Awas, Viral Belum Tentu Benar

Viral boleh hoaks jangan

Sebagai blogger dan content creator, tentu saya senang kalau konten yang saya buat banyak yang membaca, mendapatkan respons, bahkan dibagikan orang lain. Siapa sih yang nggak senang kalau postingannya ramai? 


Beberapa waktu lalu saya mengikuti Focus Group Discussion (FGD) bertema “Viral Boleh, Hoaks Jangan! Efek Hukum Konten Misleading Influencer & Media”. Acara ini membahas sesuatu yang menurut saya sangat dekat dengan keseharian para blogger, influencer, dan content creator, yaitu bagaimana membuat konten yang menarik tanpa terjebak pada informasi yang menyesatkan.

Pada FGD ini juga dibahas tentang aspek hukum serta tanggung jawab influencer dan media terkaita pembuatan content.

Ada beberapa perspektif yang menarik karena datang dari bidang yang berbeda. Salah satunya dari Setiawan Hendra Kelana, Ketua PWI Jawa Tengah, yang membahas Manipulasi Informasi di Era Digital.

Sementara dari sisi penegakan hukum, ada IPDA Dodi Handoko, S.H., M.Kn., Panit 1 Unit 2 Subdit 3 Ditressiber Polda Jawa Tengah, yang membawakan materi “Viral Boleh, Hoaks dan Misleading Jangan” tentang kebijakan penanganan konten hoaks dan misleading serta peran platform digital.





Viral Bukan Satu-satunya Tujuan


Di media sosial kita memang terbiasa mengejar views, likes, engagement, followers, dan traffic. Sebagai content creator, ya wajar saja kalau berharap konten yang dibuat mendapatkan perhatian.

Tetapi ada satu kalimat dari materi Ditressiber Polda Jawa Tengah yang menurut saya sangat menempel di kepala:



“Viral adalah hasil. Akurasi adalah tanggung jawab.”


Nah, ini menarik.

Selama ini kita mungkin lebih sering bertanya, “Bagaimana supaya konten saya viral?”

Mungkin sekarang perlu ditambah satu pertanyaan lagi:

“Kalau konten saya viral, apakah saya yakin isinya benar?”


viral tapi akurat


Informasi di media sosial bisa menyebar dalam hitungan menit. Yang awalnya hanya sebuah unggahan, kemudian di-repost influencer, dikutip media, masuk ke TikTok, Instagram, X, WhatsApp, lalu akhirnya dianggap sebagai fakta oleh banyak orang. Padahal konten awalnya belum tentu benar.




Hoaks dan Misleading Itu Beda



Sebagian besar dari kita sudah cukup familiar dengan istilah hoaks, ye kaaan...

Hoaks adalah informasi palsu atau dibuat-buat. Beda lagi dengan istilah misleading

Misleading content ini lebih tricky loh, gaes.  Informasinya bisa saja berangkat dari fakta yang benar. Tetapi fakta tersebut dipotong, dipelintir, atau dilepaskan dari konteks sehingga orang akhirnya mendapatkan kesimpulan yang keliru.

Misalnya, sebuah video lama digunakan untuk menggambarkan kejadian yang baru terjadi. Videonya asli, kejadiannya memang pernah terjadi, tetapi waktunya salah.

Atau sebuah pernyataan tokoh dipotong hanya pada bagian yang paling kontroversial, sementara penjelasan lengkapnya tidak ditampilkan. Akhirnya maknanya berubah.

Jadi, konten misleading tidak selalu dimulai dari kebohongan. Kadang faktanya benar, tetapi konteksnya yang salah.

Menurut saya hal ini perlu menjadi perhatian kita sebagai pembuat konten.




Judul Lebih Heboh Daripada Isinya


Sebagai blogger, saya sangat paham bahwa judul memang penting. Judul harus menarik supaya orang mau membaca. Tetapi ada batas antara membuat judul menarik dengan membuat judul yang akhirnya memberikan kesan berbeda dari isi tulisan. 

Dalam materi tentang misleading, beberapa bentuk yang sering ditemui antara lain clickbait, informasi setengah benar, manipulasi data, out of context, dan manipulasi visual.

Misalnya nih kita menemukan berita dengan judul  “HEBOH! Ternyata…” Lalu setelah dibaca, ternyata kenyataannya biasa saja.

Bisa juga menggunakan foto lama untuk sebuah kejadian baru karena fotonya terlihat lebih dramatis.

Duh, kalau sebagai content creator kita tidak hati-hati, bisa-bisa niat awalnya cuma ingin membuat konten menarik malah ikut membuat orang salah memahami informasi.




“Tapi saya cuma repost…”




Ini juga perlu dipikirkan.

Dalam materi Ditressiber Polda Jawa Tengah, content creator disebut memiliki tanggung jawab atas konten yang dibuat dan disebarkan. Jadi jangan menganggap, “Saya cuma repost” atau “Saya cuma menyampaikan informasi.”

Bahkan ketika kita mengedit sebuah konten, memberikan caption baru, atau menyebarkannya dengan narasi sendiri, kontribusi kita tetap perlu diperhatikan.

Artinya, tombol share ternyata bukan tombol yang bebas konsekuensi. Apalagi kalau kita sudah memiliki audiens yang percaya kepada kita.





Sebelum Posting, Cek Dulu


Setelah mengikuti workshop ini, saya merasa ada kebiasaan sederhana yang perlu diterapkan sebelum membuat atau membagikan konten.
  1. Siapa sumbernya?
  2. Ada datanya?
  3. Konteksnya lengkap?
  4. Foto atau videonya benar-benar berasal dari kejadian tersebut?
  5. Apakah informasi ini sengaja dibuat untuk memancing emosi?

Jangan lupa, cari versi foto atau video yang lengkap, cek kapan dan di mana kejadian sebenarnya berlangsung, cari pemberitaan dari media terverifikasi, serta gunakan reverse image search bila diperlukan.

Sederhana, sebenarnya.

Lihat. Cek. Verifikasi. Baru share.

Bukan sebaliknya: lihat, langsung share, baru kemudian mencari tahu kebenarannya. Hehehe.




Content Creator Juga Harus Menjaga Kepercayaan


Selain soal etika, FGD ini juga membuka wawasan saya tentang aspek hukum. Materi dari Kantor Wilayah Kementerian Hukum Jawa Tengah mencantumkan sejumlah landasan hukum yang berkaitan dengan konten digital, antara lain KUHP, UU ITE, UU Pers, PP Nomor 28 Tahun 2025, serta regulasi terkait perdagangan melalui sistem elektronik.


Semua yang dilarang di dunia nyata juga dilarang di dunia maya

Tentu saja, tidak berarti setiap kesalahan informasi otomatis menjadi tindak pidana. Ada banyak hal yang perlu dilihat, termasuk isi konten, bagaimana konten dibuat, siapa yang menyebarkan, serta akibat yang ditimbulkan.

Tetapi bagi saya pribadi, sebelum memikirkan soal hukum, ada satu hal yang rasanya jauh lebih penting, yaitu kepercayaan pembaca. Sebagai blogger, saya membutuhkan kepercayaan pembaca. Begitu juga content creator lainnya. Mendapatkan satu juta views mungkin menyenangkan, tetapi mendapatkan kepercayaan pembaca dan menjaganya bertahun-tahun, menurut saya jauh lebih berharga.

Jadi sekarang, kalau ingin membuat konten yang viral, saya rasa tidak ada salahnya menambahkan satu target lagi. Bukan hanya viral, tetapi juga benar. Viral bisa datang sebentar, sedangkan kepercayaan kita bangun terus-menerus dalm jangka waktu yang lama.

Setelah mengikuti workshop ini, saya semakin percaya bahwa menjadi content creator yang bertanggung jawab jauh lebih penting daripada sekadar menjadi content creator yang paling duluan viral. 😉

0 komentar