29 Maret 2015

Impian Mewah Bocah Semarang

kubah Gereja Blenduk
 "Ayo tunjuk angkasa barengan....."

 Menunjuk angkasa bisa dimana saja. Selama bumi masih bisa di pijak, di sanalah angkasa nan biru akan menanti dengan setia.

Sudah pernah menjejak belahan bumi nan cantik bernama Semarang? Kota pantai di bagian utara Jawa ini menyimpan aneka impian mewah bocah Semarang. Cuaca yang panas, berpadu dengan banjir yang siap menghadang manakala hujan.

Kenapa kukatakan ini impian mewah?

Lawangsewu
Pernah mencoba mengintip dari gerumbulan pepohonan yang ada di bundaran Tugu Muda? Di jalan yang akan kusebutkan kepadamu sebagai Jalan Pemuda ini berdiri kokoh bangunan mewah yang mungkin hanya akan bisa kubangun dalam mimpi.

Lawang Sewu atau Thousand Doors ini memang didesain oleh orang luar negeri, C. Citroen. Dibangun mulai dari tahun 1904 dan berdiri menawan pada tahun 1907. Lawang Sewu digunakan sebagai kantor jawatan perkeretaapian (sumber : wikipedia). Gilak banget kan ya kantor kereta api saja semewah itu. 

Banyak yang bilang kalau di sana banyak hantunya. Bagaimana menurutmu kawan? Apakah harus kuhapus impian mewahku ini gara-gara sepenggal informasi tadi?

Nggak deeeh.... impian mewah bocah Semarang yang kumiliki sejak kecil tetap harus kukejar. Mengeksplorasi habis kekayaan kota lunpia ini akan terus kulakukan. Apalagi sekarang pemerintah kota Semarang telah menyediakan fasilitas yang membantu masyarakat Semarang maupun turis luar kota / luar negeri yang ingin menikmati kecantikan Semarang.

asyiknya naik Semarjawi
Sudah tau kah sobat apa itu Semarjawi?

Bustram Semarjawi ini dapat kita naiki hanya dengan membayar tiket Rp. 10.000 di hari biasa dan Rp. 15.000 di hari libur atau week end. Bus yang dikelola oleh Lembaga Swadaya Masyarakat ERTIM Indonesia ini berukuran panjang 7,2 m, lebar 1,3 m; dan tinggi 3,7m. Ala-ala tram di Eropa nih kalau naik bus ini. Ada tingkat duanya segala yang memaksimalkan kita untuk menikmati kecantikan kota Semarang.

Saat naik Semarjawi akan ada pemandu yang memberikan aneka keterangan detail sesuai dengan tempat yang kita lewati saat itu. Para penumpang bus akan dibawa ke masa lalu saat nama tempat ataupun jalan disebutkan dalam nama kunonya. Menarik sekaligus mewah sekali kan naik Semarjawi? Tak perlu jauh-jauh ke Eropa loh untuk menikmati bus merah ;) Kita pun bisa memotret berbagai bangunan eksotik yang ditawarkan Semarang, peninggalan jaman kolonial dulu. Mau pake kamera yang segede paha, sepanjang lengan, kamera saku, bahkan smartphone sekalipun, cantiknya kotaku ini tak terbantahkan.

bagian depan Gereja Blenduk

Rute Semarjawi akan dimulai dari samping bangunan di atas ini. Kurang mewah apa lagi coba impianku untuk menikmati kota tercinta ini. Dari samping Gereja Blenduk, gereja yang memiliki bentuk kubah istimewa ini berada tepat di samping Taman Srigunting yang menjadi start point Semarjawi.

Dari sana kita akan dibawa menyusuri aneka gedung kuno di Jalan Letjen Suprapto, lanjut ke area Johar yang dulunya merupakan pusat kota Semarang. Desain kota ala Belanda dimana pusat pemerintahan berpadu dengan tempat ibadah dan pasar utama ada semua di sini.

Detail kota lama semua orang bisa dapatkan via berbagai search engine. Makin mendekati kenyataan saat impian mewah ala bocah Semarang ini kita kejar melalui kenyataan.

gambar di samping pintu bustram Semarjawi


Dengan Semarjawi kan kukejar impian mewah bocah Semarang ini. Meskipun sampai kini masih mimpi gedung-gedung kuno itu akan menjadi makin 'cling' oleh tangan pemerintah, bukan tak mungkin kan suatu saat Semarang, khususnya kota lama ini akan kembali megah, mewah dan menawan sesuai bentuk asalnya saat dibangung di jaman penjajahan kolonial Belanda. 

Yuuukk yuk temani aku kejar mimpi ini.....

26 Maret 2015

Si Merah di Kebun Belakang

Pagi-pagi selepas mandi biasanya aku suka banget tengok-tengok ke kebun. Ada si merah di kebun belakang lhoooo.... Si merah dambaan semua insan penggemar pedas ;)


Huhuuuyy nggemesin banget ya cabe rawit yang sudah memerah itu... Kalau sudah terlanjur jadi merah seperti ini ya pas banget dibuat sambel saja. Kalau untuk pelengkap makan gorengan sudah terlalu pedas jadinya. 

Cabai rawit yang ada di kebun belakang rumahku ini termasuk kategori yang sering disebut orang dengan julukan 'lombok setan'. Kenapa disebut seperti itu? Apakah ada setan di dalam cabenya? Tentu tidak dooongg.... Saking pedasnya cabai tersebut mungkin yang makan bisa jadi kesetanan gitu kali ya. Kesetanan buat minum segentong buat ngilangin pedesnya hihihiii...

Semua tanaman yang ada di kebun adalah hasil ketekunan ibuku. Beliau gemar sekali menanam aneka jenis tumbuhan di belakang rumah. Cabai rawit ala setan ini menggiurkan sekali loh penampakannya secara keseluruhan.


Masih ingatkah kala harga cabai melambung tinggi dulu? Para penjual makanan sampai harus menyembunyikan bungkus cabai rawitnya dari hadapan pembelinya yang suka maruk mengambil cabai sendiri. Kebalikan banget dengan keluargaku yang bisa mendapatkan belanjaan dengan menukar beberapa genggam cabai ini ke penjual sayur yang sering lewat di kampung kami. Aku masih ingat saat bisa menukar satu papan tempe dengan segenggam lombok setan ini. Hihihiiii... bahagia tiada tara loh.

Sambal korek paling mantap kalau dibuat dari cabai rawit jenis ini. Hmmm.... sambal secobek, nasi panas, dipasangkan dengan tempe dan tahu goreng, ataupun ayam goreng yang lengkap dengan kremesan, dahsyat banget lah tentunya. Hayoooo...dilarang ileran ya membayangkannya ;)

Terpisah dari rimbun pohon cabai rawit ini, masih ada lagi loh jenis cabai lainnya. 


Aduduuuuhh... si merah di kebun belakang satunya ini juga molek nian. Kalau yang ini sih pas banget untuk bumbu aneka masakan seperti sambel goreng dan oseng-oseng. Walaupun bukan selevel cabai keriting yang pedasnya 'ngampleng' itu, si merah ini sangat berperan menghemat uang belanja loh. Kan paling gampang ya bikin oseng, tinggal iris cabai, bawang merah dan bawang putih, dan sreng sreeeeng deh bercampur dengan aneka stok sayuran yang kita punya.

Di rumah juga ada loh aneka sayuran hijau yang siap petik agar majikannya terselamatkan dari kelaparan saat tukang sayur tak lewat di depan rumah. Mau tau?? Tunggu postingan berikutnya dong.

Kalau di kebunmu ada apa aja sih sobat blogger? Bagi sini donk ceritanya, aku mau ngemil bakwan dulu aaaah, pakai cabit rawit yang tadi tentunya. Huh haaah huuh haaaahhh...pedese ndaaaaa....

25 Maret 2015

Manajemen Bosan


Cabut yuuukk....

Udah kayak jaman sekolah aja deh kalau bilang cabut gitu ;)  Beberapa kali memang aku cabut dari kantor sebagai salah satu upaya menegakkan manajemen bosan. Halah apa lagi itu coba?

Berkutat dengan urusan administratif di kantor yang menghabiskan 90% waktu bekerja jelas membutuhkan ketahanan syaraf tersendiri. Apalagi di saat listrik padam, gensetnya kehabisan solar, plus UPS-nya ngadat. Duuuhhh...padahal dokumen setumpuk sudah menjerit-jerit minta untuk segera dimasukkan datanya ke dalam database. Apa coba yang bisa kulakukan kalau sudah seperti itu?

Yang pertama terpikirkan tentu saja memberesi pekerjaan lainnya yang masih bisa dilakukan tanpa bantuan komputer dan berbagai perangkat kerja lainnya yang membutuhkan daya listrik. Memilah-milah dokumen, berdiskusi dengan teman sekantor tentang rencana kerja seminggu, atau bahkan sedikit ngerumpi gituh hihiiii.... Ngerumpiin pak bos ganteng ataupun kemungkinan naik gaji enggak salah kan yaaa ;)

Atau kalau mau lebih sehat, jalan-jalan ke lapangan bisa menjadi salah satu alternatif. Bukan lapangan bola loh. Maksudnya ke area manufaktur nih. Kan kalau kelamaan duduk di dalam kantor saja juga tidak baik. Terlalu sering kena AC tanpa pernah mengeluarkan keringat sepertinya kurang ideal untuk tubuh. Bagi yang tidak bekerja di perusahaan manufaktur, sesekali berjalan ke area terbuka yang tidak ber-AC sudah cukup. Asal jangan keseringan bolak-balik sehari puluhan kali ya jalan-jalannya, bisa dipelototin si boss karena pekerjaan jadi tak kunjung selesai.

Nah, yang cabut tadi apaan dong? Masak digaji malah cabutan gitu... ;)  

Tentunya trik manajemen bosan yang satu ini baru bisa diterapkan bila ada jadwal dinas luar dong. Kadang-kadang jatah setor muka ke instansi terkait maupun perusahaan rekanan itu semacam repetisi yang 'amat sangat menyerap gizi'. Paling juga itu lagi dan ituuuu lagi yang dilakukan. Namun saat kondisi di kantor 'gelap pekat' seperti yang kusebutkan di atas, kunjungan ke tempat yang berbeda bisa jadi obat mujarab membunuh kebosanan loh. Kan ada istilah 'life is never flat' tuh, jadi lumayan lah kalau bisa mengelola waktu kerja dengan dinamika yang tetap terjaga *dhuwur men bosone...

Jadi nggak mati gaya melulu kan kala bosan mendera. Masak tiap kali bosan trus berkicau di sosmed "gue boring banget nih gaes di kantor...". Misal kebaca si bos terus dijawab "gue juga boring banget nggaji loe" kan jadi pengin menghilang dari bumi seketika tuh. Bukankah akan lebih baik jika memanfaatkan alternatif apapun yang ada di kantor biar nggak mati gaya dan performa kerja tetap terjaga.

Yuuuk share tips mengatasi kebosananmu donk sobat blogger, siapa tau bisa juga kupraktekkan dan menjadi alternatif ampuh di kemudian hari.

23 Maret 2015

Apa Mimpi Terhebohmu?

Apa mimpi terhebohmu? Apakah ketemu dengan Pangeran Williams, selfie bareng JK Rowlings, dinner dengan Adam Levine? Ataukah mimpi pengin pergi ke suatu tempat, misalnya Bahama gituh? Mimpi mendapatkan paket honeymoon di Bali, atau tiba-tiba ada yang nawarin perjalanan romantis ke Inggris free bersama pasangan? Maruk banget ya mimpinya hehehee...

Ya namanya juga mimpi kan, di luar kuasa kita lah kapan mimpi itu akan datang. Namun nggak ada salahnya juga saat sadar kita berusaha menuliskan mimpi-mimpi yang melintas di pikiran. Siapa tau saat ada kesempatan yang memang sesuai dengan keadaan, mimpi yang ingin kita jelang itu bisa kita raih. Who knows?

Di postingan tentang Melayang ke Negeri Dongeng aku pernah menuliskan habis-habisan mimpi untuk pergi ke Inggris. Sampai dibela-belain foto absurd banget seperti foto di samping itu biar keliatan seperti Draco Malfoy yang sedang terbang naik Nimbus saat sedang ikutan Quidditch ;) Postingan tersebut untuk ikutan lomba sih, namun apa yang kutuliskan di situ memang benar adanya. Inggris yang telah memukauku sejak kecil memiliki banyak tempat yang ingin kujelajahi. 

Bukan berarti aku tidak cinta negeri sendiri loh. Wong bepergian di dalam negeri saja ya baru ke sedikit lokasi kok. Bahkan menurut beberapa travel blogger dan temen yang suka jalan-jalan, alam Indonesia tak kalah indah dibandingkan dengan negara manca.

Ya, gara-gara setumpuk bacaan karya Enid Blyton mimpi itu tumbuh dengan subur. Enid Blyton dan JK Rowlings membuatku jadi sering membayangkan seandainya bisa naik sapu terbang dan melayang di atas Big Ben. Juga sibuk berkhayal bagaimana seandainya aku bersekolah di asrama putri Whyteleafe tempat Elizabeth Allen terkenal sebagai Si Badung. Tak jarang juga berandai-andai ada di Peterswood, tempat Frederick Algernon Trotteville tinggal. Mereka yang kusebut itu adalah tokoh-tokoh yang ada di buku-buku Enid Blyton, yang setia menemani hari-hari masa kecilku dulu.


Salah satu mimpi yang berkaitan dengan Inggris yang pernah menjadi kenyataan adalah berfoto di box telepon warna merah yang khas Inggris banget itu. Meskipun box teleponnya kosong, untukku sudah gaya banget itu. Pada suatu perjalanan yang kisahnya sangat istimewa untukku, tak lupa kuabadikan momen berharga ini. Foto diambil tahun 2011, masa dimana lokasi box telepon merah ini belum booming untuk sesi pemotretan. Lalu lintas timeline facebook ku tahun itu penuh dengan gaya-gayaan share foto box telepon tadi.  Ada yang tau itu dimana? :)

Bermimpi memang nggak ada salahnya kan ya, apalagi kalau mimpi itu masih rada realistis untuk dijadikan wish list. Bila itu tadi kisah mimpiku, apa mimpi terhebohmu wahai sobat-sobat bloggerku?

Have a nice dream.....  *awan-awan kok dikon ngimpi :p

14 Maret 2015

Ikutan Lomba Lari?

Ikutan lomba lari? Beneran?


Bahkan mungkin ayam pun tak akan berkokok di pagi hari, berganti dengan tawa ngakak saat tau aku akan ikutan lomba lari.

Getir sekali ya tampaknya perumpamaan di atas tadi? Banyak alasan sih kenapa aku bilang seperti itu. Bukannya underestimate pada diri sendiri, namun kondisi fisik dan keseharianku memang bisa dibilang sangat tidak mendukung untuk ikutan lomba lari.

Sebenarnya bukan lomba lari ala Ben Johnson ataupun Florence Griffith Joyner sih (angkatan tahun berapa sih kok taunya atlit lari yang sudah gaek begitu?). Cuma colour fun run yang nantinya pas sedang lari ada acara tabur-taburan tepung berwarna gitu. Ya tapi tetap saja kan harus lari meskipun mau jalan juga tidak ada yang melarang.

Biasa saja kan ya kedengarannya ikutan colour fun run? Bisa jadi biasa saja untuk mereka yang memiliki bobot tubuh ideal dan paling tidak sebulan sekali olah raga. Loh?

Jadi begini sodara-sodara.... ehm ehm.... *baca doa dulu....tabahkan hati....

Sejak lulus kuliah dan harus bekerja mulai tahun 1999 (omg ketauan umurku) bisa dibilang aktivitas fisikku ya hanya seputar berangkat kerja dan pulang ke rumah saja. Jaman masih single sih masih bisa ikutan senam aerobik pukul 17.00 hingga satu jam ke depan. Namun begitu sudah berkeluarga dan punya anak, praktis anggaran biaya dan waktu jauh lebih penting untuk anak-anak.

Lagipula aku ini rombongan penyuka bangun siang pas hari libur. Banyak baca sih artikel-artikel kesehatan maupun parenting yang mengulas manfaat olah raga di pagi hari sembari jalan-jalan bersama keluarga. Tetapi entah kenapa bentangan seprai dan dekapan guling jauh lebih nikmat di hari Minggu. Setiap pagi kan sudah kelabakan menyiapkan keperluan sekolah anak-anak dengan aneka macam kelengkapannya, plus mengurusi diri sendiri yang mau ngantor. Jadi wajar dong satu hari dalam seminggu aku mengganjar diriku sendiri dengan bermalas-malasan selepas sholat Subuh.

Jadi begitulah... berjalan terus bertahun-tahun hingga di akhir tahun 2014 booming banget yang namanya chat di grup whatsapp. Loh, apa hubungannya whatsapp (WA) dengan lomba lari?

Salah satu grup WA yang kuikuti tuh suka sekali membahas tentang lomba lari. Bahkan ada salah satu member grup yang tinggal di luar Jawa dibela-belain latihan khusus dan invest running gear yang komplit agar bisa ikutan Bajak Jakarta, lomba lari besutan Nike yang gaungnya luar biasa di kalangan pencinta lari. Kupikir-pikir ya, gila banget ini orang, wong cuma lari saja loh dibela-belain sampai ke Jakarta. Apa di tempat tinggalnya sana nggak ada tempat lari?

Ternyata tidak cuma dia yang gila, ada lagi member lainnya yang seneng ikutan lomba lari sampai Singapura juga. Udah capek, masih harus bayar mahal, mikirin transport plus nginep plus oleh-oleh juga kan pastinya? Duuuuhh rempong banget ya. Nggak masuk akal banget kalau menurutku ikutan yang seperti itu.Bahkan ada juga yang sampai ikutan trail run, event lari yang lintasannya ambil jalur pegunungan. Gilingaaaann.... top banget deh fisiknya. Aku cuma bisa elus-elus betis yang tiba-tiba berasa perih setiap kali baca pesan di grup itu. Cepet-cepetan lari di Gunung Tambora (Sumbawa) gitu apa enggak 'semplok' kakinya sih? 

Lelakon kehidupan memang tak sesimpel pemikiranku tadi. Seorang teman yang sama-sama tinggal di Semarang mengajak aku untuk ikutan colour fun run yang diadakan oleh salah satu koran lokal. Nah, ngember deh di grup WA penggila lari tadi. Semua menyemangatiku untuk ikutan. Maka babak baru kehidupan berolah raga pun segera dimulai. Tanpa pernah latihan apa-apa, baik jalan santai ataupun lari-lari kecil, aku dan kedua orang temanku yang ada di foto welfie tadi ikutan event lari ini.

Kuat nggak kuat yang penting poto poto duyuuu... Biarpun temanku ada yang menggunakan hape bagus yang bundling dengan smartfren itu, aku nggak mau kalah dong. Meski tanpa tongsis tetap berusaha mengabadikan muka cantik yang tentunya sebentar lagi akan bersimbah peluh, bedak luntur, dan lipstik akan berbaur dengan debu jalanan *yang kepengin nabok tolong antri dulu dengan tertib yaaaa.... Maka tampaklah pemandangan yang menakjubkan. Ada emak-emak ikutan berdesak-desakan dengan peserta lain yang kebanyakan ABG penggila selfie, ngikut selfie / welfie penuh kegembiraan. Anak di rumah belum sarapan saja sampai lupa tuuuhh...

Kalau untukku sih ikutan event ini lebih ke arah fun, lha wong olah raga saja tidak pernah. Tapi deg-degan juga rasanya, apa sanggup ya nanti sampai garis finish. Kalau tidak salah sih jaraknya sekitar 5 kilometer. Jaman masih muda dulu mah 5 kilometer apaaaaaann.... cetek. Tapi dengan over weight hampir 20 kg di masa sekarang, plus tidak pernah olah raga selama bertahun-tahun, jelang colour fun run rasanya dag dig dug juga. Takut ntar kalau pingsan ada yang sanggup gotong gak yaaaa... Malu-maluin banget kan bila kejadiannya seperti itu. 

foto pendukung saja biar ga dibilang hoax
Alhamdulillah, nggak sampai pingsan ternyata. Teknik menggabungkan lari santai dengan jalan nikmat membuatku jadi enjoy (maksudnya lebih banyak jalannya dibandingkan larinya). Paling-paling yang sedikit memalukan ya gara-gara sol sepatuku berulah. Mungkin karena terlalu lama beristirahat dan tidak pernah digunakan, sepatu olah ragaku pun mengalami penurunan fisik. Baru separuh jalur sudah menganga saja tuh depannya.

Mau nggak mau ya terpaksa berhenti di salah satu mini market yang ada di pinggir jalan lah. Beli sandal jepit sekaligus minuman, eeeh...plus jajanan juga ;)  Separuh perjalanan berikutnya sudah tidak bisa lari lagi deh karena menggunakan sandal jepit. 

Peserta lain pada ngeliatin apa enggak? Mungkin pada liat kali ya, tapi the show must go on lah. Medali finisher terlalu sayang untuk dilewatkan meskipun yang dipakai di foto ini ya cuma pinjaman :)  Yang penting sampai garis finish, bisa bangga pada diri sendiri yang ternyata baik fisik maupun mental masih sanggup bertahan menghadapi tantangan kehidupan. Sepatu jebol dan diliatin banyak orang itu sesuatu banget loh. Tidak semua orang sanggup menghadapinya. Kuat kan berarti diriku?

Ada hikmahnya juga kejadian di atas. Semangat olah raga kembali muncul dalam diriku. Suamiku pun turut mendukung. Sepatu jebol tadi diganti dengan sepatu baru merk Nike yang keren. Keren banget lah saat nongkrong setia di rak sepatu gara-gara habis ikutan lari itu sampai sekarang belum pernah lari lagi. Janji untuk olah raga dengan teratur kembali terbentur berbagai kepentingan yang silih berganti berlomba-lomba untuk menempati prioritas utama.

Paling tidak aku sudah pernah ikutan lomba lari. Kalau sobat blogger sendiri gimana?

http://www.smartfren.com/ina/home/

12 Maret 2015

Liburan Keluarga

Sudah lama banget nih rasanya tidak rame-rame pergi untuk liburan keluarga. Si sulung sedang UTS, lagi serius belajar tuh dia (emaknya tetap serius yang lain lah hahaaa...). Penginnya sih setelah dia tes mau liburan gitu. Untuk rencana liburan nanti, adakah teman yang punya informasi tentang tempat liburan yang menarik, promo paket wisata, promo hotel Bali, ataupun tips-tips bermanfaat untuk liburan yang murah meriah?

Pantai Congot, bersama anak, keponakan dan ibu
Sebenarnya tak harus pergi ke tempat yang jauh ya, meskipun dekat-dekat saja asalkan asyik untuk didatangi bersama keluarga ya sudah cukup lah. Dulu pernah boyongan dengan keluarga ke Pantai Congot di Yogyakarta karena lokasinya berdekatan dengan rumah saudara.

Anak-anak senang sekali saat bermain dengan air dan pasir. Walaupun pasirnya tak seindah di Kuta Bali maupun Menjangan Kecil Karimunjawa, namanya anak-anak ya tetap asyik-asyik saja. Bermain pasir bercampur air laut sampai kumel semua tampangnya ;)  


Selain tempat wisata yang asyik, kalau pergi ke luar kota tuh penginnya juga menikmati tempat menginapnya. Namanya juga bawa rombongan komplit dengan krucils, kadang kalau nginepnya di hotel yang hanya full di dalam ruangan saja tuh rasanya terlalu hingar bingar untuk tetangga kamar ;) Jejeritan ala di rumah tentunya tak bakalan bisa hilang begitu saja kan. Yang rebutan segala macam kalau kedua anak berkumpul itu pasti bakalan kejadian. Kalau emak dan bapaknya sih sudah kebal. Kasihan saja dengan tetangga kamar yang harus menanggung derita suara duet cempreng kedua buah hatiku. 

Nah, penginnya sih bisa dapat tempat nginep yang kamarnya bisa menghadap langsung ke alam bebas gitu. Seperti di gambar itu, tiap dua kamar di Tlogo Plantation memiliki gazebo sendiri untuk duduk-duduk. Jadi biar saja anak-anak berlarian di sana sementara ibu bapaknya istirahat *modus

Pernah juga loh aku nekat pergi bareng kedua bocahku tanpa ditemani suami. Ya si ayah sedang ada kerjaan tapi anak-anak sudah ribut saja pengin naik kereta yang rada jauhan dikit. Lumayan lah, jadikan saja liburan keluarga meskipun tanpa ditemani ayah.




Waktu itu pilih naik Kaligung jurusan Tegal, bareng-bareng tuh dengan budhe (kedua kakak perempuanku) plus putra-putrinya. Rameeee.... seruuuuu... Faris, anak keduaku, yang baru kali itu naik kereta, waaahh... nggak ketulungan deh excitednya. Sampai nggak mau tidur. Sibuk jalan-jalan sepanjang gerbong meskipun sudah berkali-kali diminta untuk duduk. Takutnya kan ntar pas kereta berhenti trus dia jatuh karena tidak pegangan. Ya namanya bocah, tak tau lah dia tentang khawatir, tetap loncat sana sini, naik pinggiran tempat duduk sembari meraih-raih segala macam ;)

Jadi, sudah ada rencana liburan keluarga kemana kah teman-teman? Nggak harus yang jauh-jauh, dalam kota juga bisa kan? Yuukk share donk rencana liburannya....

09 Maret 2015

Masa-masa Susah Tidur

Sering sekali loh aku mengalami masa-masa susah tidur, apalagi kalau pas harus menyelesaikan banyak pekerjaan yang dengan sangat terpaksa baru bisa dilakukan setelah anak-anak tidur. Sudah pasti di atas pukul sembilan malam kan. Sesekali meletakkan kepala yang sudah memberat di atas bantal leher milik suamiku, tetap saja mata masih nyalang dan kantuk tak kunjung datang meskipun pekerjaan itu akhirnya sudah selesai.

Ada yang sering mengalami hal inikah? Kalau aku nih ya, kebiasaan ngelembur begitu akhirnya kebablasan sampai sekarang. Kadang tak ada yang dikerjakan pun mata tak kunjung redup.

Biasanya gara-gara apa nih sobat blogger jadi susah tidur? Lagi banyak pikiran? Ada pekerjaan penting yang harus dilakukan besok? Mau ketemu calon mertua? Atau apa lagi nih misalnya? ;)

courtesy : Indah Nuria
Aku jadi ingat nih kejadian susah tidur tapi menyenangkan. Tahun lalu di awal 2014 aku pernah pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan emak-emak blogger di seluruh Indonesia untuk mengikuti suatu event.

Dari Semarang sudah parno banget nanti turun dari bandara / stasiun bareng siapa ke Museum Nasional. Kebetulan ada Mak Ida dari Yogyakarta yang jadwal penerbangannya selisih satu jam lebih lambat dari jadwalku. Beliau akan dijemput oleh seseorang dan diantarkan ke museum. Ihiiiirrr.... lumayan nih nggak jadi tersesat di rimba raya berjudul ibukota ;)

Setiba di museum ternyata sudah banyak emak blogger yang hadir di sana. Senengnyaaaaa ketemu dengan emak-emak blogger yang tadinya hanya kenal lewat blog saja. Etapi kalau sama emak blogger yang ada di foto atas itu rada males sih. Njelehi banget orangnya :)

Meskipun hari itu melakukan perjalanan jauh, plus aneka aktivitas fisik yang lumayan (bungkus-bungkus goodie bag plus gladi resik ala model ternama), ternyata di malam hari aku dan beberapa emak blogger masih saja nglayap. Alasannya sih nganterin Mak Lies beli sandal show buat besok, sandal yang lama patah gara-gara terlalu bersemangat jalannya hihihiii.... Akhirnya malah ngider kemana-mana dan berlaku tak keruan macam begini : 

courtesy : Indah Nuria agaiiiinnn....
Hahahaaa...udah tua gak nyadar umur :)  Berasa masih abegeh aja deh waktu itu. Duh, kok tiba-tiba aku jadi kangen pada kalian yang pasang ekspresi jelek banget itu siiihh....

Selesai jalan-jalan dan makan malam ini bukannya ngantuk, masih lanjut sampai tengah malam ngobrol di rumah Mak Ida di daerah Kalibata. Ngalor ngidul saja sih ngobrolnya. Sempat pijetan mesra juga dengan Mak Elisa Korag sebelum jalan-jalan itu. Tapi Mak Icha dan Mak Indah Nuria nggak ikut nginep di Kalibata.

Satu demi satu emak yang menginap di sana bertumbangan. Mulai dari Mak Noe yang harus ngeloni kedua bocahnya, lanjut Pungky yang memang sejak awal ngobrol matanya udah merem melek kayak apa nggak tauk, lanjut dengan Mak Lies Wahyuni yang suaranya sudah mulai pelan-pelan. Nyonya rumah (Mak Ida) juga sudah tidur. Aku pun cuma bisa 'kethop-kethop' alias mata nyalang tapi nggak ada yang dikerjakan. Henpon saat itu sedang sekarat sinyal, bingung mau ngapain. Mau baca buku kok harus menyalakan lampu, nanti emak-emak yang lain terbangun gimana dooonkk...

Untungnya pagi hari saat perhelatan Srikandi Blogger diadakan, badanku tidak lemas maupun mengantuk meskipun baru bisa merem sekitar pukul dua pagi. Larut dalam rangkaian acara yang campur aduk antara haru biru dan gembira, aku dan semua yang hadir saat itu merasakan the beauty of blogging (pinjam istilah Om Nh).

Beneran nih, masa-masa susah tidur ini membuatku rindu pada kalian lagi. Pada teman kruntelan di Kalibata, pada semua emak keren yang kutemui di sana, pada semua hadirin yang menyatu sejiwa di momen tersebut. Entah kapan bisa bertemu lagi.

* Benarkah kejadian ini terjadi persis setahun yang lalu seperti kata Pungky? Emang bener ya waktu itu tanggal 9 Maret?

06 Maret 2015

Dunia Detlener

Ada yang kepikiran nggak sih untuk menggunakan provider internet tercepat sebagai senjata andalan tiap kali mau posting? Apalagi bagi yang detlener garis keras macam diriku ini hihiiii.... Ih nggak malu ya suka deket-deket detlen kalau nulis? *nanyak diri sendiri loh ini jangan pada sensi yaaaa...

Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan detlener? Beneran nggak ngerti? Seriyeeesss???

Okelah... Detlener itu adalah sekelompok orang dengan tipikal perfeksionis dalam melakukan pekerjaan. Ya menulis, ya masak, ya membersihkan rumah, dan sebagainya. Saking penginnya perfect, sedikit-sedikit kurang pas, harus dibenahi sana-sini. Akhirnya mefet tenggat waktu lah hasilnya. Benar begitu kan para detlener? :)

Aku sering banget mengalami hal seperti ini. Kepengin ikutan banyak lomba nulis di blog, maka bikin lah daftar writing events di blog ini. Kumplit dengan deadline (detlen) nya dengan pertimbangan akan mengerjakan yang detlennya lebih duluan. Kalau posting lebih awal kan lumayan ya bisa dapet viewer yang lebih banyak. Maunya sih gitu, tetapi entah mengapa udah siapin foto narsis di sana sini eeeehh... ketemunya tetep aja postingnya H-1. Ngenes.

Itu masih mending ya kalau bisa publish postingan di menit-menit terakhir detlen berkat provider internet tercepat ataupun dukungan penuh dari PLN, jadi was wes wos langsung submit beres urusannya. Coba aja kalau listrik padam, baterai di laptop sekarat, plus sinyal kembang kempis, beeegghhh... Perjuangan mengumpulkan bahan-bahannya itu loh yang jadi sia-sia. Sakitnya tuh di siniiiii.....

Makanya jangan suka mepet-mepet detlen.... Itu yang sering disampaikan oleh para penyelenggara lomba. Yaaahh... mereka nggak tau sih menggeloranya lompatan adrenalin yang luar biasa, setara dengan para penggila bungee jumping, off road, go kart racing, paralayang ataupun berbagai aktivitas extreme lainnya. Samaaaa tuuuhh... Keberanian detlener itu seakan-akan membuat mereka berada di ujung tanduk.

Sebenarnya sebagai detlener itu banyak sekali suka dukanya loh. Beneeerrr... Jangan dikira ya kalau detlener itu orang yang suka menggampangkan segala sesuatu. Banyak pertimbangan dan pemikiran loh yang dilakukan. Mau tau? Ini dia beberapa di antaranya :
  1. Biar postingan kita berbeda dengan peserta lomba yang lain, intip sana sini lah dulu sebelum nge-draft. Saking banyaknya yang diintip, suka terlena malah komen sana sini dan gayeng membaca postingan orang lain. Sibuk menilai si ini kurang itu dan si itu kurang ini. Begitu tau kekurangan si ini dan si itu, wakwaaaww....detlen udah lewat beberapa menit yang lalu. 
  2. Demi sempurnanya postingan, nggak sip kan ya kalau tidak pakai foto. Jepret ini itu semangat banget pas mau ikutan lomba review buku yang ngasih persyaratan harus ada foto bukunya di postingan tersebut. Udah dibela-belain nih beli ke tobuk dan ngereview secermat mungkin. Ternyata pas mau submit tengah malam jelang detlen baru ngeh kalau harus menyertakan foto buku yang sedang dipegang oleh si buah hati. Yaahhh masak bukunya difoto sama si dedek yang udah pules gituh. Gimana dooonkkk....
  3. Nge-detlen itu beresiko tinggi loh. Masak ya nyiapin postingan sampai tengah malam gitu nggak pake bekal logistik yang memadai. Ada kopi, cemilan, bahkan kalau sudah tak tertahankan lagi terpaksa kencan sama abang mie tek tek depan rumah. Maka problema berat badan maupun kelebihan kalori akan terjadi secara signifikan. Segitunya kan perjuangan detlener?
Sebenarnya masih banyak point-point lainnya, namun untuk menghindari amuk massa secara masif, cukup itu aja deh ya. Mohon untuk tidak buru-buru emosi dan memberikan penilaian yang bisa menyurutkan semangat para detlener. Mari kita tetap saling mendukung satu sama lain dan memberikan semangat yang tiada henti kepada sesama. Ingat kan arti kata yang tercantum di lambang negara? Bukankah kita itu berbeda-beda namun tetap satu jua?

03 Maret 2015

Paket Buntut Emak

Paket buntut emak??? halah opo meneh kuwiii.... ;)

Sering lihat emak-emak yang kemana-mana bawa buntut? Buntut di sini maksudku adalah anak. Kan emak dan anak memang satu paket yang tak terpisahkan to?

Aku sendiri lebih sering menghadiri berbagai event tanpa membawa buntut. Makanya angkat jempol tinggi-tinggi nih kepada mereka, para emak yang menunjukkan kemampuan untuk multi tasking. Ya menjadi ibu, ya bersosialisasi dan mengaktualisasi kemampuan.

Beberapa kali aku mengikuti acara offline blogger maupun penulis dan menyaksikan kemeriahan suasana berkat paket buntut emak ini tadi. 


kunjungan IIDN Semarang ke penerbit Tiga Serangkai, Solo

Pernah ya saat ingin menyaksikan proses naiknya tulisan menjadi buku, aku bergabung dengan rombongan ibu-ibu dari IIDN Semarang yang berangkat ke Solo, menuju ke kantor sekaligus percetakan Tiga Serangkai, penerbit tertua di Jawa Tengah. Sebagian dari ibu luar biasa ini membawa serta bayi dan batita mereka dan tetap mengikuti sesi sharing kepenulisan plus tur percetakan dengan penuh semangat. Padahal mereka harus menyerap materi sembari menggendong anak, sesekali menyusui, bahkan juga harus menidurkan bayinya yang mengantuk. Luar biasa kaaann...

Hebatnya seorang ibu memang tak tertandingi kalau sudah urusan anak. Sejak anak masih dalam kandungan pun banyak cinta yang sudah dicurahkan kepada si jabang bayi. Harus makan terus meskipun mual melanda, menjaga komposisi nutrisi yang masuk ke dalam tubuh, melakukan senam hamil, mempersiapkan nama hingga aneka kebutuhan calon bayinya.

Emak blogger ada nggak nih yang pernah 'harus banget' melakukan sesuatu yang tadinya tidak pernah dilakukan sama sekali sebelum mengalami kehamilan?

Aku pernah loh mengalami yang seperti ini. Tadinya sama sekali nggak doyan susu maupun ikan. Pada waktu hamil anak pertama, mati-matian deh meneguk minuman yang rasanya super eneg itu ;)  Padahal kesini sini baru tau kalau sebenarnya tidak minum susu juga nggak apa-apa asalkan nutrisi terpenuhi. Yaaaa tak apalah, demi anak tercinta apa sih yang enggak :)

Melahap ikan juga sama saja nih. Kalau sekedar ikan air tawar masih sanggup sih aku menikmatinya, tetapi kalau ikan laut?? Masih ingat banget bagaimana aku menyantap aneka ikan dengan tergesa-gesa, asalkan segera masuk perut dan kemudian menghilangkan rasa amisnya dengan mengunyah makanan lain. Hahahaa... lebay banget ya sepertinya. Tapi memang begitu deh perjuangannya untuk mendapatkan nutrisi yang berguna untuk anak yang sedang kukandung. Sadar banget sih soalnya kalau pas enggak hamil pola makanku sungguh berantakan. Biarin deh emaknya body-nya nggak karuan begini asalkan anak-anak yang kulahirkan sehat *mencari pembenaran untuk kesejuta kalinya :)

Sekarang rasanya seneeeeng banget deh setiap kali bisa membawa paket buntut emak ini untuk ikut ketemuan dengan sahabat-sahabatku. Salah satunya ini nih, ketemuan dengan momtraveler Muna Sungkar saat Nadia (putrinya) memberikan hadiah jam tangan untuk Vivi (putriku) yang baru saja berulang tahun. Duuuhh...senengnya. Ngobatin kangen dengan Muna plus Vivi jadi punya teman baru. Semoga saja nanti sampai besar kalian masih terus berteman ya Nak.

quality time paket buntut maknarsis & momtraveler ;)

Nah adakah dari emak blogger yang memiliki pengalaman serupa denganku seperti di atas tadi? Yuuuk share yaaa.....