Buku adalah jendela dunia.
Setuju kan dengan pendapat di atas? Makin banyak kita membaca, makin bervariasi lah dunia yang bisa kita intip warna-warninya. Sebenarnya tak saklek pada kata buku itu sendiri. Apapun yang bisa dibaca tentunya akan mendatangkan manfaat untuk kita *maaf, baca ramalan bintang termasuk gak ya ;)
Jadi ingat anak sulungku yang demen sekali ngejogrok di rumah baca sepulang sekolah. Usut punya usut, meskipun kecil tempatnya, ternyata nyaman sekali penataannya. Tersedia sofa untuk duduk para pengunjung, hamparan karpet bagi yang ingin lesehan, ada juga corner khusus untuk bermain game edukasi melalui 2 buah komputer yang telah disediakan. Wadaw, kok jamanku dulu nggak ada yang model begitu ya?
Masih teringatkah yang hidup di era tahun lima puluhan? *weits.... Pasti gak asing dengan pemandangan model begini :
old fashioned library, pic by credit |
Rapi jali sih penataannya, bangku kerasnya itu yang nggak ku kuuuu... Belum lagi kalau pas nggak sengaja berderit saat kita bergeser untuk berdiri. Langsung dapat tatapan setajam silet ;) Padahal dulu waktu sekolah paling senang berburu Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tau dan karya-karya Enid Blyton lainnya di perpustakaan. Maksud hati ingin menghabiskan waktu istirahat dengan khusyuk membaca novel-novel asyik itu, tapi apa daya. Selain masalah bangku tadi, ruang perpustakaannya panas. Mana ada juga teman-teman yang habis berolah raga juga nongkrong di sana. Zuper aromatic dweeehh...
Sebentar, kira-kira kapan ya terakhir kali aku masuk ke perpustakaan? Kayaknya waktu kuliah dulu deh, udah sekitar 20 tahun yang lalu *oemji tuwir kaleee.... Emang kenyataannya begitu. Dulu kan rajin ke perpustakaan karena membutuhkan berbagai referensi yang mendukung mata kuliah maupun skripsi.
Nah dari fungsi perpustakaan tadi, lantas yang disebut perpustakaan yang ideal itu seperti apa sih? Nggak muluk-muluk tampaknya, yang jelas nggak jauh dari arti perpustakaan itu sendiri. Seperti yang kukutip dari Wikipedia :
Nggak seperti sekarang ya, semuanya serba gampang. Tinggal pencet-pencet dan lihat di layar monitor, kita jadi bisa tau koleksi perpustakaan yang tersedia. Yah, meskipun belum semua menerapkannya sih. Paling tidak di rumah baca yang biasa jadi tempat nongkrong anakku sudah begitu. Itu rumah baca di kampung loh, pastinya yang di kota lebih modern lagi lah ya? ;)
Seram dan horornya suasana perpustakaan yang pernah dialami di masa dahulu (iya, serem banget, perpustakaan isinya buku pelajaran semua sih hehehee....) sepertinya kini sudah mengalami banyak pergeseran. Makin maraknya muda-mudi yang suka dugem ternyata tak menyurutkan muda-mudi yang lain untuk terus giat membuka jendela dunianya melalui membaca aneka buku.
Berbagai ide keren anak muda mulai marak untuk menciptakan tempat baca yang nyaman sekaligus hang out dengan teman-teman tercinta. Emang anak gaol cuma yang biasa 'ngider' di club aja? Pembaca buku juga gaul lho, aneka pengetahuan dikuasai dan secara simultan dilahap. Tuker-tukeran bacaan, memperbincangkan buku baru maupun belajar menulis bisa menjadi kian asyik dan bermanfaat. Nah, pemikiran kreatif itu kemudian ditangkap oleh mereka yang memiliki jiwa bisnis dengan membuat semacam library cafe. Yang model begini ini loh :
Atau yang model begini ?
Wuih, jadi membayangkan yang asyik-asyik, secara hidup di kota kecil gini mana ada library cafe model begitu hehehee... Malah jadi ngelantur kemana-mana deh khayalannya. Ini semua gara-gara enggak kesampaian menikmati perpustakaan nan nyaman di masa kecil. Anak-anak jaman sekarang rugi banget deh kalau tak suka membaca. Berbagai fasilitas bagus sudah tersedia, tinggal duduk dan membaca. Apa sih susahnya? Malah milih kebut-kebutan di jalan raya, gimana sih leeee.... nduuuukk..... *udah kayak nenek-nenek ya? ;)
Giliran nantinya akan makin berkembang fusion antara perpustakaan dengan tempat hangout yang asyik, bisa dipastikan aku akan makin menua dan lebih banyak membutuhkan waktu untuk merawat anak cucu. Udah nggak mungkin lagi berlama-lama nongkrong di perpustakaan toh? Jadi yang paling pas ya sedikit demi sedikit mengerahkan daya upaya untuk mendekatkan perpustakaan di kehidupan sehari-hari. Pilihannya ya yang asyik seperti ini kan? Kursi baca yang empuk, bisa buat senderan, sukur-sukur ntar pas baca-baca novel John Grisham maupun Steve Martini kesukaanku para cucu berbaik hati untuk memijit kakiku yang udah sering pegel-pegel kesemutan. Atau membaca sambil ditemani alunan musik yang lembut dari Dave Koz maupun Kenny G.
Pas banget kan? Pas badan sudah mulai membelot untuk diajak kuat setiap saat, pas tiba gilirannya untuk banyak menikmati waktu luang, dan yang jelas Insya Allah pas rejekinya mendukung tercapainya impian punya perpustakaan pribadi seperti gambar itu tadi. Wuhuuuyyy.... nikmatnya euy berangan-angan ;)
Sebentar, kira-kira kapan ya terakhir kali aku masuk ke perpustakaan? Kayaknya waktu kuliah dulu deh, udah sekitar 20 tahun yang lalu *oemji tuwir kaleee.... Emang kenyataannya begitu. Dulu kan rajin ke perpustakaan karena membutuhkan berbagai referensi yang mendukung mata kuliah maupun skripsi.
Nah dari fungsi perpustakaan tadi, lantas yang disebut perpustakaan yang ideal itu seperti apa sih? Nggak muluk-muluk tampaknya, yang jelas nggak jauh dari arti perpustakaan itu sendiri. Seperti yang kukutip dari Wikipedia :
Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.Fungsi utamanya lah yang membuat perpustakaan itu menjadi primadona dari masa ke masa, melewati masa-masa suramnya hingga kini telah menjelma ke dalam bentuk baru. Dulu susah sekali saat ingin tau koleksi buku apa saja yang dimiliki perpustakaan sekolah, tempatku menghabiskankan waktu. Juga masih kurangnya perawatan dan pendampingan bagi para pengguna perpustakaan sekolah. Kayaknya kemarin baru lihat seri Si Kembar Di St. Clare pada rak sebelah sono, eeee... begitu mau pinjam kok sudah tidak ada di tempatnya. Ditanyakan ke pustakawannya, malah cuma dapet jawaban enggak enak : Kalau nggak ada di situ ya berarti lagi dipinjem. Begh, iya kalau dipinjam, nah kalau hilang gimana dong? *urut dada ayam
Adapun perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).
Nggak seperti sekarang ya, semuanya serba gampang. Tinggal pencet-pencet dan lihat di layar monitor, kita jadi bisa tau koleksi perpustakaan yang tersedia. Yah, meskipun belum semua menerapkannya sih. Paling tidak di rumah baca yang biasa jadi tempat nongkrong anakku sudah begitu. Itu rumah baca di kampung loh, pastinya yang di kota lebih modern lagi lah ya? ;)
Seram dan horornya suasana perpustakaan yang pernah dialami di masa dahulu (iya, serem banget, perpustakaan isinya buku pelajaran semua sih hehehee....) sepertinya kini sudah mengalami banyak pergeseran. Makin maraknya muda-mudi yang suka dugem ternyata tak menyurutkan muda-mudi yang lain untuk terus giat membuka jendela dunianya melalui membaca aneka buku.
Berbagai ide keren anak muda mulai marak untuk menciptakan tempat baca yang nyaman sekaligus hang out dengan teman-teman tercinta. Emang anak gaol cuma yang biasa 'ngider' di club aja? Pembaca buku juga gaul lho, aneka pengetahuan dikuasai dan secara simultan dilahap. Tuker-tukeran bacaan, memperbincangkan buku baru maupun belajar menulis bisa menjadi kian asyik dan bermanfaat. Nah, pemikiran kreatif itu kemudian ditangkap oleh mereka yang memiliki jiwa bisnis dengan membuat semacam library cafe. Yang model begini ini loh :
![]() |
Cafe Buku Tara di Sunter, Jakarta |
dapet kopi gratis bila beli buku USD 11 (asli di sononya ya, kagak pake dikonversi ke rupiah) ;) |
Giliran nantinya akan makin berkembang fusion antara perpustakaan dengan tempat hangout yang asyik, bisa dipastikan aku akan makin menua dan lebih banyak membutuhkan waktu untuk merawat anak cucu. Udah nggak mungkin lagi berlama-lama nongkrong di perpustakaan toh? Jadi yang paling pas ya sedikit demi sedikit mengerahkan daya upaya untuk mendekatkan perpustakaan di kehidupan sehari-hari. Pilihannya ya yang asyik seperti ini kan? Kursi baca yang empuk, bisa buat senderan, sukur-sukur ntar pas baca-baca novel John Grisham maupun Steve Martini kesukaanku para cucu berbaik hati untuk memijit kakiku yang udah sering pegel-pegel kesemutan. Atau membaca sambil ditemani alunan musik yang lembut dari Dave Koz maupun Kenny G.
Pas banget kan? Pas badan sudah mulai membelot untuk diajak kuat setiap saat, pas tiba gilirannya untuk banyak menikmati waktu luang, dan yang jelas Insya Allah pas rejekinya mendukung tercapainya impian punya perpustakaan pribadi seperti gambar itu tadi. Wuhuuuyyy.... nikmatnya euy berangan-angan ;)