Tampilkan postingan dengan label blog contest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blog contest. Tampilkan semua postingan

14 Maret 2015

Ikutan Lomba Lari?

Ikutan lomba lari? Beneran?


Bahkan mungkin ayam pun tak akan berkokok di pagi hari, berganti dengan tawa ngakak saat tau aku akan ikutan lomba lari.

Getir sekali ya tampaknya perumpamaan di atas tadi? Banyak alasan sih kenapa aku bilang seperti itu. Bukannya underestimate pada diri sendiri, namun kondisi fisik dan keseharianku memang bisa dibilang sangat tidak mendukung untuk ikutan lomba lari.

Sebenarnya bukan lomba lari ala Ben Johnson ataupun Florence Griffith Joyner sih (angkatan tahun berapa sih kok taunya atlit lari yang sudah gaek begitu?). Cuma colour fun run yang nantinya pas sedang lari ada acara tabur-taburan tepung berwarna gitu. Ya tapi tetap saja kan harus lari meskipun mau jalan juga tidak ada yang melarang.

Biasa saja kan ya kedengarannya ikutan colour fun run? Bisa jadi biasa saja untuk mereka yang memiliki bobot tubuh ideal dan paling tidak sebulan sekali olah raga. Loh?

Jadi begini sodara-sodara.... ehm ehm.... *baca doa dulu....tabahkan hati....

Sejak lulus kuliah dan harus bekerja mulai tahun 1999 (omg ketauan umurku) bisa dibilang aktivitas fisikku ya hanya seputar berangkat kerja dan pulang ke rumah saja. Jaman masih single sih masih bisa ikutan senam aerobik pukul 17.00 hingga satu jam ke depan. Namun begitu sudah berkeluarga dan punya anak, praktis anggaran biaya dan waktu jauh lebih penting untuk anak-anak.

Lagipula aku ini rombongan penyuka bangun siang pas hari libur. Banyak baca sih artikel-artikel kesehatan maupun parenting yang mengulas manfaat olah raga di pagi hari sembari jalan-jalan bersama keluarga. Tetapi entah kenapa bentangan seprai dan dekapan guling jauh lebih nikmat di hari Minggu. Setiap pagi kan sudah kelabakan menyiapkan keperluan sekolah anak-anak dengan aneka macam kelengkapannya, plus mengurusi diri sendiri yang mau ngantor. Jadi wajar dong satu hari dalam seminggu aku mengganjar diriku sendiri dengan bermalas-malasan selepas sholat Subuh.

Jadi begitulah... berjalan terus bertahun-tahun hingga di akhir tahun 2014 booming banget yang namanya chat di grup whatsapp. Loh, apa hubungannya whatsapp (WA) dengan lomba lari?

Salah satu grup WA yang kuikuti tuh suka sekali membahas tentang lomba lari. Bahkan ada salah satu member grup yang tinggal di luar Jawa dibela-belain latihan khusus dan invest running gear yang komplit agar bisa ikutan Bajak Jakarta, lomba lari besutan Nike yang gaungnya luar biasa di kalangan pencinta lari. Kupikir-pikir ya, gila banget ini orang, wong cuma lari saja loh dibela-belain sampai ke Jakarta. Apa di tempat tinggalnya sana nggak ada tempat lari?

Ternyata tidak cuma dia yang gila, ada lagi member lainnya yang seneng ikutan lomba lari sampai Singapura juga. Udah capek, masih harus bayar mahal, mikirin transport plus nginep plus oleh-oleh juga kan pastinya? Duuuuhh rempong banget ya. Nggak masuk akal banget kalau menurutku ikutan yang seperti itu.Bahkan ada juga yang sampai ikutan trail run, event lari yang lintasannya ambil jalur pegunungan. Gilingaaaann.... top banget deh fisiknya. Aku cuma bisa elus-elus betis yang tiba-tiba berasa perih setiap kali baca pesan di grup itu. Cepet-cepetan lari di Gunung Tambora (Sumbawa) gitu apa enggak 'semplok' kakinya sih? 

Lelakon kehidupan memang tak sesimpel pemikiranku tadi. Seorang teman yang sama-sama tinggal di Semarang mengajak aku untuk ikutan colour fun run yang diadakan oleh salah satu koran lokal. Nah, ngember deh di grup WA penggila lari tadi. Semua menyemangatiku untuk ikutan. Maka babak baru kehidupan berolah raga pun segera dimulai. Tanpa pernah latihan apa-apa, baik jalan santai ataupun lari-lari kecil, aku dan kedua orang temanku yang ada di foto welfie tadi ikutan event lari ini.

Kuat nggak kuat yang penting poto poto duyuuu... Biarpun temanku ada yang menggunakan hape bagus yang bundling dengan smartfren itu, aku nggak mau kalah dong. Meski tanpa tongsis tetap berusaha mengabadikan muka cantik yang tentunya sebentar lagi akan bersimbah peluh, bedak luntur, dan lipstik akan berbaur dengan debu jalanan *yang kepengin nabok tolong antri dulu dengan tertib yaaaa.... Maka tampaklah pemandangan yang menakjubkan. Ada emak-emak ikutan berdesak-desakan dengan peserta lain yang kebanyakan ABG penggila selfie, ngikut selfie / welfie penuh kegembiraan. Anak di rumah belum sarapan saja sampai lupa tuuuhh...

Kalau untukku sih ikutan event ini lebih ke arah fun, lha wong olah raga saja tidak pernah. Tapi deg-degan juga rasanya, apa sanggup ya nanti sampai garis finish. Kalau tidak salah sih jaraknya sekitar 5 kilometer. Jaman masih muda dulu mah 5 kilometer apaaaaaann.... cetek. Tapi dengan over weight hampir 20 kg di masa sekarang, plus tidak pernah olah raga selama bertahun-tahun, jelang colour fun run rasanya dag dig dug juga. Takut ntar kalau pingsan ada yang sanggup gotong gak yaaaa... Malu-maluin banget kan bila kejadiannya seperti itu. 

foto pendukung saja biar ga dibilang hoax
Alhamdulillah, nggak sampai pingsan ternyata. Teknik menggabungkan lari santai dengan jalan nikmat membuatku jadi enjoy (maksudnya lebih banyak jalannya dibandingkan larinya). Paling-paling yang sedikit memalukan ya gara-gara sol sepatuku berulah. Mungkin karena terlalu lama beristirahat dan tidak pernah digunakan, sepatu olah ragaku pun mengalami penurunan fisik. Baru separuh jalur sudah menganga saja tuh depannya.

Mau nggak mau ya terpaksa berhenti di salah satu mini market yang ada di pinggir jalan lah. Beli sandal jepit sekaligus minuman, eeeh...plus jajanan juga ;)  Separuh perjalanan berikutnya sudah tidak bisa lari lagi deh karena menggunakan sandal jepit. 

Peserta lain pada ngeliatin apa enggak? Mungkin pada liat kali ya, tapi the show must go on lah. Medali finisher terlalu sayang untuk dilewatkan meskipun yang dipakai di foto ini ya cuma pinjaman :)  Yang penting sampai garis finish, bisa bangga pada diri sendiri yang ternyata baik fisik maupun mental masih sanggup bertahan menghadapi tantangan kehidupan. Sepatu jebol dan diliatin banyak orang itu sesuatu banget loh. Tidak semua orang sanggup menghadapinya. Kuat kan berarti diriku?

Ada hikmahnya juga kejadian di atas. Semangat olah raga kembali muncul dalam diriku. Suamiku pun turut mendukung. Sepatu jebol tadi diganti dengan sepatu baru merk Nike yang keren. Keren banget lah saat nongkrong setia di rak sepatu gara-gara habis ikutan lari itu sampai sekarang belum pernah lari lagi. Janji untuk olah raga dengan teratur kembali terbentur berbagai kepentingan yang silih berganti berlomba-lomba untuk menempati prioritas utama.

Paling tidak aku sudah pernah ikutan lomba lari. Kalau sobat blogger sendiri gimana?

http://www.smartfren.com/ina/home/

Read More »

06 Februari 2015

Berdamai dengan Diri Sendiri

Pergi terus.... nyari duit teruuuuss...

Kapan di rumahnya? Kerja melulu, anak-anak nggak keurus.

credit
Hedewww... Nggak dulu enggak sekarang, komen-komen di atas masih sering kudengar. Bahkan tetangga ada yang terang-terang suka berbasa-basi dengan kalimat di atas. Penginnya sih marah ya. Sudah capek seharian di kantor, ketemu tetangga sekelebat saja doremifasolasi-nya fals banget gitu.

Tetapi kayaknya malah menghabiskan energi dan merusak mood deh kalau diladeni. Soal ngurus keluarga kan gak perlu laporan kemana-mana ya. Kuanggap saja memang hanya itu kosa kata yang dimiliki tetanggaku untuk mencoba mengakrabkan diri denganku.

Perdebatan panjang SAHM dan ibu bekerja bukan topik yang akan kubahas kali ini. Aku sudah pernah menjadi SAHM dalam salah satu kurun perjalanan hidupku. Karena satu dan lain hal, sampai sekarang aku masih bekerja di luar rumah, plus melakukan aktivitas lainnya selain urusan pekerjaan formal. Meskipun skala prioritas sering tumpang tindih, aku bahagia sekali karena berhasil berdamai dengan diri sendiri

Selama ini kebanyakan teman sekolah, kuliah, bekerja dan sahabat dunia mayaku taunya aku ini orangnya 'koplak', antagonis dan tak pernah bersedih. Namun pernah dalam suatu masa aku mengalami fase hidup terberat. Ya walaupun sekarang juga masih banyak masalah, tetapi bisa terasa ringan karena aku sudah sanggup berdamai dengan diri sendiri. Tidak seperti yang tergambar di tulisan ini, masa-masa di mana ekspektasiku terlalu besar pada sesuatu dan seseorang. Tahap dimana aku men-Tuhan-kan yang tidak sepatutnya kuagung-agungkan :(

Namun aku kian bersyukur pernah menghadapi masalah berat itu. Aku jadi paham betapa tak ada artinya uang dan pekerjaan bila kita tak mampu menikmati hidup dan bermanfaat untuk orang lain. Dulu dari jam 7 pagi hingga hampir jam 9 malam semestaku hanya berada di lokasi pekerjaan. Tak ada waktu untuk teman, tak ada kesempatan untuk bercengkerama dengan keluarga. 

Aku bersyukur tiada henti. Bahkan sampai saat ini aku terus berterima kasih pada rencana indah yang Allah berikan padaku. Seperti halnya rencanaNya untuk setiap makhlukNya. Melalui perjalanan panjang meniti hidup, pindah pekerjaan kesana kemari, hingga kini aku sudah menemukan yang sepertinya pas banget dengan segalanya.

Pas duit habis, pas transferan masuk.
Pas lagi hectic urusan sosmed, pas kerjaan low season *plaaakk...

Di tempat kerja yang sekarang, yang penting pekerjaan beres. Meskipun masih terpaku pada jam kerja, aku tidak lagi harus seperti pekerja romusha yang ibarat hape kehabisan baterai sebelum di-charge dan power banknya belum sempat di-charge juga ;) Hiruk pikuk manusia dan tekanan kerja yang tinggi sudah tak terasa lagi karena aku sudah mampu berdamai dengan diri sendiri. Walhasil hati senang walaupun tak punya utaaangg :p

Jam kerja yang tak sesadis dulu membuatku bisa menambah quality time dengan keluarga tercinta dan teman-teman. Bahkan ada hari tertentu dimana booking jatah cuti kupersiapkan untuk satu event bersama teman-teman.


 bisa jalan-jalan sembari ngajak Vivi ke penerbit Tiga Serangkai di hari kerja ;)
bisa punya waktu berfoto narsis bareng Faris ;)


me time bersama teman2


Bahkan di antara padatnya pekerjaan kantor dan hobi ngalor ngidul itu, aku masih bisa jualan online yang memang sudah kutekuni sejak tahun 2009 dulu. Kecil-kecilan sih, tapi hanya di situlah aku bisa merasakan jadi bos untuk diri sendiri hihihiii.... Jualan bros, bandana, taplak meja, sarung henpon, ikat pinggang dan aneka aksesoris lainnya berbahan dasar benang rajut. Hasil karya kakakku ini alhamdulillah sudah berhasil kujualkan kemana-mana bahkan hingga ke luar Jawa. Ada yang mau pesan kah? Hawa ngelapak sudah mendarah daging nih. Bukankah ada kata-kata bijak : gelar sarjana itu perlu, tapi gelar dagangan jauh lebih penting ;) Sempat kubuatkan blog juga nih jualanku, menggunakan brand BC Collection. Namun pesanan offline dan via Facebook sepertinya membuat pemilik blog hobi banget pelihara laba-laba di sana ;)

Jadi kira-kira masih pantaskah saat ini aku bertarung dengan segala perasaan negatif yang muncul seperti contoh di awal postingan tadi? Enggak kaaannn... Selalu akan ada perasaan tersinggung, marah, didzolimi dan sebagainya manakala kita tak bisa menciptakan kedamaian di hati kita sendiri. Masih banyak pilihan dan hal positif untuk dilakukan selain mengasihani diri sendiri yang bikin nyesek hati. Setuju?



love you all....


Read More »

30 Januari 2015

Traveling Gratis Melalui Perjalanan Bisnis

Aku : Aku pengin banget liat Black Forest loh.
Dia : Di toko roti kan banyak. Gak cuma bisa diliat, dibeli pun bisa.

Ada apa sih sebenarnya dengan black forest?

Jadi begini..... pemirsaaahh.... *Thukul's style

Black Forest yang kumaksud ini bukan makanan, tetapi nama sebuah tempat di Baden-Wurttemberg (Jerman bagian tenggara)

http://www.postcards.uniekkaswarganti.com/2014/11/black-forest-on-my-mind.html

Di postinganku Black Forest on My Mind kutulis Black Forest alias Schwarzwald disebut begitu karena banyaknya pepohonan Pine yang berwarna abu-abu dan coklat gelap tumbuh di sana.Pertama tau Black Forest saat ngobrol dengan Bernd Hoffman kolegaku di Jerman. Dia bilang sayang sekali sudah sampai Jerman kok enggak ke sana. Bikin mupeng sekaligus frustasi deh rasanya. Tahun 2005 dulu itu ga sempet berwisata. Full urusan pekerjaan. 

Setelah sepuluh tahun berlalu, rasanya bakalan asyik nih bisa traveling gratis melalui perjalanan bisnis. Mohon dimaklumi, aku ini bukan traveler yang pinter menyusun itenerary. Bisanya yang gretongan aja sekalian perjalanan dinas *pelitnyoooo....

Dulu saat mengurus visa Schengen ke Jakarta rasanya seperti terdampar di planet Mars. Aku kan parno metropolitan. Pake layanan jemput dan antar boooo... Padahal dari Gambir ke kedutaan kan deket. Di kedutaan liat ada yang diinterview pake Bahasa Jerman, langsung panik deh. Di kemudian hari baru tau bahwa interview dengan Bahasa Jerman itu karena pemohon visa mau kuliah di sana.

Kami bertujuh yang ke Jerman terdiri dari bos, keluarganya dan aku. Aku dan boss mau urus pekerjaan, sedangkan keluarganya keliling Eropa untuk shopping dan jalan-jalan. Indah banget yaaa... Adil banget kan? ;)

Yaaaa lumayan lah bisa ikut menikmati udara Eropa. Bisa lihat bandara Frankfurt, naik ICE yang di desaku nggak ada, bisa nyicipin Amsterdam dan wisata sungainya (waktu itu mampir sebentar ke Belanda), sekaligus merasakan kangen nasi+sambal tempe setelah 10 hari berkeliaran sepanjang Frankfurt-Hamburg.

Biar bisa ke sana lagi apa aja nih persiapanku?
  • Menaikkan traffic penjualan ekspor ke Eropa. Standar Eropa memang tinggi sekali dan barang rawan claim. Untuk mengecek kebenaran claim kan harus lihat langsung ke warehouse pembeli, beneran barang dari pabrikku apa enggak. Bisa nangkep point yang berusaha kusampaikan? ;)*karyawan teladan berbulu domba
  • Memperbaharui paspor dan menyiapkan mental untuk urus visa lagi ke Jakarta. Kapan sih kedutaan buka cabang di Semarang? :p
  • Dulu tidak kepikiran bawa kamera. Sekarang udah punya kamera sendiri, lumayan bagus. Kelemahannya cuma 1 : Udah koit. 4 bulan yang lalu kameraku jatuh saat posisi lensanya sedang zooming. Layar LCDnya langsung blank, putih bergaris seperti gambar ini. Mau beli lagi masih belum bisa move on. Mau dibenerin ternyata ongkosnya hampir sama dengan harga kameranya.
si orange yang hancur lebur :'(

Makanya,butuh banget nih kamera untuk dokumentasi perjalanan dan belajar fotografi. Kamera digital pocket/prosumer yang zoomnya bisa sampe 30x cocok buat aku yang senang mengabadikan ekspresi seseorang tapi nggak punya cukup nyali untuk ngadepin resikonya. Kalau pakai kamera yang seperti ini kan bisa ambil gambar dari jauh tanpa resiko ketauan hihihiii....

Doain aku bisa traveling gratis melalui perjalanan bisnis plus ada rejeki dapet kamera yaaaa. Semoga doanya diijabah dan dibalikin berlipat ganda kebaikannya.Aamiin....
Read More »

24 Januari 2015

Haruskah Mahal Agar Menjadi Istimewa?

"Liat donk kado yang kuberi pada pacarku, cincin bertatahkan berlian boooo..."

"Haisshh...baru segitu sudah sombong. Gue donk, villa seluas 2 hektar aja bakalan gue kasih ke pacar gue tersayang."

Widiiwww... suka denger 'gedabrusan' alias obrolan melayang tinggi gitu gak siiihh... Aku sering banget gemeteran loh kalau denger yang begitu. Villa 2 hektar.... coba aja tuh berapa duitnya. Hiiiy...ngeriiiyyy... 

Pemberian atau kado kita kepada orang lain, haruskah mahal agar menjadi istimewa

Memang sih banyak barang spesial yang mengharuskan kita menebusnya dengan harga lumayan tinggi. Namun saat kantong sedang sobek memilukan dan pengiiiiinnn banget ngasih kado terindah untuk samwan spesyel gimana dooonkkk....

Aku punya nih samwan, bukan orang tua, saudara, suami ataupun anak. Bahkan bisa dikatakan tidak kenal sama sekali sebelumnya. Looohh... piye kuwi maksude?

Jadi begini..... *pake gaya story teller paling ngetop sekamar mandi :D

Sudah sekitar dua tahunan ini aku punya hobi baru : tuker-tukeran kartu pos. Sebenarnya dari kecil sudah hobi kirim-kiriman surat. Namun rupanya kemajuan teknologi berkirim pesan seakan menghajar habis kenikmatan proses komunikasi era kertas dan bolpen. Ada seonggok personal touch yang makin tergerus oleh fasilitas teknologi yang makin memanjakan kita. Maka, menjauhlah diriku dari kedekatan personal dengan teman-teman di seberang lautan, yang sebenarnya bisa saja membawa banyak kabar bahagia dibandingkan surat elektronik yang rata-rata malah membawa kabar nestapa. Yang jatuh tempo tagihan lah, buyer membatalkan order lah, komplain dari customer, penolakan naskah, pokoknya sesuatu yang ANDA BELUM BERUNTUNG gitu deeehh....

Nah, dunia lain yang bernama swapping postcards alias tuker-tukeran kartu pos inilah yang bisa menjembatani antara realitas kehidupan dan keinginan untuk di-accept secara personal. (jan-jane ngopo to ket mau nggaya banget sok filosofis nulise)  Meski metode pengiriman tidak menggunakan jasa kurir handal, namun kirim-kiriman yang lebih dikenal sebagai snail mail ini asyik banget.

Di antara sekian banyak teman bertukar kartu itu, ada seorang ibu bernama Birgit dari Althena (Jerman) yang entah mengapa jadi begitu dekat. Saat aku kepengin banget mendapatkan kartu pos bergambar Black Forest (bukan roti looohh... ada di sini nih ceritanya) dengan usaha yang gigih dia mendapatkannya di Ebay untukku. Huhuuuu... I love her so much. Dudu sanak dudu kadang, tetapi Birgit telah menguarkan aura hangat dan kekeluargaan dari jarak ribuan kilometer.

Lalu apa donk kado terindah untuk samwan spesyel seperti Birgit ini?

kartu posku di kotak pos Birgit
Sempat kuceritakan di sini tentang kado terindah itu. Hanya selembar kartu pos bergambar wedang teh susu jaheee.... Yang membuat lembaran kartu pos itu menjadi amat indah adalah manakala seorang ibu di daratan Eropa itu penasaran sekali mencoba resep wedangnya. Recipe postcard memang mencantumkan bahan dan urut-urutan pembuatannya di bagian belakang.

Birgit menceritakan bagaimana dia harus pergi keluar kota untuk belanja sereh / serai yang menjadi salah satu bahan Ginger Milk Tea tadi. Walaaahh... lha wong di kebun belakang rumahku saja ada, ngapain sih jauh-jauh pergi ke luar kota, jeng? *ploookk.... kapyuk ampas teh :)

Sungguh membuatku merasa diistimewakan saat Birgit dengan ceria menceritakan keberhasilannya membuat wedang teh susu jahenya yang pertama dan bilang kalau minuman itu enaaakkk sekali.


Jadi kembali lagi ke pertanyaan semula, haruskah mahal agar menjadi istimewa? Enggak kaaannn.... Kado terindah itu ya yang bisa membawa manfaat meskipun harganya ra mbejaji ;) (red : harganya tak seberapa). Salah satu manfaatnya ya itu tadi, menuntun seseorang ke jalan yang benar halaaaahh... Birgit, ibu dari seorang jejaka ganteng, selain suka memelihara unggas ternyata hobi ngoprek dapur juga. Klop banget kan dapet kartu pos dengan resep begini.

Nah, sudah bermanfaatkah kado terindah untuk samwan spesyelmu?

http://dzofar.com/2015/01/05/kado-terindah-untuk-samwan-spesyel/

Read More »

19 Desember 2014

Jangan Benci Bapakmu



Adakah di antara sobat blogger yang memiliki papa / ayah / bapak / abi galak? Sering memaksakan kehendak dan bagaikan tak mau mengerti dengan keinginan kita?

Jangan benci bapakmu. Jangan buru-buru hakimi beliau dengan aneka cap yang tidak mengenakkan. Itu saranku : untuk diriku sendiri tepatnya. Tapiiii... sepertinya sudah terlambat. Bapakku sudah tidak ada. Saranku berarti percuma ya?

Aku ingin melakukan kilas balik ke postinganku tanggal 29 Maret 2014 yang berjudul Luka Itu Menguatkanku. Pada tulisan tersebut aku curhat habis-habisan tentang apa yang pernah kurasakan terhadap bapakku dulu. Memang tulisan itu dibuat untuk diikutsertakan dalam salah satu give away untuk mendapatkan buku Sang Patriot, namun beneran dalam postingan itu aku menceritakan apa adanya tentang apa yang kurasakan dulu. Masa kecil hingga remaja bersama bapakku yang keras luar biasa.

Biasanya tulisan curhatku tidak bergaya bahasa seperti itu. Aku lebih sering membungkus kisahku dengan berbagai kata-kata lucu, yang bagi kebanyakan orang tidak dimengerti sebagai curahan hati yang sedang galau. Di Luka Itu Menguatkanku lucu-lucuan semacam di Telpon Keset atau Andai Aku Jadi Detienne. tidak ada. Di kedua postingan yang kusebutkan terakhir itu, ada keluh kesah yang berbalut canda. Namun di postingan tentang bapak, secara lugas aku menceritakan berbagai kejadian seperti merasa teraniaya, dipaksa, tak punya kebebasan dan macam-macam blablablaaaa yang penting sekali untukku di masa lalu.

Apakah dengan curhat semacam itu selanjutnya bisa merasakan lega? Bukan. Bukan itu intinya.

Bila masanya telah tiba nanti, aku ingin anak-anakku membaca postingan ini. Saat akal dan rasa mereka telah mencukupi, bisa kupastikan mereka akan memahami apa yang sedang ayah mereka perjuangkan untuk masa depan nanti. Sama dengan yang dilakukan almarhum kukung mereka itu kepada ibunya ini. Biar mereka tak mengeluh panjang pendek doremifasolasido dalam berbagai kunci yang penuh tanda kres dan mol. Biar tidak meniru ibunya yang pendek akal di masa lalu X_X

Ya, setiap tulisan memang mengandung makna. Walau kuakui memang aku tak pandai mengungkapkannya. Bahkan lebih sering semrawutnya dibandingin benernya ;) Apalagi untuk postingan dengan nuansa sendu seperti itu. Sesuatu yang 'enggak gue' banget, namun harus ditulis agar bisa 'menyelamatkan' orang lain yang potensial menjadi seperti diriku di masa lalu itu.

Semoga effort luar biasa yang kulakukan di postingan tersebut dapat tertangkap oleh pembacanya. Tak hanya bagi anak-anak yang potensial memiliki ketidakpuasan dengan policy yang diterapkan oleh ayah mereka. Jangan benci bapakmu, itu saranku. Juga bagi sang bapak, semoga bisa lebih bijaksana dalam menyelami keinginan dan potensi putra-putrinya. Agar cintanya tak bertepuk sebelah tangan seperti almarhum bapakku.

Maafkan, sepertinya mataku sudah mulai membasah. Kuharap kilas balik postingan ini bisa membawa manfaat bagi semuanya

Read More »

27 November 2014

Ramah Bocah ala Garuda Indonesia


sumber foto : web Garuda Indonesia
Ramah bocah ala Garuda Indonesia itu bukan cuma sekedar slogan yang hendak ku'tiupkan' berkaitan dengan excellent service of Garuda Indonesia. Sejak lama aku sudah mendengar pamor Garuda Indonesia sebagai airline yang handal.

Sebelum menceritakan perihal ramah bocah tadi, aku ingin mengingat memori lama yang tak mungkin terlupakan. Pada tahun 2001 hingga 2002 saat aku masih bekerja di Office Department di salah satu perusahaan manufaktur garment yang cukup besar di Ungaran (Kabupaten Semarang), aku sering sekali booking tiket Garuda Indonesia untuk pimpinan. Beliau kerap bepergian bolak balik Semarang - Jakarta untuk meeting dengan pihak marketing. Permintaan untuk booking tiket pun sering dilakukan dalam waktu yang sangat dekat dengan waktu keberangkatan.

Untunglah melalui travel agent yang sudah menjadi langganan, aku bisa dengan mudah mendapatkan tiket pesawat sesuai permintaan pimpinan. Jadwal pesawat Garuda Indonesia yang tiap 1 jam ada pun sampai hapal di luar kepala karena di meja kerja sudah kupasang list-nya dan hampir tiap minggu melakukan booking tiket.


 
 Jadwal penerbangan yang dulu hafal di luar kepala
(sumber : Garuda Indonesia)

Setiap 1 jam sekali ada pesawat yang bisa di-book untuk keperluan pimpinan. Aku ingat sekali, dulu beliau selalu minta duduk di aisle ;)  Jadi, contekan jadwal di meja plus AISLE adalah keyword yang harus selalu kupegang manakala hendak mengatur keberangkatan pimpinan maupun para manager di bawah beliau.

Luwesnya jadwal keberangkatan pesawat ini tentu saja ramah bagi segala kepentingan. Ramah bocah ala Garuda Indonesia pernah dialami putriku. Tak hanya sekali loh. Dua kali berturut-turut, November 2013 dan November 2014 putriku terbang bersama Garuda Indonesia dengan biaya sepenuhnya ditanggung oleh Dirjen Dikdas Kemendikbud (Direktorat Jendral Pendidikan Dasar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan). Sungguh merupakan hal yang luar biasa bagi putriku bisa merasakan sendiri naik maskapai terbaik  Indonesia ini.

Vivi dan sahabatnya (Rachel) berangkat ke Jakarta, November 2013

Keluwesan jadwal dan kemudahan mendapatkan tiket pesawat murah di Garuda Indonesia lah yang mungkin menjadi sebab dipilihnya maskapai ini oleh Kanwil Dikdas Provinsi Jawa Tengah. Pihak Kanwil sudah dua tahun berturut-turut bersedia 'nomboki' terlebih dahulu biaya keberangkatan para murid sekolah dasar yang terpilih untuk mewakili Jawa Tengah dalam ajang Apresiasi Sastra Sekolah Dasar. Vivi, putri sulungku, adalah salah satu yang beruntung bisa terpilih untuk berangkat ke Jakarta.

Waaahh... tak tergambarkan deh kebahagiaan Vivi. Saat naskah cerpennya yang berjudul "Aku Bisa Menulis" membawanya kembali berjodoh dengan event besar ini, terharu sekali rasanya saat pihak penyelenggara menghubungi via telepon. Meskipun bukan naskahku sendiri yang diapresiasi, rasanya ingin teriak saking senangnya karena karya anakku terpilih di antara sekian ratus tulisan yang diterima oleh panitia.


 
 berangkat dan pulang naik Garuda Indonesia, November 2014
(sumber foto : jepretan Mama Khansa)


Belum lagi saat dia tau, Rachel sahabatnya yang tahun lalu berangkat bersamanya, juga kembali terpilih di tahun ini. Bahagianya berlipat-lipat deh. Dari Semarang, Vivi akan berangkat bersama 3 orang teman lainnya, yaitu Rachel, Khansa dan Adiva. Beruntung sekali banyak moment berharga yang bisa kudapatkan saat Vivi pergi. Semua berkat Mama Khansa yang saat itu mendampingi putri tercintanya. Alhamdulillah, aku pun bisa sekalian menitipkan Vivi pada beliau. Ayem sekali rasanya, ada pendamping dari pihak Kanwil (Pak Mardi yang sabar luar biasa), ada Mama Khansa yang sangat perhatian, juga Garuda Indonesia yang ramah bocah.

sesaat sebelum boarding, November 2014
Vivi sangat terkesan dengan pengalaman bepergiannya ini. Pada postinganku tentang pertama kali melepas anak pergi sendiri, sudah pernah kuceritakan bagaimana gembiranya Vivi terbang bersama Garuda Indonesia.

Nah, untuk pengalamannya yang kedua, sengaja kulakukan sedikit wawancara dengan putri tersayangku ini. Yuuuk simak obrolan santai kami berikut : 

Pertama kali naik pesawat, gimana rasanya?
Agak pusing dan mual, tapi senang sekali bisa naik pesawat 

Pesawat apa yang Kakak tumpangi? 
Garuda Indonesia 

Seperti apa sih pesawatnya? 
Besar, warnanya putih dan biru, sayapnya panjang 

Naik ke pesawat menggunakan apa? 
Tangga bergerak yang dibawahnya ada rodanya, jadi bisa berjalan atau bergerak 

Nggak takut pas diinjak tangganya jalan sendiri? 
Ya enggak dong, kan tangganya posisi berhenti. 

Begitu masuk ke dalam badan pesawat, apa yg Kakak lihat? 
Tempat duduk yg bagus, ada tivi di depan kursinya, ada meja lipat, ada kantong yg berisi petunjuk-petunjuk dari Garuda. Petunjuk itu misalnya bila mendarat di air apa yg harus dilakukan. Juga bagaimana cara memakai masker oksigen

Di dalam pesawat emangnya kosong nggak ada petugasnya? 
Ada donk, pramugari berseragam biru dan hijau, yang laki-laki berbaju hitam

Mereka ngapain aja? 
Membagi snack, memberi minuman, menolong memasukkan tas ke kabin, membantu memasang safety belt. 

Kakak juga dibantuin pake safety belt-nya? 
Enggak dong, aku kan sudah bisa sendiri. Sebelumnya kan sudah pernah naik Garuda juga. --> sombong banget sih :(

Makanannya apa saja? 
Roti, coklat wafer, air mineral. 

Itu saja? Nggak ada minuman lainnya? 
Ada, itu yang ditawarkan pramugari menggunakan kereta dorong. Ada jus jambu, jus jeruk, kopi, susu, dan lainnya. 

Selain makan dan minum di pesawat, kakak ngapain lagi? 
Nonton film kartun yg bercerita tentang sekolah sihir di luar bumi. Selain menonton aku juga mendengarkan musik. Lagunya Adele. --> kayak orang tua aja ndengerinnya Adele :p

Senang ya dapat makan, minum dan bisa lihat film? 
Senang dong, apalagi aku juga dapat mainan. 

Kok bisa dapat mainan? 
Ya itu khusus untuk anak-anak. Gratis. Ditawarkan berbagai mainan seperti puzzle, catur, mobil-mobilan, boneka, dll. 

Boleh ambil semua? 
Enggak donk, milih salah satu. 

Dan alhasil setelah wawancara tadi rasanya pengin nangis gelundungan saking envy-nya. Aku setua ini saja belum pernah naik pesawat Garuda Indonesia, eeehh ni anak sudah dua kali. Mana asyik banget gitu di pesawatnya ;)

sumber foto : @Garuda_BPN


Ramah bocah ala Garuda Indonesia ternyata juga disertai ramah lingkungan. Seperti yang dilansir di akun twitter Garuda Balikpapan ( @Garuda_BPN ), melalui Garuda Indonesia Care maskapai terbaik Indonesia ini mencanangkan program More Passangers More Trees. Sebagaimana dinyatakan oleh IATA (International Air Transport Association) industri transportasi udara itu berperan sebesar 2% terhadap emisi karbon dunia dan 3% perubahan iklim. Untuk mengurangi dampak buruk tersebut, maka Garuda Indonesia merasa bertanggung jawab dan melakukan program pemulihan lingkungan secara nyata dengan menanam banyak pohon. Salah satu yang sudah sukses dilakukan adalah di Taman Nasional Sebangau (Kalimantan Tengah). Garuda Indonesia bekerja sama dengan WWF Indonesia, Departemen Kehutanan dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melakukan rehabilitasi rawa gambut dengan menanam 100.000 pohon di area seluas 250 hektar. Dananya berasal dari penjualan tiket Garuda Indonesia rute internasional.

Duh, jadi makin pengin bisa naik pesawat Garuda Indonesia nih. Kapan ya kira-kira ada perjalanan dinas ke luar negeri menggunakan jasa maskapai terbaik Indonesia ini? Biar bisa ikut menyumbang dana perbaikan lingkungan gitu.

Atau mendingan lirik-lirik yang domestik dulu ya? Ada penawaran menarik tuh kayaknya di akun twitter Garuda Balikpapan. Diskon 25% untuk beberapa tujuan seperti gambar di samping ini. Sobat blogger yang di Kalimantan tuh, silakan digunakan kesempatan promonya. Aku yang di Jawa aja sampe ngiler-ngiler kepengin bisa dapetin promo tiket pesawat murah itu. Hanya berlaku hingga 15 Desember 2014 loh (syarat dan ketentuan berlaku).

Jadi, selain ramah bocah dan ramah lingkungan, sepertinya sudah ramah kantong juga nih ya ;)  Maunya sih begitu. Namun aku juga menyadari bahwa untuk ikut menjaga kelestarian alam, Garuda Indonesia membutuhkan dana tersendiri.

Dukung ah program More Passangers More Trees. Yuk pak bos ajak aku dinas ke luar negeriiiii... 


Read More »

12 September 2014

Kebun Jamuku

Memiliki lahan kebun yang lumayan luas di rumah rupanya merupakan berkah tersendiri bagi keluargaku. Dulu saat pertama rumah keluarga berdiri tahun 1970-an, belum banyak tetangga kiri kanan. Hanya persawahan dan ladang lah yang mengelilingi rumah kami. Jadi saat lahan rumah dilengkapi dengan peternakan ayam, polusi udara yang tercipta belum begitu mengganggu.

Namun setelah penduduk kian padat, keluarga kami tak enak juga bila polusi udara akibat kotoran ayam plus hewan-hewan lainnya itu menjadi sumber keributan di kemudian hari. Maka 'momongan' kami ini pun akhirnya dijual sedikit demi sedikit.

Tanah bekas peternakan itu kini subur sekali. Tumbuhan apa saja yang ditanam tampaknya senang sekali mendiami rumah kami. Tak sekedar tanaman hias dan sayur-sayuran. Berbagai tanaman obat pun kami miliki. Mulai dari jahe, kunyit, laos, serai salam dan lain-lain. Di bawah ini beberapa tanaman yang sempat didokumentasikan.


KEBUN JAMU


Di kebun belakang, keluarga kami memiliki berbagai tanaman yang berfungsi untuk menjaga kesehatan. Tanaman tersebut siap petik kapan pun dibutuhkan. Tak jarang tetangga pun turut menikmati keberadaaan tanaman obat keluarga kami ini. Bahkan pernah saat lomba desa yang mengharuskan tiap RT menyetorkan lima jenis TOGA, pengurus RT mengambilnya dari kebun kami.

Cabe


 Tanaman yang memiliki nama biologi Piper retrofractum Vahl atau Piper longum L ini bukan cabai yang biasa dikenal untuk memasak. Bukan. Biasa dikenal dengan Cabe Jawa, tanaman ini mempunyai akar lekat. Posisi tangkai daunnya berselang-seling, berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing. Daunnya mirip sekali dengan sirih, tumbuhnya pun merambat, memanjat, dan membelit.

Buah cabe berupa bulir, bentuknya bulat panjang dan ujungnya mengecil. Buah yang belum tua berwarna kelabu, kemudian menjadi hijau, selanjutnya kuning, merah, serta lunak. Seperti gambar di atas, buah cabe yang kupetik dari kebun belakang rumah.

Adapun gambar berikutnya menunjukkan rumpun cabe secara keseluruhan. Persis sekali dengan sirih kan? 

Sebagian fungsi cabe adalah sebagai obat sakit perut, masuk angin, rematik, flu dan sesak napas. Buahnya ini ditumbuk dan diseduh dengan air panas. Praktis dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan keluarga kami.


Kecombrang




Bunga berwarna merah muda ini memiliki nama ilmiah Etlingera elatior. Semula kukira kecombrang hanya bisa dimanfaatkan sebagai sayur penyedap untuk masakan megono, lodeh dan tom yum. Ternyata tidak loh. Selain menambah lezat masakan tadi, bunga kecombrang ini secara tidak langsung berfungsi sebagai deodoran alami. Zat aktif yang terkandung di dalamnya adalah saponin, flavonoida, dan polifenol. Kecombrang memiliki fungsi yang sama dengan kemangi yang bisa mengusir bau badan tak sedap.

Selain itu jika terkena campak batang kecombrang bisa digunakan untuk menghilangkan bintik-bintik campak dengan cara mengoleskannya ke tubuh penderita. Sayang sekali keluarga kami belum pernah mencoba khasiat ini karena tidak ada anggota keluarga yang terkena campak. 

Kecombrang sangat jarang tumbuh di daerah tempat tinggalku. Pun juga kurang populer keberadaannya. Kebanyakan memang masyarakat di daerah Pekalongan yang menanam dan memanfaatkannya sebagai campuran megana. Suamiku lah yang membawanya dari Pekalongan dan kemudian kami menanamnya di kebun.

Sirih


Apakah sirih hanya diperuntukkan untuk orang tua saja sebagai pelengkap kinang? Tentu tidak donk. 

Di kebun belakang, ada satu rumpun yang sudah menjulang tinggi sekali hingga mencapai atap loteng tetangga. Memetiknya pun jadi sulit. Oleh karena itu kami membiakkan satu rumpun lagi yang rendah agar gampang memetiknya tiap kali dibutuhkan.

Daun sirih memiliki berbagai manfaat. Yang paling sering dilakukan untuk keluarga kami adalah merebusnya dan menjadikannya sebagai penangkal batuk.

Tanaman dengan nama latin Piper betle, Linn ini memiliki beberapa khasiat lain, yaitu :

- Mengobati keputihan : air rebusan daun sirih selagi masih hangat digunakan untuk membasuh daerah kemaluan. Lakukan secara berulang-ulang.

- Mengobati gatal alergi : ambil 6 lembar daun sirih, 1 potong jahe kuning dan 1,5 sendok makan minyak kayu putih, tumbuk semuanya sampai halus untuk kemudian dioleskan pada bagian badan yang gatal-gatal karena alergi atau biduran.

- Mengobati gusi berdarah : 4 lembar daun sirih direbus dengan dua gelas air hingga mendidih. dan setelah dingin digunakan untuk berkumur. Lakukan berulang-ulang hingga sembuh.

- Mengobati mimisan : 1 lembar daun sirih ditekan-tekan agar agak layu, gulung dan masukkan sedikit ke dalam hidung untuk menyumbat pendarahan.

- Mengobati gigi berlubang : selembar daun sirih direbus dengan dua gelas air hingga mendidih. Air rebusan daun sirih tersebut digunakan untuk berkumur secara berulang-ulang hingga sembuh.

- Mengobati batuk : 4 lembar daun sirih, 3 lembar daun bidara upas dan madu secukupnya. Daun sirih diiris-iris, kemudian direbus bersama daun bidara upas dalam 2 gelas air hingga mendidih. Setelah dingin, tambah madu secukupnya, kemudian ramuan tersebut dibuat untuk berkumur. Usahakan untuk menjangkau daerah kerongkongan.

- Penyakit jantung
Sediakan 3 lembar daun sirih, 7 pasang biji kemukus, 3 siung bawang merah, dan 1 sendok makan jintan putih. Semua bahan tersebut ditumbuk sampai halus, ditambah 5 sendok air panas, dibiarkan beberapa menit, kemudian diperas dan disaring. Ramuan tersebut diminum 2 kali 1 hari dan dilakukan secara teratur.

- Bronkhitis
Sediakan 7 lembar daun sirih dan 1 potong gula batu. Daun sirih dirajang, kemudian direbus bersama gula batu dengan air 2 gelas sampai mendidih hingga tinggal 1 gelas, dan disaring. Ramuan tersebut diminum 3 kali sehari 3 sendok makan

Tentu tak hanya keluarga kami yang memanfaatkan tanaman sirih sebagai obat tradisional. Keluarga yang lain pun banyak yang telah melakukan hal serupa. Kecenderungan masyarakat memanfaatkan berbagai bahan alam ini mendasari pusat penelitian Biofarmaka IPB untuk terus meneliti dan menggali potensi berbagai bahan yang berasal dari kekayaan alam Indonesia. 

Biofarmaka IPB menemukan bahwa pada daun sirih (Piper betle L) dan Saga (Abrus precantorius L) memiliki potensi sebagai obat fitofarmaka. Karakteristik suatu tanaman sebagai fitofarmaka didasarkan tanaman tersebut memiliki potensi sebagai: antimikroba, antioksidan, antifungi, antihepatoprotektor, antiinfllamasi dan sebagainya. Melalui kombinasi kedua tanaman tersebut diharapkan dapat meningkatkan bioaktifitas sebagai antibakteri dan efeknya kemudiaan akan ditentukan formula yang memiliki korelasi antara nilai aktivitas antibakteri dan potensi hayatinya.


Daun Salam


Siapa sih yang tidak mengenal tanaman yang satu ini. Paling ngetop memang untuk penyedap masakan sehari-hari. Di warung maupun pasar biasanya dijual sebungkus bersama 'bumbu pawon' lainnya.

Untunglah di kebun keluarga, kami memiliki pohon salam yang tingginya sudah bersaing dengan rumah tetangga yang bertingkat dua itu. Namun secara berkala buah salam yang kecil hitam berjatuhan di tanah. Dari buah kering inilah kami menanam kembali beberapa pohon salam yang lebih memudahkan untuk dipetik.  

Daun salam memiliki cukup banyak kandungan vitamin C dan Vitamin B kompleks yang sangat berguna dalam penyembuhan asam urat. Selain itu daun salam juga mengandung Minyak atsiri (0,05 %) mengandung sitral dan eugenol, tanin dan flavonoida.

Sebagai obat tradisional, berikut ini adalah beberapa manfaat daun sirih :

- Mengobati asam urat : rebus 10 lembar daun salam dengan kurang lebih 700 cc air atau 3,5 gelas belimbing. Sisakan airnya hingga satu gelas, saring dan minum selagi hangat.

- Mengobati diare : 15 g daun dicuci lalu direbus dengan 1 gelas air selama 15 menit. Tambahkan sedikit garam. Setelah dingin disaring lalu diminum.

- Menurunkan kadar kolesterol : 7 lembar daun salam dan 30 gram daun ceremai direbus dengan 600 cc air hingga tersisa 300 cc. Kemudian arinya diminum secara teratur.

- Kencing manis : 7 lembar daun salam dicuci lalu direbus dengan 3 gelas air bersih, sisakan 1 gelas. Setelah dingin disaring, untuk 2 kali minum.

- Obat Sakit maag : 15-20 lembar daun dicuci bersih, rebus dengan 1/2 liter air sampai mendidih. Tambahkan gula merah secukupnya. Minum sebagai teh setiap hari, sampai rasa penuh dan perih di lambung menghilang.

- Penyakit kulit seperti kudis dan gatal : daun atau kulit batang atau akar sirih, dicuci bersih lalu digiling halus dan dibalurkan k etempat yang sakit.


Binahong

Saat anak-anak jatuh dan terluka maupun lebam, biasanya saya tumbuk daun ini dan letakkan di atas luka / memar itu. Dan rupanya oleh Biofarmaka IPB juga telah ditemukan bahwa daun ini mengobati luka bekas operasi.
sumber gambar : Biofarmaka IPB

Binahong memiliki manfaat untuk mengobati luka berdarah maupun jerawat. Adapun rebusan umbinya menyembuhkan luka bekas operasi, sakit maag, typus, disentri, mencegah stroke, asam urat dan sakit pinggang. Beruntung sekali kami memiliki tanaman penuh manfaat ini.



Kenanga



Suka merasa ngeri nggak sih saat melewati tempat yang menguarkan aroma bunga kenanga? ;)  Di keluarga kami aroma ini sudah biasa karena ada beberapa pokok kenanga yang kami miliki. Setiap bunganya sudah menguning, maka aroma wanginya akan menyebar ke seluruh penjuru kebun. Apalagi bila angin sedang bertiup kencang.

Serem? Enggak lah. Di balik mitos yang sering dibicarakan orang seputar wangi kenanga, tumbuhan ini memiliki berbagai manfaat penting loh. Berikut ini detailnya :

- Jamu ibu melahirkan : untuk pemulihan kondisi setelah melahirkan, ambil bunga kenanga yang masih muda, kayu rapet, pegatsih, kunci pepet, kunyit, jongrahab, jalawe, dan jakeling. Semua bahan tersebut ditumbuk halus (dipipis), kemudian diseduh dengan air panas. Kemudian airnya disaring dan diminum.

- Mengobati bronkhitis : ambil 2 kuntum bunga kenanga, rebus dengan satu gelas air panas sampai mendidih hingga tersisa setengah gelas. Setelah dingin, airnya diminum secara rutin setiap pagi dan sore.

- Obat sesak napas : ½ genggam bunga kenanga dan 1 ½ sendok gula putih direbus dengan satu gelas air panas hingga tersisa setengah gelas. Saring airnya dan minum secara teratur tiap pagi dan sore hari.

- Obat Malaria : ambil 3 kuntum bunga kenanga yang sudah dikeringkan, seduh dengan 1 gelas air panas, tutup rapat. Setelah dingin, airnya disaring dan diminum secara teratur

Mata Dewa / Kitolod


Saat mata merah dan perih, itu tandanya mata sedang terkena serangan kotoran. Di keluarga kami sudah biasa memanfaatkan rebusan daun mata dewa (atau lebih sering kami sebut kitolod) untuk merimbang (mencuci) mata.

Caranya tidak sukar. Cukup seduh dengan air mendidih daun kitolot ini. Tunggu hingga dingin, letakkan di gelas kompres mata, dan siap deh cuci mata yang sangat berkhasiat.

Konon kitolod juga bermanfaat untuk menyembuhkan katarak,  kebutaan akibat diabetes, peradangan mata, mata berair, glaukoma dan retina pecah.

Tak terbatas hanya untuk pengobatan mata, kitolod juga bisa digunakan sebagai obat asma, bronkitis, radang tenggorokan, luka pada penderita diabetes, gigi berlubang, infeksi telinga


Lidah Buaya


Tanaman yang satu ini saat diiris kulitnya, baunya memang luar biasa. Namun khasiatnya tidak diragukan lagi. Saat ada anggota keluarga yang terkena sengatan panas atau luka bakar, cukup iris sedikit lidah buaya dan oleskan getah yang seperti gel itu ke luka.

Lidah buaya yang memiliki nama latin Aloe Vera ini masih memiliki beberapa manfaat lagi, seperti menerunkan kadar gula penderita diabetes, mengobati gangguan pencernaan, detoksifikasi, mengatasi luka lebam maupun luka dalam, dan berbagai permasalahan rambut seperti ketombe dan kerontokan.

Saya masih ingat saat kecil dulu, ibu rutin mengoleskan getah lidah buaya ke kulit kepala. Aromanya sangat tidak enak. Namun di balik itu semua ada berbagai manfaat yang dapat dipetik hasilnya seperti yang telah disebutkan di atas.


Potensi Jamu di Masa Depan

Di atas tadi sudah saya sebutkan berbagai tanaman obat yang setia mendampingi keluarga kami. Asalkan mendapatkan referensi yang benar, kami siap memanfaatkannya sebagai obat alami, baik bagi keluarga sendiri maupun orang lain yang membutuhkan.

Segala macam penyakit memang ada obatnya. Di pasaran pun obat-obatan kimia sudah bersanding dengan ketat dengan jamu tradisional. Jamu yang berasal dari berbagai tanaman obat sebagaimana yang telah saya contohkan di atas maupun tanaman lainnya yang masih banyak lagi tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Kekayaan tanaman obat ini adalah aset bangsa dan oleh Biofarmaka IPB diteliti dengan seksama potensinya. Biopharmaca Research Center (BRC) memiliki misi untuk meneliti pengetahuan dan teknologi asli yang berkaitan dengan pencegahan, pengendalian penyakit dan pengobatan medis untuk manusia, hewan, dan tumbuhan.

credit
Masyarakat yang telah makin terbiasa hidup modern inginnya mendapatkan manfaat jamu dengan cara yang mudah. Pasar ini lah yang bisa menjadi celah bergeliatnya industri jamu di masa depan. Orang tak perlu repot lagi memetik tanaman dan mengolahnya menjadi berbagai ramuan obat.

Banyak jamu kering yang sudah ada di berbagai toko obat. Juga jamu yang telah dikemas dengan diberi label dagang yang telah dipatenkan.

Efek jamu yang tidak serta merta menyembuhkan kadang dipertanyakan. Namun justru di sinilah letak kekuatan jamu di masa depan. Efek menyembuhkan yang alamiah diharapkan mampu mengurangi efek residu yang sering ditinggalkan oleh obat kimiawi.

Yang perlu untuk diperhatikan adalah proteksi terhadap keselamatan konsumen harus sesuai standar BPOM. Produsen jamu diharapkan untuk menjaga mutu produknya agar ke depannya masyarakat tetap menaruh kepercayaan dalam memanfaatkan jamu itu sendiri. Sungguh sayang bila potensi kekayaan botani Indonesia ini tidak dimanfaatkan dengan maksimal.

Sebagai langkah kecil dalam melestarikan keanekaragaman tanaman obat ini, mari kita manfaatkan lahan sekecil apapun di rumah kita untuk menanamnya. Tak harus memiliki kebun luas. Banyak tanaman obat macam ini bisa dikembangbiakkan pada media pot. Bila masing-masing rumah memiliki satu saja tanaman obat, mari kita hitung berapa banyak kekayaan alam yang bisa kita jaga kelestariannya di tiap RT, RW, kelurahan, kecamatan, kota bahkan di seluruh Indonesia.

Dukung kebun jamu tetap ada di sekitar kita !




Referensi :
- http://id.wikipedia.org/wiki/Kecombrang
- http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-article/644-antibacterial-activity-of-streptococcus-mutans-toxicity-test-and-phytochemical-content-on-betel-leaf-piper-betle-and-saga-leaf-abrus-precantorius-2013
Read More »

10 September 2014

Tak Sayangkah Ibu Padamu, Nak?

"Woalah... sudah besar kok nggak bisa apa-apa."

"Tuh, membersihkan kamar sendiri saja nggak bisa, padahal sudah kuliah."

"Cuma ngrebus air saja nggak bisa?"
 Hai, hello sahabat blogger semua. Pernahkah mendengar komentar maupun pertanyaan di atas? Ucapan sehari-hari super ringan dan mudah terucap, tapi sepertinya kalau yang kena kita sendiri rasanya gimanaaaa gitu.

Beda lagi nih pertanyaan yang pernah terlontar kepadaku dalam beberapa kesempatan. Muatannya berbeda tapi kurang lebihnya dalam 'memukul' perasaan juga agak lumayan nih.

"Apa ya nggak kasihan to jeng, anak kecil kok disuruh nyapu?"

"Mbok ya jangan kebangeten, anak sendiri malah disuruh  nyuci piring."

"Apa, membersihkan kamarnya sendiri? Anakmu kan masih kelas 3 SD. Anakku yang sudah SMP aja kamarnya aku yang bersihin kok."

Dalam keseharian, memang aku sering meminta putri sulungku untuk mengerjakan aneka tugas rumah tangga yang sekiranya mampu dia kerjakan.

Waktu masih balita, aku melatihnya untuk mengembalikan aneka mainan yang tadi digunakannya. Ya sebisanya saja sih, tidak harus rapi-rapi banget. Paling tidak, sejak awal putriku tau bahwa mainan yang berantakan itu nantinya harus dibereskan. Toh nantinya tetap ibunya kan yang harus membereskan dengan tuntas ;)  

Begitu juga setelah agak besar dan secara motorik gerakannya sudah stabil. Mencuci piringnya sendiri setiap habis makan pun telah dikerjakannya, meskipun tetap harus selalu diingatkan sambil sesekali diminta untuk mencucikan piring milik adiknya. Menyapu dan mengepel pun bisa dilakukannya, meskipun lantainya tidak jadi bersih, malah belepotan di sana sini :)  Tak apalah, yang penting dia belajar dan 'mendapatkan sesuatu' saat melakukan aktivitas ini.

Demi apa coba sampai harus 'kejam' begitu kepada anak? Tak sayangkah ibu padamu, Nak?

Orang tua mana coba yang tidak sayang pada anaknya. Mustahil banget kan ada orang tua yang normal-normal saja namun tidak sayang kepada anaknya. Bahkan ada yang saking sayangnya, apapun dikerjakan oleh orang tuanya asalkan anaknya bahagia. Tidak ada yang salah dengan itu semua. Ya paling-paling nantinya mendapat komentar ataupun pertanyaan seperti tulisan awal di postingan ini. Nggak pa-pa kan kalau kejadiannya begitu?

Secara pribadi sih menurutku justru kasihan anak yang nantinya tidak bisa apa-apa. Itu kalau kata orang Jawa welas tanpa alis. Welas asih kang tembe mburine marai kapitunan. Bila diterjemahkan secara bebas kurang lebihnya memiliki arti sayang berlebihan yang justru bisa mencelakakan.

Dalam prakteknya, welas tanpa alis berlawanan dengan apa yang telah kucontohkan tadi. Dengan maksud tak ingin nantinya putriku tak bisa apa-apa, secara bertahap aku mengajarinya berbagai pekerjaan rumah tangga. Bukan untuk membantu ibunya, tetapi justru untuk membantu dirinya sendiri agar siap menjadi lebih berpengalaman dan mandiri. Apalagi ibunya sehari-harinya berada di luar rumah, manalah bisa hanya mengandalkan ART maupun famili yang lain untuk membantu putriku terus menerus.

Welas tanpa alis juga terlihat saat orang tua menuruti segala permintaan anaknya tanpa menghiraukan dampaknya. Iya sih mana ada orang tua yang tidak bahagia saat putra-putrinya bahagia. Namun dalam kadar yang berlebihan, anak yang terus menerus dituruti permintaannya tanpa perlu melakukan kewajiban-kewajiban kecil di dalam rumah, bisa-bisa nanti saat beranjak remaja atau dewasa bisa menjadi keras kepala, segala kemauan harus dituruti. Lebih parahnya nanti si anak tidak bisa bekerja sama dan berkompromi dengan orang lain karena terbiasa selalu mendapatkan apapun yang diinginkannya. Semoga tidak ada anak-anak kita yang demikian ya, Sahabat Blogger.

Dalam keseharian yang lain, welas tanpa alis ini bisa juga kita lihat pada anak yang orang tuanya over protective. Keamanan buah hati tentu saja menjadi tanggung jawab orang tua. 100%. Penanaman percaya diri kepada anak perlu dilakukan secara proporsional. Ada masa dimana anak memang harus bisa melakukan sesuatu sendiri. Jangan sampai anak kita itu nantinya kurang mandiri atau bahkan menjadi penakut gara-gara apa-apa tidak diperbolehkan.

Gampang-gampang susah kan ya menjadi orang tua itu. Sayang berlebihan dibilang over protective. Tegas pada anak dibilang tak sayang ;)

Jadi bagaimana, Putriku Sayang, menurutmu tak sayangkah ibu padamu, Nak?





Read More »