu bersertifikatnya.

Nama Warak Kayu itu sendiri punya makna mendalam. Kita di Semarang tentu akrab dengan Warak Ngendog, makhluk mitologi yang jadi lambang keberagaman kita. Nah, bangunan ini mencoba mengikat identitas lokal itu warak dengan material utamanya, yaitu kayu.

Tapi yang paling menarik adalah filosofi desainnya, yang penting banget buat kita yang peduli kenyamanan. Coba kita ingat-ingat, Semarang itu kan terkenal panasnya minta ampun. Biasanya, bangunan modern akan menghabiskan banyak listrik untuk AC. Microlibrary Warak Kayu ini justru dirancang melawan kebiasaan itu.

Para arsitek hebat dari SHAU ini merancangnya dengan prinsip bangunan hijau yang mengadaptasi rumah-rumah tropis. Dindingnya itu, loh, dibuat dari susunan balok-balok kayu yang punya celah. Celah-celah inilah kuncinya! Udara jadi bisa bergerak leluasa. Angin sepoi-sepoi dari taman di bawahnya bisa naik ke atas, membuat ruangan di dalam perpustakaan tetap sejuk tanpa harus bergantung pada pendingin ruangan.

Di sini, kita bisa membaca dengan nyaman sambil merasakan semilir angin, nggak perlu takut tagihan listriknya membengkak. Keren, kan?


ruang baca microlibrary warak kayu



Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan

Satu pertanyaan penting nih, apa yang bisa kita dapatkan dengan meluangkan waktu di sana?

Kita ini kan seringnya dikejar rutinitas, urusan sekolah anak, rapat RT, dan berbagai macam drama harian lainnya. Kadang, kita butuh tempat melarikan diri sejenak. Microlibrary Warak Kayu menawarkan pelarian yang berkualitas, yang jauh lebih bermakna daripada sekadar scrolling media sosial.

Menurut saya, ada 4 manfaat yang bisa kita dapatkan dengan mengunjungi Microlibrary Warak Kayu:


1. Kembali ke Akar Literasi

Di tempat ini, kita bisa kembali merasakan sensasi memegang buku fisik, mencium aroma kertas. Ada ketenangan yang berbeda saat kita membalik halaman, sensasi yang hilang saat kita membaca di layar gawai. 


koleksi buku di microlibrary semarang

Sudah waktunya kita kembali menekuni hobi membaca yang mungkin sempat terabaikan. Hentikan sejenak gemerlap dunia maya yang seakan tiada henti mengejar kita untuk selalu menggerakkan jemari di atas gawai.


2. Tempat Nyaman yang Bikin Betah

Begitu kita naik ke lantai dua, suasananya langsung terasa berbeda. Cahaya matahari masuk dengan lembut melalui celah-celah kayu, menciptakan pola bayangan yang indah. 

Tersedia tempat duduk yang nyaman, bahkan ada area berbentuk jaring-jaring yang asyik buat selonjoran sambil membaca. Kita bisa santai seolah berada di teras rumah sendiri, padahal kita ada di tengah kota.


ruang baca yang nyaman

Harap dicatat, untuk jaring-jaring tersebut hanya bisa menampung 1 orang dewasa atau 3 orang anak kecil. Ada aturan tertulisnya di sana demi kenyamanan dan keselamatan pengunjung. Saya sendiri cukup tau diri untuk tidak duduk di sana mengingat beratnya beban hidup. Eh, beban tubuh maksud saya.

 

3. Waktu Berkualitas Bersama Keluarga

Tempat ini juga asyik lho kalau kita ajak anak-anak. Selain mengenalkan mereka pada buku, kita juga bisa menunjukkan keunikan arsitektur dan pentingnya menjaga lingkungan. 

Bakalan jadi pengalaman edukatif yang menyenangkan, bukan sekadar kunjungan biasa. Kita bisa mengajarkan pada anak-anak bahwa membaca itu asyik dan tidak harus berada di bangunan formal kayak perkantoran.


4. Menikmati Kota dari Sudut Pandang yang Baru

Dari dalam Warak Kayu, kita bisa melihat pemandangan Jalan Dr. Soetomo dan taman di bawahnya. Ada ketenangan di dalam, tapi kita tetap merasa terhubung dengan hiruk pikuk di luar. 

Kita merasa terlindungi, tapi tidak terisolasi. Momentum semacam ini membantu kita menemukan kembali rasa damai sambil tetap menjadi bagian dari kota yang kita cintai ini.



Sisi Realistis Kelemahan Microlibary Warak Kayu

Meskipun bangunan dan suasana di Microlibrary Warak Kayu tampil memukau, ada beberapa hal yang yang menurut saya terasa kurang atau menjadi tantangan bagi kita yang berkunjung. Yah, namanya juga ruang publik, tentu ada hal-hal yang perlu kita maklumi.


Masalah Aksesibilitas dan Kapasitas

Menurut saya, hal ini mungkin menjadi tantangan terbesar, terutama bagi kita yang membawa orang tua atau memiliki keterbatasan gerak. Akses hanya menggunakan tangga, sehingga belum sepenuhnya ramah difabel atau bagi lansia. 

Selain itu, sebagai Micro library, kapasitasnya kecil. Di hari libur, tempat ini bisa sangat penuh, membuat kita susah mencari spot tenang.


Keterbatasan Koleksi dan Fasilitas

Dibandingkan dengan perpustakaan besar, koleksi buku di sini lebih sedikit, lebih fokus pada bacaan ringan dan komunitas. Bagi kita yang mencari referensi akademik mendalam, tempat ini kurang ideal. 

Selain itu, waktu operasionalnya yang relatif singkat di sore hari juga membatasi kesempatan kita mampir setelah jam kerja.


Gangguan dari Lingkungan Luar

Desain kayu terbuka yang menjadi kelebihan (sejuk tanpa AC) juga menjadi kelemahan dalam hal ketenangan. Suara bising dari jalan raya masih bisa terdengar jelas di dalam. 

Hal ini saya alami saat membaca di sana. Angin yang bertiup sepoi-sepoi serasa mengayun-ayun mata, jadi rada-rada ngantuk gitu. Liyep-liyep. Namun suara kendaraan yang berseliweran berasa bagaikan gangguan romantisme buku-dan-ngantuk yang sedang saya alami tersebut.

Selain itu, banyaknya lubang udara di perpus mini ini membuat debu mudah sekali masuk. Saya merasakan debu tipis-tipis ada di permukaan meja ketika sedang membaca. Semoga hal ini menjadi perhatian bagi pengelolanya. 


Kurangnya Privasi

Perpustakaan ini dirancang untuk interaksi dan keterbukaan. Kalau kita termasuk tipe pembaca yang benar-benar butuh kesendirian mutlak untuk membaca, suasana terbuka Microlibary Warak Kayu sepertinya kurang pas.



microlibary di semarang



Baca Yuk ke Microlibary Warak Kayu, Semarang

Microlibary Warak Kayu adalah sebuah proyek yang indah, hasil kolaborasi hebat antara donatur Arkatama Isvara Foundation, arsitek SHAU (Suryawinata Haizelman Architecture Urbanism) dan Pemerintah Kota Semarang. 

Microlibary ini tidak diciptakan untuk menggantikan perpustakaan besar, melainkan untuk menjadi titik temu komunitas dan alternatif ruang baca yang menarik.

Kita tetap bisa menikmati nilai plusnya, yaitu arsitektur unik dan suasana yang menyegarkan, asalkan kita datang di waktu yang tepat dan kita sudah siap dengan segala keterbatasannya. Mari kita jaga dan nikmati ruang publik yang keren ini.

Yuk, kapan kalian mau baca ke sini, teman?



-------------

Sumber bacaan:

  • https://www.archdaily.com/936421/microlibrary-warak-kayu-shau-indonesia
  • https://www.voaindonesia.com/a/microlibrary-warak-kayu-curi-perhatian-dunia-/5519514.html

28 komentar:

  1. Bangunan yg unik menambah daya tarik perpustakaan ini ya. Saya belum pernah kesana padahal juga sering lewat sih. Mungkin kalau pas weekday nggak begitu rame ya mbak.

    BalasHapus
  2. Mbaak, cantiknyaa Microlibrary Warak Kayu ini. Bagus desainnya buat jadi rumah juga. Impian yang belum terlaksana ... saya pengen punya rumah panggung dari kayu. Kerennya, dibuat di tengah taman ya.

    BalasHapus
  3. Warak kayu ini unik banget yaa, jadi penasaran pengen coba baca buku disana. Pastinya betah lama-lama yaa.. berasa slow living hal yang gak bisa didapat hiruk pikuknya ketika bekerja. Mudah-mudahan bisa join ksana

    BalasHapus
  4. Fasad bangunan Microlibrary Warak Kayu sangat memukau.
    Berada di taman terbuka di pusat kota, seperti menghimbau anak muda untuk singgah dan kembali membaca buku, ide yang luar biasa.
    Semoga sedikit kekurangnyamanan saat berada di sana bisa dicarikan solusi oleh pengelola.

    BalasHapus
  5. Mengenai jam operasional kayaknya di mana-mana problemnya sama, nih. Jakarta yang semakin banyak perpustakaan bagus aja, jam operasionalnya cuma sampe sore. Akhir pekan banyak yang tutup. Padahal orang-orang yang bekerja juga banyak kan yang ingin ke perpustakaan. Meskipun katanya sekarang mulai ada yang buka sampai malam.

    Kayaknya memang harus mulai dipertimbangkan lebih serius lagi tentang jam operasional. Apalagi sekarang di berbagai wilayah, terurama kota-kota besar, mulai banyak masyarakat yang suka ke perpustakaan.

    BalasHapus
  6. Dulu kalau ke Semarang sering mampir ke Taman Kasmaran. Keren banget sekarang udah ada perpustakaannya. Desain Microlibrary Warak Kayu keren banget, ya, Mbak. Orang yang baru lihat pun dari luar penasaran itu bangunan apa. Bisa jadi alternatif tempat buat baca buku dengan nyaman nih.

    BalasHapus
  7. Tempatnya unik untuk menunjang rasa semangat dengan buku.
    Semoga kedepannya bisa membuat nyaman untuk lansia ya. Terbayang juga soalnya semisal rekan² disabilitas, apakah memudahkan akses mereka?

    BalasHapus
  8. Unik banget konsep dari Microlibrary Warak Kayu ini mbak, mulai dari angin sepoi yang menyeluruh melalui celah kayu sampai area tempat duduk berbentuk jaring, pastinya nyaman buat baca dan merenung yaaah.

    Tapi itu jam operasional emang selalu jadi permasalahan sih, di Bandung juga samaa, ada perpus yang keren, tapi bukanya cuma dari jam 10 sampai jam 3 doang, dipotong j makan siang, hadeh kagok pisan ahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. He em sih, selalu soal jam operasional yaa masalahnya. Semoga ada kebijakan dari pengelolanya agar bisa buka lebih lama lagi.

      Hapus
  9. Widiihh ada Madilog di perpusnya hehe.
    Bangunannya cakep, ternyata yang desain arsitek. Makanya diperhitungkan bener dari segi estetika dan juga kegunaannya ya mbak.
    Baru tahu kalau di Semarang ada makhluk mitologi yang bernama "warak".
    Bentuk bangunan kayu ini emang kek menyatu sama alam ya. Cuma emang di balik itu ada beberapa kelemahan, salah satunya akses naik tangga itu ya. Mungkin perlu dibikin bangunan lain di dekatnya yang diperuntukkan khusus buat yang nggak bisa naik tangga jadi tetep bisa membaca buku2nya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lhooo padahal udah lama si warak ini eksis, Pril. Setiap jelang Ramadan selalu ada pawai dugderan, salah satu ritualnya adalah mengarak si Warak yang sedang ngendog ini.

      Hapus
    2. Owalaaahh. Iya kalau dugderan aku pernah denger, tapi makhluk warak ini baru tahu ini.
      Mantul banget jadi jelang Ramadan bakalan selalu ramai yaa, bisa tu menarik wisatawan juga buat melihat festivalnya ya mbak :D

      Hapus
  10. Menarik banget perpustakaannya. Cuma memang kalau suka yang tenang, kayanya kurang recomended ya, Mbak. Kalau lagi panas sih oke, bisa kena angin. Aku malah kepikiran kalau musim hujan angin gini. Pasti basah juga

    BalasHapus
  11. Aku menyesal sekali belum pernah nyobain ke sini sekalipun pas di Semarang dulu mba, dan sekarang sudah susah karena pulang ke Semarang hanya 1 hari saja. Semoga suatu hari kesampaian mampir ke Microlibrary warak kayu ini hehe

    BalasHapus
  12. Jadi tertarik buat mengunjungi nya...kapan2 klo ke semarang mo mlipir ke sini deh buat liat arsitektur microlibrary warak ini sekaligus merasakan vibes membaca disana..
    Meskipun ada bbrp gangguan setidaknya tempat ini bisa menjadi salah satu lokasi buat melarikan diri dari rumah sambil asik buat membaca..membaca buku dr rumah juga diperbolehkan kan mb? Soalnya td dibilang koleksinya juga gak begitu banyak disana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saat masuk ke area baca, bawaan pribadi harus masuk kotak penyimpanan mbak. Di sana hanya boleh baca buku² koleksi microlibrary aja.

      Hapus
  13. cantik banget Warak Kayu ini, walaupun sekarang baru liat di gambar tapi udah ngebayangin ada aroma kayu, aroma kertas, sama semilir angin kalo baca buku disana

    BalasHapus
  14. Ada banyak koleksi buku ya mba. Pernah mampir di area ini tapi nggak sempat masuk karena bawa balita yang udah lari lari kemana-mana waktu itu. Tempatnya enak buat santai

    BalasHapus
  15. Mau banget.. Kalau nanti pulkam ke kampung mertua mampir ah kesana.. Asyik sepertinya

    BalasHapus
  16. Menarik, ini bisa menjadi tempat "ngadem" yang bikin betah. sejenak refreshing dengan bacaan yang menarik

    BalasHapus
  17. Unik Banget ya perpustakaannya ini dan juga pasti adem banget kalau main ke sana. Jadi penasaran sama koleksi buku ini apa aja dan kalau seandainya ke Semarang kayaknya pengen banget juga bisa mampir ke sini.

    BalasHapus
  18. Menarik sekali konsep bangunannya, saya suka eksteriornya, rapi dan unik ya, sesuai dengan namanya 'Warak kayu'
    tapi sayangnya untuk memasuki ruang baca, pengunjung harus menggunakan tangga, hal yang sulit dilakukan lansia nih

    BalasHapus
  19. Mbaaak... Cantik sekali ini, arsitekturnya unik, ramah lingkungan, konsepnya bisa menarik minat baca anak-anak, pas ini dijadikan pilihan wisata edukasi.

    BalasHapus
  20. Suka banget konsep bangunannya, ramah lingkungan. Cocok banget memang dijadikan salah satu pilihan wisata edukasi buat anak-anak di era liburan saat ini

    BalasHapus
  21. Cantik banget mba....bangunannya, ini sih bakal jadi tempat kesukaan para booklovers untuk menghabiskan waktu berjam-jam dengan buku kesayangannya.

    BalasHapus
  22. Nyaman banget main dan baca buku di Microlibrary Warak Kayu.
    Kalau melihat luasannya, rasanya memang peruntukannya untuk anak remaja yaa.. jadi Microlibrary Warak Kayu semacam hidden escape nyaman buat charging social battery.

    BalasHapus
  23. Unik banget desain bangunannya, menarik pengunjung buat datang ke sana. Saya juga baru dengar soal konsep microlibrary ini, biarpun imut tapi koleksi bukunya cukup bikin pengunjung betah di sana yaa. Banyak dan menarik..

    BalasHapus