30 May 2014

Melayang ke Negeri Dongeng

Melayang ke Negeri Dongeng sesuai dengan imajinasi, siapa sih yang nggak pengin? 


Pulau Kirrin, sungguh-sungguh adakah tempat itu? Aku ingin bertemu dengan Paman Quentin yang pemarah. Akan kuajak dia santai sejenak ngemil eksis, nggak usah terlalu spaneng mikirin ilmu-ilmu yang nggak jelas mau buat apaan itu. Heran juga ya bisa ada orang sekaku itu, padahal George anaknya kan asyik banget. Paman Quentin memang terlalu. Dia tak suka ada suara di dekatnya. Celoteh riang khas anak-anak dianggapnya sebagai gangguan. Coba kalau aku ada kesempatan berdekatan dengannya, akan kujatuhkan kaleng-kaleng biskuit sesering mungkin agar dia menghargai keberadaanku hehehee...

Persahabatan empat anak ditambah seekor anjing hebat bernama Timmy di tahun 80an merupakan fenomena tersendiri. Petualangan dan berbagai kejadian menegangkan sungguh membuatku terbang melayang dalam dunia dongeng yang telah tercipta di benakku. Peternakan dengan susu, keju dan telur yang seakan tiada hentinya menawarkan kenikmatan. Kuda-kuda hebat yang bisa kutunggangi untuk menerobos hutan lebat. Belum lagi orang-orang misterius yang mencurigakan, yang perlu diperhatikan dengan seksama apa yang sedang mereka lakukan.

Cerita petualangan Lima Sekawan tak hanya dalam bentuk buku saja yang membuatku mabuk kepayang. Tayangan film based on novel ini pun selalu kunantikan. Lantas, apalagi coba yang bisa kulakukan agar bisa mendapatkan petualangan seperti mereka selain pergi langsung ke negeri dongeng impianku itu? :)

tokoh-tokoh idola masa kecilku
Lima Sekawan adalah Anne, George, Dick dan Julian (kiri-kanan)
plus seekor anjing hebat bernama Timmy

Ke Inggris. Ya kesanalah aku harus pergi. Dulu aku sampai ngefans berat pada Michelle Gallagher, pemeran George yang dikisahkan sebagai anak perempuan super tomboy. Cewek badung yang malu menggunakan nama aslinya Georgina. Sama sekali tak sudi diperlakukan sebagai perempuan. Aneh banget deh. Aneh tapi keren. Itu juga kali ya yang membuatku tumbuh menjadi cewek tomboy dan keren seperti dia  *lantas disiksa pembaca :)

Lalu....lalu....aku juga ingin memecahkan berbagai misteri unik barengan Frederick Algernon Trotteville alias Fatty, si detektif wannabe berbadan montok yang cerdas luar biasa. Pernah loh aku mencoba berbagai trik mengirimkan surat rahasia ala ala dia. Nulis surat pake tinta dari perasan jeruk nipis. Terus nyobain juga pake sabun. Nah loh, surat kayak gitu trus gimana bacanya coba? Huhuuuyy...hanya aku, Enid Blyton dan Tuhan yang tau :)

Sebelas dua belas dengan Lima Sekawan, seri Pasukan Mau Tau yang beranggotakan Fatty, Larry, Daisy, Pip, Bets dan seekor anjing lucu bernama Buster ini juga mengajak angan berkelana dalam petualangan-petualangan seru. Asyiknya memecahkan misteri, jahil ke komisaris polisi di desa mereka yang bernama Pak Ayo Pergi (penasaran kan pastinya itu apaaa) dan aneka kisah asyik khas anak-anak Inggris. Mupeeeengg bener bisa jadi seperti mereka.

Enid Blyton. Dialah penulis kisah-kisah yang membuatku kecanduan tadi. Karya-karyanya telah kubaca sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dia sukses membuatku ngiler berember-ember untuk pergi ke Inggris. Jujur saja, pertama kali yang terlintas di benakku saat orang bertanya "Apa yang kau tau tentang Inggris?" pasti akan kujawab Lima Sekawan, Pasukan Mau Tau, Si Badung, Si Kembar. Iyeeess... buku-buku tersohor itulah yang membuatku beranggapan bahwa di Inggris itu selebnya ya para tokoh di dalam buku Enid Blyton tadi.

Kehidupan liburan musim panas pun sudah terbayang di memori masa kecilku, padahal saat itu aku belum tau apa itu summer, winter, autumn dan spring, Ngebayangin enaknya tinggal di Inggris yang setiap musim panas bisa libur panjang, main detektif-detektifan kayak Pasukan Mau Tau. Weeeww.... enak banget. Di jaman sekolahku dulu kok enggak ada liburan musim panas yak? Kan lumayan tuh musim panas di Indonesia panjang sekali waktunya :)

Asyiknya pesta tengah malam di asrama, mengudap sosis goreng dan minum limun jahe sepuas-puasnya, itulah hal terindah yang bisa kubayangkan. Semua imajinasi asyik dan meriah ini juga gara-gara Enid Blyton. Di seri Si Kembar, aku  berkelana bebas di seluruh penjuru St. Clare, boarding school tempat Pat dan Isabel O'Sullivan menuntut ilmu. Berkhayal bisa berjingkat-jingkat mengenakan piyama dan menelusuri gang-gang asrama yang sepi, menuju ke ruang senam untuk ikutan midnight party yang ngeri-ngeri syedaaaapp....

Kedua tokoh utama seri Si kembar ini menjalani hari-hari yang menyenangkan selama bersekolah di St. Clare. Belajar, olah raga, bermain dan jalan-jalan di sekolah sekaligus asrama mereka yang keren. Tak habis pikir deh kenapa waktu kecil dulu aku tidak disekolahkan oleh ayah ibuku di sana. Siapa tau terpilih jadi murid paling ter-Asia, kan keren tuh. Bisa ngobrol Bahasa Perancis casciscus bareng Mamzelle, berteman dengan Doris yang lucu dan Charlotte yang mantan anak sirkus, atau mungkin belajar jahit dari Matron *yang terakhir pencitraan abis deh, skip aja guys :)

Buat yang tidak berada dalam satu antena bacaan denganku (Enid Blyton kan legenda booo.... tak ada kata masih muda atau sudah tua untuk menjadi penggemarnya), tentunya tau JK Rowling kan, itu pencipta kisah keren lainnya dari bumi Ratu Elizabeth. Novel seri Harry Potter (Harpot) makin mengukuhkan imajinasi tak berbatas yang "England banget". Meskipun novel ini ngehits puluhan tahun sesudah era Blyton, aku  melahapnya penuh napsu.

Bedanya hanya satu. Dulu kalau jaman Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tau aku senang pada tokoh-tokoh protagonisnya, macam Julian dan Fatty. Tapi di era jelang millenium, seleraku telah berubah total. Aku kesengsem berat dengan Lucius & Draco Malfoy. Penggambaran sejelek-jeleknya sifat kaum penyihir yang merasa darah sihir murninya above everything. Lho, kenapa ngefans sama yang jelek begitu? Karena mengidolakan tokoh utama yang berhati baik dan selembut sutra itu sudah terlalu mainstream booooo :)


Bayangan sekolah Hogwarts yang anggun itu selalu berkelebat di benakku meskipun kelebatan anak sulungku yang sering minta diajarin PR tidak bermutu itu senantiasa merongrongku. Di Hogwarts mana ada sih PR yang enggak banget kayak punya anakku itu. Pengin deh ngirim anakku ke Profesor Dumbledore agar diajarin ilmu sihir yang asyik agar bisa mengerjakan semua PR dan tes kenaikan kelas dengan sekali mengedipkan mata. Emaknya kan bisa leyeh-leyeh, gak perlu tiap hari ngadepin PR horor begitu.


Segitu cintanya aku pada kisah-kisah di novel Harpot ini sampai-sampai saat pergi ke Jerman tahun 2005 dulu aku malah beli file binder bergambar Harpot, bukannya yang bergambar Hansel & Gretel. Eeeeyaampuuunn... ternyata pesona Inggris via Harpot telah menjadi virus dimana-mana ya. Bahkan di lapak barang-barang diskon yang ada di pinggir jalan di Hamburg, binder tadi sukses nongkrong dan membetot sukmaku. Memanggil-manggilku sekuat kalbu agar bersedia membawanya pulang *sudah mulai lebay. Untung saja aku hanya membawa koper kecil, coba kalau agak besar sedikit pasti puluhan binder akan kubeli. Diskon ini aja kok, gampang laaaahhhh... *menatap list hutang pada boss saat pulang ke Indonesia :'(

Inggris. Kau dan sejuta pesona negeri dongengmu membuatku envy berat pada Pangeran William yang sejak kecil tinggal di sana. Keren kan dia, dari bayi sudah bisa ngomong Bahasa Inggris. Aku sampai sematang ini saja ngomongnya masih belepotan, cuma bisa sok-sokan ngomong Inggris di-mix Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa biar tampil memikat.


Andai saja sapu ini bisa membawaku ke negeri impian, duuuuhh bahagianya. Negeri yang telah lekat di hatiku sejak kecil, negeri yang sangat ingin kutelusuri tapak demi tapaknya sesuai petualangan imaji yang mendarah daging denganku.

Alangkah indahnya bila aku bisa ke #InggrisGratis dengan duduk santai di atas sapu setiaku ini sambil ngemil eksis, melaju dengan kecepatan proporsional untuk menikmati indahnya 7 ikon Inggris : Big Ben, Buckingham Palace, Westminster Abbey, Trafalgar Square, London Eye, Beatles Museum, dan King's Cross Station. Aku mau buktiin beneran bisa nembus peron 9 3/4 apa enggak. Kalau tak bisa tembus, berarti boong tuh Tante Rowling :)

Sahabat sejatiku si sapu ajaib ini juga akan mengantarku ke 7 Stadion Legendaris macam Goodison Park, Stamford Bridge, Emirates Stadium, White Hart Lane, Anfield, Etihad Stadium dan Old Trafford yang termasyhur seantero jagat raya.

"Ngapain kamu ke stadion kayak gitu? Kan gak ngerti apa-apa soal bola?"  Eh, ada jeritan batin yang tiba-tiba terdengar.

Yeee...sapa juga yang harus paham bola agar punya alasan untuk pergi ke sana. Aku kan mau nantangin Harry Potter main quidditch di stadium-stadium keren itu. Coba dia bisa kalahin aku apa enggak di tujuh tempat. Lihat dong seragamku tadi di atas, jubah kotak-kotaknya udah matched banget kan dengan seragam tim Slytherin? *iya-in aja biar cepet

Ayo yayang Malfoy, kita tantangin tim Gryffindor. Siapa takuuuttt....Mana bisa kapten mereka si Angelina Johnson menahan laju tim kita. Kamu kan seeker terhebat di dunia, juga di hati akyuuuu....

ayoooo siapa ikut terbang bersamaku ke Inggris
Nimbus 2014ku ada beberapa loh :)



Notes : 
- pinjam foto cover Lima Sekawan dari sienavienabooks, foto pemeran Lima Sekawan dari wikipedia, gambar Hogwarts dari Harry Potter Wall Art, foto Malfoy dari harrypotter.wikia,

Read More »

22 May 2014

Yuk Gelorakan Cinta Produk Kreatif Indonesia

Seringkah melihat perempuan-perempuan cantik lalu lalang di pusat perbelanjaan dengan menenteng tas keren bermerk luar negeri? Menggunakan juga berbagai aksesoris 'wah' yang diimpor dari berbagai negara macam Amerika Serikat, Jepang, China, Perancis dan banyak lagi lainnya.

Saya sering memikirkan hal tersebut. Mengapa warga di negara yang saya tinggali ini lebih memilih untuk membeli barang-barang itu? Adakah berbagai kepentingan selain estetika yang mendasari keputusan untuk membelinya?

Tanpa bermaksud untuk berpikir negatif kepada para pemilih produk impor maupun barang-barang KW, saya pun mulai tergerak untuk memberdayakan apa yang ada di sekitar dalam menghasilkan produk dalam negeri. Kebetulan saya memiliki seorang kakak yang punya kemampuan mumpuni dalam hal merajut. Sejak tahun 2009 ide yang berseliweran di kepala ini saya wujudkan dalam bentuk kerja sama dengan kakak tercinta. Ketrampilan yang dimilikinya saya gabung dengan upaya saya untuk mengembangkan design maupun jangkauan pasar.

Ya, sudah hampir lima tahun ini usaha kecil-kecilan yang saya namakan BC Collection terus bergerak. Mulai dari usaha pertama membuat pernak-pernik yang kecil macam jepit rambut, kucir, bando dan bandana, lama kelamaan jenis pesanan pun berkembang.

BC Collection memang mengawali penjualan di kalangan teman-teman saja. Teman kantor, teman dunia maya maupun teman sekolah. Hanya dengan mengandalkan jalur sosial media, sedikit demi sedikit jumlah pesanan meningkat. 

Faktor sumber daya manusia menjadi ganjalan tersendiri bagi produk Indonesia berkualitas prima yang saya impikan. Pernah sekali waktu kami merekrut orang lain untuk ikut menggerakkan roda industri kreatif kecil-kecilan ini. Kemampuan dasar merajut orang tersebut sudah ada. Hanya saja passion terhadap kesempurnaan karya seni kreatif memang tidak bisa ditipu. Orang yang mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan, hasilnya pun akhirnya tidak memuaskan. Kakak saya harus melakukan koreksi yang tidak sedikit atas hasil rajutan yang dikerjakan oleh orang tersebut. Maka kembali lagi kami berdua yang harus mengatasi permasalahan klasik ini.

Konsekuensinya, kakak saya harus kembali turun tangan secara langsung. Ini semua demi kualitas produk kreatif Indonesia yang siapa tau suatu saat nanti akan ikut berkontribusi pada kreativitas seni tingkat dunia (doakan ya, Sahabat). Dan inilah sebagian dari karya BC Collection yang telah menemani para sahabat setia : 

aneka bros / pin rajut cantik


pembatas buku tak harus konvensional kan ;)


bandana buah hati tercinta pun tampil memikat

topi rajut yang manis dan cantik


Tak sekedar pernak-pernik dengan ukuran kecil. Produk yang menghabiskan benang rajut lumayan banyak pun berhasil kami buat :)

tas tenteng+cangklong yang sederhana namun memikat


 taplak meja diameter 2 meter? ;)


Jadi, tak ada alasan untuk tidak mencintai produk dalam negeri kan. Apalagi bila sedikit kontribusi terhadap nilai perdagangan di Indonesia diarahkan kepada para pengrajin kecil macam kami ini. Bukankah akan lebih bangga mengenakan produk original tanpa KW 1, KW 2 ataupun turunannya. Bangga kan ya tentunya bila mengalokasikan dana yang dimiliki untuk menggelorakan cinta produk kreatif Indonesia?

Jujur saja hingga saat ini kendala terbesar yang dimiliki oleh pengusaha rumahan macam saya ini ya soal dana. Keterbatasan capital yang saya miliki memang membuat usaha ini begitu-begitu saja dari dulu, tidak sepi-sepi amat, tapi juga kurang berkembang pesat. Ingin rasanya ikutan pameran produksi Indonesia bila ada sponsor yang mendanai ataupun rekan-rekan pengrajin lainnya yang bisa diajak partneran.



Lantas apa kiranya yang bisa warga negara tercinta ini lakukan untuk mendukung gelora cinta produk kreatif Indonesia? Nggak usah yang terlalu rumit lah. Mengapresiasi produk-produk dari para pengrajin kecil macam saya ini bisa menjadi langkah awal kecintaan pada produk dalam negeri.

Sudah tau kan bila tanggal 22 hingga 25 Mei 2014 ada Pameran Produksi Indonesia di Bandung? Bertempat di Harris Hotel & Convention Festival CTLink, acara ini menggelar berbagai produk kreatif Indonesia. Harga barang yang bersaing, kualitas yang bermutu, dan yang jelas berbahan lokal dan bersumber daya seratus persen Indonesia, selayaknya lah berada di mata, hati dan cinta yang kita miliki sebagai orang Indonesia asli.


Read More »

21 May 2014

Siapa Bilang Ikhlas Itu Gampang?

Siapa bilang ikhlas itu gampang? Ya, pertanyaan yang sering hinggap dan membutuhkan perjalanan bertahun-tahun untuk menemukan arti ikhlas dan membuktikannya sendiri pada suatu titik di kehidupan.

Pernah kutulis di postingan tentang pelajaran hidup dari bapakku, berbagai ajaran tentang kedisiplinan dan perjuangan untuk mendapatkan sesuatu telah kudapatkan. Mencoba memahami, mempraktekkan dan dengan terpaksa patuh. Terpaksa? Iya betul. Bukan ikhlas? Bukaaaan.... saat itu memahami arti ikhlas tidaklah gampang untukku.

Seperti diceritakan pada postingan tersebut, aku luar biasa berambisi untuk meneruskan kuliah di Universitas Gajah Mada, Yogyakarata. Universitas pujaan para anak SMA di Yogyakarta, Jateng dan sekitarnya. Paling tidak pujaanku lah. Bahkan demi mengejar kemudahan seleksi melalui jalur prestasi akademis nantinya, aku memilih untuk masuk jurusan IPS, bertentangan dengan keinginan alm. bapak yang berharap aku bisa jadi dokter. Di kelas IPS inilah nilai-nilai akademisku bisa terkontrol dengan baik, nilai 9 di raport jauh lebih banyak dibandingkan nilai 8-nya. Saat itu jalur prestasi akademis yang dikenal dengan PBUD itu memang mensyaratkan nilai rapor yang stabil.

Gagal masuk UGM via jalur PBUD, aku masih bersemangat untuk mengejar impian kuliah di Yogyakarta. Sendirian kuberanikan diri berangkat dari Semarang untuk mendaftarkan diri ke UGM. Sayang sekali, untuk pendaftaran perorangan saat itu belum dibuka, pihak kampus baru melayani pendaftaran kolektif. Masih sekitar 4 hari lagi baru akan dibuka untuk perorangan. Yah, harus pulang dulu dong.

Sementara menunggu hari untuk kembali ke Yogyakarta lagi, bapak yang memang tidak rela aku kuliah di luar kota terus gencar menasihatiku. Bahwa aku tinggal satu-satunya anak beliau yang tinggal di rumah, bahwa bapak ingin selalu dekat denganku, bahwa kuliah kan bisa dimana saja, tidak hanya di UGM. Bahwa orang tuaku ya cuma bapak dan ibuku, bukan orang lain yang ada di Yogya. Banyak 'bahwa' yang disampaikan beliau yang akhirnya membuatku pupus harapan untuk berangkat lagi ke Yogya.

Masih teringat sampai sekarang, aku menulis lembar pendaftaran masuk Universitas Diponegoro sembari menangis terisak-isak di meja tulis pojok ruang tamu. Sampai kertas pendaftaran terancam kusut gara-gara banjir air mata. Demi bapak kupupus impianku kuliah di Kota Pelajar. Oke, aku kuliah di Semarang saja. Ikhlas kah aku waktu itu? Tidak. Tentu saja tidak. Sakit hati, sedih, tertekan dan merasa diperlakukan tidak adil. Bukankah ini hidupku, kenapa harus selalu mengikuti keinginan bapak?

Jawaban semua kisah ketidakikhlasan itu datang 3 tahun kemudian, saat diabetes bapak kian parah. Gara-gara tidak patuh untuk diet dan berobat, penyakit itu membuat bapak harus rawat inap di rumah sakit. Kondisi bapak kian menurun hingga akhirnya beliau dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Kejadiannya di rumah sakit, saat aku menemani bapak berdua saja sepulang kuliah. Ibuku yang tiap malam berjaga di rumah sakit memang pulang untuk membelikan berbagai pesanan yang diminta bapak. Dari pagi hari masih normal, tiba-tiba di siang hari bapak sudah tidak bisa diajak berkomunikasi. Sungguh membuatku kebingungan dan menangis tak tentu arah.

Bapak pergi saat tak ada orang lain di sampingnya kecuali diriku. Lantas, masihkah aku mendendam atas semua langkah di masa itu yang tengah kujalani?

Siapa bilang ikhlas itu gampang? Bahkan saat aku ikhlas dengan semua pilihan yang kuambil demi bapakku, aku dihadapkan pada kepergian bapakku tercinta itu. Hanya tersisa segudang penyesalan di kemudian hari, kenapa dahulu aku tidak meringankan pikiran untuk mengikhlaskan saja apapun keinginan beliau. Toh aku masih bisa hidup normal, kuliah dibiayai orang tua, tak harus mencari pendapatan sendiri.

Ikhlas itu ternyata kudapat melalui cara yang sungguh berat. Aku baru bisa memaknai kisah masa lalu saat orang yang kusayangi itu telah tiada. Mungkin dulu bapak sudah punya firasat saat mengatakan ingin selalu di dekatku. Ah, rasanya air mataku tak habis-habisnya tertumpah setiap kali mengingat permenungan ini.

Ya, mencapai rasa ikhlas memang membutuhkan jalan dan tahap tersendiri. Semoga sobat semua tak harus mengalami kejadian seperti diriku ini untuk menemukan 'ikhlas' masing-masing. Seharusnya aku dulu meniatkan kuliah demi Allah semata, bukan demi ego diri yang terlalu tinggi. Bukankah belajar dan patuh kepada orang tua merupakan bagian dari ibadah kita mengharap ridhaNya?

Ya, aku ikhlas Pak untuk kepergianmu, memang Allah lebih sayang padamu hingga dipanggilnya kau untuk kembali. Rasa sayang yang dulu tersalur lewat anjuranmu agar aku tetap tinggal di rumah bersama bapak dan ibu, bukannya berkelana ke lain kota. Benar sekali, mau kuliah dimana pun tidak ada bedanya bila bapak dan ibu tidak bahagia. Bila bahagia itu bisa kuberikan dengan melakukan hal kecil seperti memahami keinginan orang tua, kenapa tidak? 





note : credit foto Ikhlas dari Islamic Education dan Quranic Healing Technology
Read More »

17 May 2014

Diakah Ibuku?



Siapapun pasti akan melihat begitu bahagianya si ibu menemani putranya bermain di pantai.


Apa betul diakah ibuku?
Foto di atas kuambil saat keluarga besar kami pergi ke Yogyakarta. Kakakku dengan sabar mengajak Faris (anakku) pelan-pelan mendekati air pantai.

Ya, itu foto Faris bersama budhenya. Budhe yang sayang luar biasa padanya. Faris pun lengket sekali padanya. Meskipun dia tau bedanya ibu dan budhe, Faris menikmati kedekatan dan kasih sayang budhenya.

Cinta monumental mereka ini kuharapkan akan terus terjaga. Cinta penuh kasih sayang antara keponakan dengan budhenya hingga kapan pun.


Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS

http://cintamonumental.blogspot.com/2014/05/lomba-blog-2-tantangan-untuk-2.html

Read More »

16 May 2014

[FF Cinta Pertama] Semerah Bibirku


Hiks hiks... tangisku berkepanjangan. Nelangsa banget rasanya.

Kau sungguh membuatku terpukul. Shocked. Tak kusangka kau akan seganas itu.

Kupandang bayang diri di cermin. Rambutku awut-awutan, muka kusut, wajah pucat dan kuyu. Benarkah itu aku? Atau hanya anganku saja yang melampaui imaji? Lebay to the max gitu?

Sudah sejak lama aku memang ingin berkenalan denganmu. Kehadiranmu selalu membuatku terpesona. Ada keinginan luar biasa dari diriku untuk bisa menjamahmu. Yah, perkenalan dengan sedikit romansa manis lah kalau orang dewasa bilang.

Pandangan tajam mama selalu membuatku urung untuk berkenalan denganmu. Hmm.. mama memang  terlalu. Protektif luar biasa. Tak diijinkannya aku untuk sekedar menyapamu.

Tapi....tapi kemarin merupakan hari yang luar biasa. Mama tak ada di rumah. Hasratku terasa bergejolak untuk bisa berdekatan denganmu. Inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Nyatanya meskipun mama luar biasa melarangku, tapi hatiku tetap padamu.

Luar biasa berdebar aku saat itu. Dag dig dug, bagaimana ya rasanya perkenalan pertama dengan kau yang begitu kuiinginkan. Dag dig dug takut ketauan mama. 

Hiks, aku jadi menangis penuh penyesalan kini. Kau sungguh keterlaluan. Kaurenggut indahnya dunia setelah kusentuh dirimu. Kaulumat habis-habisan bibir merahku yang mungil ini. Berikutnya... berikutnya tak sanggup lagi kulanjutkan.

"Mama bilang juga apa? Dari dulu sudah dikasih tau kan, jangan sekali-sekali mencoba. Sekarang apa coba akibatnya? Mama juga kan yang harus menanggungnya. Merawatmu, membawamu ke dokter, mendengarkan tangisan dan rengekanmu itu."

Mama marah luar biasa padaku. Aku hanya bisa meringkuk di ranjang sembari memegangi tubuhku yang lemas, perutku yang sakit luar biasa akibat perkenalanku dengan si cinta pertama itu.

Menyesal. Ampun Maaaa.... Hanya itu yang berulang kali kuucapkan pada mama. Tak sanggup kulihat lagi si dia yang merah membara itu, semerah bibirku yang panas dan tercabik setelah kejadian itu.

"Anak kecil suka ngeyel sih. Tunggu barang beberapa tahun lagi kenapa. Pasti kamu akan tahan. Nggak diare terus kayak gini," sungut mama sembari mengangsurkan obat diare kepadaku.

Sambal terasi celaka. Gara-gara jatuh cinta padanya, kini perutku tercabik-cabik sempurna. Nyeseeel... nyeselll banget. Kurasa ini cinta pertama dan terakhirku. Aku tak akan makan sambal lagi :(


note : pinjam gambar bibir dari klikcara.com
Read More »

13 May 2014

Demam M35

"Mak, kapan aku dibelikan hape siy? Itu terus yang kauucapkan dalam tidurmu, Ni. Badanmu meriang panas dingin ini kenapa?"

Pertanyaan emak terasa gaduh di kepalaku yang sedang pusing tujuh keliling ini. Sisa demam semalam masih berasa nempel di badan. Kepala pusing, tulang-tulangku serasa mau lepas, mata perih. Dan lapar.

http://www.thaimobilecenter.com/spec/images_mobile.asp?id=830
Rossie teman sekolahku suka sekali pamer hape barunya. Njengkelin. Tapi hapenya memang manis banget. Warnanya paduan hitam dan kuning nyether. Tadinya aku sirik banget, kubilang ke semua orang kalau hape punya Rossie itu ndesit, terlalu mencolok, pokoknya norak gitu lah.

Eh nggak taunya aku malah termimpi-mimpi pengin banget punya hape model begitu. Ya iyalah, melihat teman-teman pada kagum dengan hape kuning itu hatiku jadi berontak. 

Rossie memang gampang sekali mendapatkan apapun yang ia mau. Tak sepertiku yang harus bersusah payah memohon-mohon pada emakku. Emak yang buruh cuci dan seterika di kampung, mana kuat beli hape gitu. "Ani, mana kuat mak beli hape itu? Nanti kita makan apa Nduk kalau uangnya buat beli hape?" Nelangsa deh. Padahal aku pingiiiiin banget. Kan keren tuh bisa punya hape itu. Siemens M35, yang punya Rossie itu M35i, nggak tau juga 'i'nya itu apa. Mungkin idiiiih banget ya. Warnanya itu lho nggak ku ku.

Kalau aku sih suka dengan M35 yang versi macho. Warnanya gabungan abu-abu dengan hitam. Jauh lebih keren kan dibandingin yang kuning itu. Coba kalau nanti aku sudah punya, aku akan adu bagus-bagusan ringtone dengan Rossie. Hmm.. dia cuma bisa bikin ringtone berbunyi soundtrack Unyil. Apaan tuh :(

Kuputar otak bagaimana caranya agar emak mau membelikan. Memaksanya terang-terangan jelas tidak manusiawi. Maka seharian kemarin sengaja aku jalan kaki sepulang sekolah, kesana kemari tak langsung pulang. Kepalaku sampai terasa pening gara-gara terguyur hujan dari siang hingga sore. Tak kupedulikan baju sekolah dan jaketku basah kuyup oleh hujan. Juga tas dan buku-bukuku. Aku terus saja hujan-hujanan hingga akhirnya maghrib pulang ke rumah.

Walhasil badanku demam sesuai harapanku. Lumayan lah, emak memintaku berbaring. Aku tak harus membantunya melipat baju yang akan diseterika. Tak harus membuat PR. Dan yang jelas malamnya aku menggigil dan mengigau.

"Ni, lihat ini apa yang mak bawa."

Dengan lemas kulihat bungkusan di tangan emak. Tas plastik hitam. Ah paling isinya bubur kacang ijo dan teh tawar. Biasa, emak suka beli sepaket  burjo-tehwar untuk mengganjal perut.

"Lho, dilihat dulu to, kok malah mlengos sih," seru emak gemas. Dibukanya tas plastik hitam tadi.

Wow, hape M35 abu-abu hitam sesuai keinginanku. Girang sekali hatiku. Langsung sembuh rasanya badanku ini. Kupeluk emak dengan suka cita. Rasanya tak sabar besok sekolah akan kupamerkan pada Rossie.

"Nduk, itu hapenya Pak Cokro yang kemarin tak sengaja Mak rendem di cucian. Lha hapenya masih di kantong, mana Mak tau kan. Cucian Mak kan banyak, nggak perhatiin satu-satu. Pak Cokro marah, Nduk, Mak harus ganti hape itu dengan bayaran nyuci Mak di rumahnya beberapa bulan ini. Ya paling tidak kan jadi punya hape baru untukmu." Emak bercerita dengan kalem lalu beranjak untuk melanjutkan acara cuci seterikanya.

Melongo. Kupandang M35 itu. Kucoba hidupkan dengan menekan tombol yang ada gambarnya telpon warna merah. Nggak bisa. Terus bagaimana ini, masak aku harus nenteng hape mati kemana-mana :'(

http://www.istiadzah.com/2014/05/giveaway-cerita-hape-pertama.html




Notes : 
* pinjam foto M35i kuning dari thaimobilecenter
* pinjam foto M35 abu-hitam dari EPMultimedia

Read More »

05 May 2014

My First Journey : Tour de Janggal

Pada suka backpackeran ya Sob? Ih aku enggak loh *bletaaak... disambit carrier yang masih pake cagak ;)

Jangan sentimen dulu laaahhh... ini ceritanya aku pening mau nyeritain petualangan yang pertama kalinya. Selalu ada yang pertama soalnya, mulai dari pendakian pertama, pengarungan pertama (untuk arung jeram), penelusuran pertama di gua, pemanjatan pertama di tebing (kalau sekarang sih bisanya memanjatkan doa), dan berbagai kegiatan alam bebas lainnya.

Tapi apakah yang namanya petualangan itu terbatas pada aktivitas di alam bebas itu saja? Tentu tidak dong yaaa... Anak kecil yang baru saja menyadari penemuan barunya bahwa bedak talc itu enak dimakan pun sudah masuk kategori petualangan. Menemukan kenyataan bahwa tegalan kangkung milik tetangga itu enak sekali dijadikan medan perang-perangan pake senapan biji kangkung juga termasuk petualangan. *yang ini pengalaman pribadi sepertinya hehehee...

Aku dan naik gunung. Pasti sudah pada bosen baca ceritanya. Di blog ini saja sudah beberapa kali menuliskan soal itu. Kali ini aku ingin berbagi kisah tour de janggal, perjalanan yang penuh aneka kejanggalan saat pertama kali pergi ke luar negeri.

Waduh, ke luar negeri, beneran Bulik? Kalau cerita dengan keponakan ketemu gede dari Jember pasti responnya seperti itu, iya toh? Ojo ngece lah, jelek-jelek begini ya aku nih memang jelek xixixiii... Kebetulan saja sih diajak oleh boss. Bisa ngomong Bahasa Inggris meskipun sepatah-sepatah, tegas bin garang, dan penuh semangat. Boss ku waktu itu tidak tau bahwa semua kesan tegas-garang-bersemangat itu rekayasa belaka, jaga image, di dalam hati sebenarnya ya takut juga sama dia yang jauh lebih galak dariku hehehee...

Ceritanya waktu itu (tahun 2005) perusahaan tempatku bekerja di-claim ribuan dollar karena dianggap mengirimkan barang yang tidak sesuai spesifikasi yang diminta. Tentu saja hal ini meresahkan pimpinan karena beliau curiga si buyer hanya rekayasa saja dalam mencari keuntungan. Kebetulan sekali saat itu di negara si buyer sedang ada pameran tahunan mebel dan wood working terbesar di dunia. Spoga Cologne. Ya, aku, bos dan beberapa orang keluarganya akan bertolak ke negeri yang pernah dikuasai Hitler itu. Selain untuk membuktikan klaim, rombongan kami akan mengunjungi pameran di Cologne (Koln). Pura-puranya lihat pameran, tapi rencananya pas di sana nanti akan gerilya buyer baru lagi.

Deg-degan banget saat ditawari untuk ikut serta ke sana? Aku? Aku yang baru saja kerja di perusahaan itu sekitar 3 bulan? Kenapa tidak karyawan lainnya yang lebih senior aja?

Melalui permenungan dan diskusi intim dengan suami (opo kuwi), akhirnya kuputuskan untuk menerima tawaran itu. Kapan lagi akan mendapat kesempatan emas ini. Kalau backpacker kan semurah-murahnya tetep keluar uang. Nah aku enggak lho. Mulai dari paspor, koper, tiket dan akomodasi ditanggung oleh perusahaan. Aku cukup ngutang sedikit Euro pada boss untuk beli oleh-oleh. 'Sedikit' yang pada saat balik lagi ke Indonesia menghasilkan utang dua juta lebih. Ealaaahh.... ra mangan sesasi reeeekkk...

Kecemasanku yang timbul saat ragu untuk pergi ini bukan tanpa alasan. Aku masih punya bayi yang belum genap berusia satu tahun saat akan melakukan perjalanan dinas yang jauh ini. Selain itu aku juga sama sekali belum pernah naik pesawat. Gimana coba nanti kalau hoek hoek di pesawat, gimana coba? *bertanya pada master mabok ;)

Tapi semua kecemasanku itu ternyata salah. Di dalam pesawat aku baik-baik saja. Perjalanan Semarang-Jakarta bagaikan sedang asyik-asyiknya ngupil tiba-tiba ada yang minta tanda tangan. Ndongkol kaaan... Singkat banget booo... Ternyata aku nggak mabok. Alhamdulillah.. Begitu juga saat perjalanan Jakarta - Kuala Lumpur, cuma sebentar, transit untuk pindah pesawat yang akan membawa rombongan kami ke Frankfurt.

Yang janggal dalam perjalanan ini adalah : aku ribut banget nanti bagasinya ketinggalan. Ya iya lah, pindah pesawat tapi kami turun begitu saja tanpa bagasi diambil. "Pak, nanti kalau barang-barang kita ketinggalan bagaimana?" tanyaku panik. Si boss, istrinya, dan adik+adik ipar boss langsung memandang takjub padaku. Bagaikan alien yang menyerobot masuk ke bumi untuk mereka. "Sudah diatur sama maskapainya Niek, kan kita tidak pindah maskapai, jadi bagasi otomatis sudah di-arrange semua."

Ooooh...bilang dong dari tadi, bikin orang cemas saja *dikapyuk teh sakgendul

Gilllaaak...bandara di Kuala Lumpur bagus banget. Antara bandara domestik dengan bandara international tersambung dengan monorail. Senang banget aku diajak naik kereta itu oleh boss. (gambar monorail-nya Aerotrain pinjam dari wikipedia). Katro ya katro laaah... memang belum pernah ini, pengin rasanya bolak balik antar bandara biar bisa naik kereta itu lagi hihiiiii... Kami menunggu cukup lama sesuai jadwal penerbangan sebelum akhirnya memulai penerbangan yang luaaamaaaa sekali. 

Ho oh, lama sekali loh. Perasaan di pesawat udah sarapan, makan siang, makan malam, eh koq ya nggak sampai sampai. Bu boss ternyata malah yang mabuk udara, minum obat entah apa itu. Aku? Mabuk kah? Hihihiii alhamdulillah enggak. Meskipun berada di kelas ekonomi, tempat duduk di pesawat ini cukup nyaman. Ada layar monitor kecil di sandaran penumpang depanku, bisa digunakan untuk menonton film, mengecek kondisi dan suhu di luar pesawat, maupun main game. Bagaikan anak kecil yang baru dapat mainan baru aku sangat menikmati fasilitas itu. Hampir saja enggak tidur.

Sebenarnya perjalanan kali ini lebih banyak ngurusi pekerjaan, tidak mampir dolan-dolan. Ya namanya juga dibayarin, udah untung diajak pergi ya ;)  Dari satu buyer ke buyer yang lain, mulai dari Frankfurt di bagian selatan Jerman, kami terus mobile hingga Hamburg di bagian utara. Tidak ada yang penting untuk diceritakan sih, ya namanya juga kerjaan, paling juga begitu begitu saja.

Jadi beginilah hebohnya tour de janggal, banyak hal janggal dan seru untuk diceritakan : 
  • Tiap kali makan ketemunya roti dan makanan lain selain nasi. Ya sandwich lapis selai, scramble egg (cuma orak-arik aja lho nyebutnya susah amat) polosan gak ada brambang sama unclangnya, steak dan baked potatoes (kentang obong). Sekalinya pengin makan nasi, pergilah kami ke Chinesse Food Restaurant, pesen nasi goreng. Dan mau tau rasanya seperti apa? Sungguh tidak bisa dipercaya, masih lebih nikmat rasa nasi goreng abang tek tek yang lewat depan rumah itu. Ini sih bukan Fried Rice, lebih tepat kalau dibilang Rice mixed with Soy Sauce. Beneran, seperti nasi yang dicampur dengan kecap saja, tak ada rasa bawangnya sama sekali. Ternyata orang sana gak suka yang berbumbu tajam, memang begitu ternyata seleranya. Sungguh aneh.
  • Saat kelelahan setelah lari-lari di sepanjang jembatan yang melintasi Sungai Rhein, aku duduk di Bierbar depan Dome Cathedral, eh ada anak kecil yang menghampiriku. Mengajak bercerita asyik sekali. Aku pun asyik monggat manggut dan menjawab semampuku. Ya gimana lagi kan, dia pakai Bahasa Jerman aku pakai Bahasa Jawa, enggak nyambung sama sekali. Heran juga ya, kenapa dia tiba-tiba suka padaku. Apakah wajahku mengingatkannya pada nanny-nya? Terlalu.
 
  • Ternyata orang Jerman tuh banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi kalau tanya-tanya arah dengan orang sana, bukannya ketemu tempatnya malah stress duluan.Seperti saat aku dan bossku terpisah dari rombongan saudaranya. Lewat sinyal telepon yang masih menggunakan provider Indonesia (payah banget nih), saudara si boss hanya bilang Dome Cathedral, mereka nunggu di sana. Lah, mana kami tau dimana itu tempatnya. Bertanya lah pada mbak mbak yang kayaknya lumayan terpelajar, kami berprediksi dia sedikit bisa berbahasa Inggris. "Where is Dome Cathedral, mbakyu?" tanyaku. Dia sepertinya tau pertanyaan ini, tapi dia tidak bisa menjawabnya dengan Bahasa Inggris. Tangannya serabutan kiri kanan atas bawah, ekspresif banget menjelaskan. Tapi tetap saja kami tidak mengerti. Bahnhoff, bahnhoff, berulang kali dia mengatakan itu. Bahnhoff ki opo, masih sejenis bandot? ;)  Akhirnya si mbak menirukan suara kereta api setelah pasrah tak berdaya memberikan penjelasan. "Railway station?" tanyaku. Ealaaah, si mbak mengangguk-angguk lega. Rupanya Dome Cathedral itu di dekat stasiun kereta api. Dan akhirnya kami pun harus bertanya ke orang lain lagi, dimanakah stasiun itu berada? Daripada si mbak pening lagi menjelaskan, mendingan nyari orang lain aja kan hihihiii...
  • Sependek pengalamanku menginap di hotel di Koln dan Hamburg, channel televisi sana tak ada yang kumengerti sama sekali bahasanya. Hanya CNN saja yang lumayan kupahami meskipun tingkat pemahamannya hanya 15% hihihii... Iya, semua siaran menggunakan Bahasa Jerman. Bahkan film Speed yang dibintangi Keanu Reeves itu dialognya pakai Bahasa Jerman. Mungkin pola penerjemahan bahasa inilah yang ditiru oleh JTV ya saat memutar The A Team dengan boso Jawa Timuran yang medhok :)
  • Baru tau kalau tiket kereta api Inter Continental (IC) yang seharga tiket pesawat Garuda itu bukan jaminan untuk mendapatkan kenyamanan. Saat perjalanan balik menuju Frankfurt untuk segera pulang kandang, kami naik IC dari Hamburg. Di setiap stasiun dimana kereta itu berhenti untuk mengambil penumpang, pasti kami terusir dari bangku yang kami duduki. Penumpang lain pasti sudah punya tiket dengan nomor tempat duduk yang telah tercantum, jadi mereka ngotot bahwa itu tempat duduk mereka. Usut punya usut, saat bertanya kepada mahasiswa Indonesia yang kuliah di sana, seharusnya saat membeli tiket kami menambah 2 Euro untuk booking tempat duduk, jadi nomor seatnya akan dicantumkan di tiket. Apalagi saat itu hari Sabtu, peak time untuk mereka yang akan melakukan perjalanan antar kota di Jerman. Oalah mbake penjaga loket kok ya enggak bilang sih. Tau kan muka kami ini muka Asia, kenapa enggak dipandu dengan benar? Akhirnya karena lelah pindah gerbong dan tempat duduk melulu, kami pun ndlosor di lantai dekat dengan sambungan kereta, tepatnya di sebelah toilet. Kebangeten. :(

  • Rindu luar biasa pada nasi dan selera Indonesia, membuatku kalap saat melihat lapak orang Timur Tengah yang menjual kebab komplit dengan berbagai lauk yang entah aku tak tau itu apa. Si abah berwajah Arab itu berbicara dalam bahasa Jerman yang cepat. Berdasarkan pengalaman, tak ada gunanya bertukar kata-kata dengan orang sana. Langsung saja kutunjuk berbagai isian kebab yang menurutku mengundang selera. Si abah itu menyendok isian kebab dengan terbengong-bengong, antara percaya tak percaya. Kenapa coba? Ya iya aja, saking kangennya dengan nasi, aku minta kebab itu diisi nasi plus masakan semacam rendang padang. Enak lho pedas-gurih-kaya bumbu. Gak peduli dengan tatapan tak percayanya. Yang penting habis beli, bayaaar.. beres deh. Lumayan lah, ternyata kebab isi nasi rendang ini menyelamatkan saat-saat garingku duduk di lantai sebelah toilet di kereta canggih bernama Inter Continental. Catat !

Itulah perjalanan pertamaku ke negeri orang. Semoga lain kali bila diberi rejeki dan kesempatan, perjalanan berikutnya tidak menjadi tour de janggal seperti begini :)



 
Read More »

04 May 2014

Shela dan Istana Theklek

Kubawa kakiku melangkah dengan lunglai. Baru saja kutinggalkan kantor pos setelah menempelkan cukup perangko di kartu pos yang terkena banyak noda minyak bekas gorengan.
Aku pasrah, Shela hilang. Maafkan aku.
Ya, Pawit harus tau kabar itu. Bagaimana pun juga Shela itu kesayangannya. Tak ada nyaliku untuk mengirim SMS ataupun menelponnya. Biarlah, lewat kartu pos saja. Semoga nanti sampai di Semarang sana setahun kemudian karena pak posnya lupa memasukkan kartu itu ke tasnya.

Kuseberangi jalan yang padat di siang terik. Hampir tak kuperhatikan lalu lalangnya mobil yang berseliweran di perempatan. Keringat bercucuran dari dahiku, luar biasa panggangan mentari saat itu.

Kutoleh si Manusia Akar yang tak pernah letih berdiri di situ. Ingin rasanya menjadi dia yang tak perlu risau saat kehilangan seperti ini. Tak usah bingung harus mencari kemana dan memberikan penjelasan macam-macam. Kadang-kadang dunia memang tidak adil.

Benteng Vredeburg sudah kulalui. Biasanya aku suka berhenti di sana dan selfie, lumayan untuk bahan update status facebook. Tapi kali ini tak ada minat sama sekali. Aku kepengin segera sampai ke Beringharjo. Mau belikan sate kere untuk mama. Selalu begitu, setiap kali aku hendak jalan ke arah sini, hanya ada sate kere di benak mama. Hmmm... padahal aneka barang ada di Malioboro loh, kok ya cuma sate kere saja yang diingat-ingat.

Tiupan angin yang segar tiba-tiba menghambur di sebelah kananku. Saat aku sedang menoleh ke arah bapak penjual jadah bakar, terpaan angin segar menghampiriku. Aaahh... akhirnya tak jadi aku memperhatikan jadah bakar yang melambai-lambai itu. Istana Theklek lebih menarik minatku. Hawa dingin AC yang menguar keluar bercampur dengan wanginya pengharum ruangan membuatku tergoda untuk mampir.

Bapak penjual jadah itu berjualan di trotoar depan Istana Theklek. Warna dinding depan yang coklat kusam itu seakan berjodoh dengan keriput tua si bapak. Memang, pertama kali saat orang melirik ke Istana Theklek, pasti akan mengira bahwa bangunan itu adalah toko tua tempat aneka theklek dijual.

Tau theklek kan? Itu tuh, kalau orang bilang sandal bakiak. Ya, klompen kayu yang bila dikenakan akan berbunyi tok tok kletek tek teklek... Itulah kenapa sandal kayu itu akhirnya diberi nama theklek. Jaman sekarang mana ada sih yang mau pakai sandal model begitu lagi. Kecuali di tempat ini tentunya. Si theklek itu nangkring dengan manisnya di dinding depan Istana Theklek, dijajarkan hingga membentuk ornamen yang aku sendiri tak paham apa bentuknya. Seperti bunga, tapi kok aneh. Semacam bentuk abstrak yang tak jelas apa maksudnya.

Istana Theklek bukan toko sandal, saudara-saudara. Dia itu cafe dan perpustakaan yang ada di kawasan Malioboro. Konsepnya homey banget deh, berasa di rumah kampung gitu. Untuk orang desa sepertiku, tentunya canggung bila harus nongkrong di library cafe yang bernuansa modern. Perasaan jadi minder deh bila harus berada di tempat seperti itu. Makanya, kehadiran Istana Theklek ini bagaikan sorga dunia untukku yang haus bacaan. Menikmati berbagai buku dengan modal yang hanya cukup untuk membeli segelas es teh pun tak mengapa.

Beda Istana Theklek dengan tempat-tempat sejenis adalah semua pengunjung di sini harus melepas alas kaki yang semula dipakai dan menggantinya dengan theklek yang telah disediakan oleh pengelola. Berbagai macam theklek berjajar rapi di rak-rak khusus menanti penggunanya berdatangan. Ada yang berwarna coklat biasa, ada yang bergambar batik, bahkan yang paling norak sekalipun yaitu berwarna pink bunga-bunga pun ada. Justru yang norak satu itu malah paling laris.

Pernah sekali waktu aku sengaja datang pagi ke sana agar bisa mendapatkan theklek pink bunga-bunga itu. Eh, oleh mbak penjaga rak, theklek itu tidak dikasih pinjam. Malah diberi theklek garis-garis biru yang membuatku tampak seperti mengenakan celana piyama yang kepanjangan hingga ke kaki. Sungguh menyebalkan. Ternyata usut punya usut, mbak penjaga itu telah disogok oleh segerombolan anak SMP tengil untuk menyimpankan theklek unyu itu untuk mereka sepulang sekolah nanti. Padahal ya cuma disogok sama gelang lima ribuan dari lapak sepanjang Malioboro lho, kok ya mau dia.

Nah, kupikir-pikir nih ya, daripada stress keluyuran cari sate kere dan pening kehilangan Shela, mendingan ngadem di sini dulu lah. Kapan hari aku baru membaca separuh buku Ibuku Berbeda, enaknya lanjutin aja ah. Tulisan teman-temanku banyak yang masuk ke buku antologi itu. Aku mau belajar dari tulisan-tulisan itu, siapa tau nanti aku bisa juga jadi penulis seperti teman-temanku. Mendingan jadi penulis kan daripada stres mikirin Shela.

Deg. Ingat Shela saat mataku tertuju pada theklek warna hijau tua bermotif tentara. Sepasang theklek yang membuatku galau tak berkesudahan itu nangkring dengan manis di kaki seseorang. Sumpah, di seluruh penjuru dunia hanya ada satu theklek jelek macam itu. Dan dialah Shela. Theklek kesayangan Prawit, kakakku yang paling ganteng sekamar tidurnya (dia tidur bareng Sherly, kucing kampung kesayangannya, berjenis kelamin betina).

"Lho, Nggit, ngapain awakmu di sini?" tanya si pemakai Shela tadi.

"Lik Dar, kok itu sandale Mas Prawit dipakai? Nggak bilang-bilang pula," sungutku kesal.

"Halah halah, lha wong  cuma theklek wae lho kamu geger, Nduk. Kapan itu pas paklik datang ke rumahmu, sandal paklik jebat (rusak). Ya pinjem theklek ini karena hanya itu satu-satunya sandal yang ada di dekat pintu."

Healah, kalem sekali Lik Dar menjawab pertanyaanku. Tidak tau dia aku sudah panik setengah hidup mencari Shela. Prawit sudah berkali-kali bilang padaku agar merawat Shela dan Shirley baik-baik selama dia kos di Semarang sana.

Jengkel pada Lik Dar yang seenaknya saja, namun juga lega karena Shela sudah ketemu.

"Enaknya pakai theklek ini ya Nduk, aku tidak harus melepaskan alas kaki saat masuk ke sini. Jadi enggak khawatir kakiku ketularan panu dari pemakai theklek-theklek pinjeman yang ada di rak itu."

Yeks... otomatis kukibaskan theklek polkadot oranye yang baru saja kukenakan. Hiiiiyyy....


Notes :
Gambar theklek dipinjam dari Kata Kita.
Cover buku Ibuku Berbedar dipinjam dari Diva Press.

Read More »

03 May 2014

KLanis Yang Harus Move On


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu 
Masih seperti dulu tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna 

Well well... yang bukan penggemar pun sepertinya tau itu cuplikan dari lagu apa dan grup band apa. Sebagai KLanis garis keras (istilah lebay yang sekonyong-konyong muncul di pikiran) aku justru tidak begitu suka dengan lagu itu. Terlalu mainstream lah istilahnya. Kan sering ya orang memperbincangkan KLa, selalu akan bilang : "yang lagunya Yogyakarta" itu kan? Helloooo... lagu-lagu KLa tak selebar daun gudeg masbro dan mbaksis ;)

Apa itu KLanis garis keras? Menurut standar baku per-Klanis-an buatanku sendiri (minta diajak dinner bareng KLa nih kayaknya)  you are KLanis enough kalau tau dan menghayati lagu ini : 


Lagu apa dan dari album yang mana cobaaaa.... *skip

Ini aja deh yang agak gampang :



Breakfast in Paris, Champ Ellyse Avenue
Sepotong croissant dan kopi hitam duhai nikmatnya
Kita segera berangkat, kunjungi kota-kota belahan Eropa
Masih juga tidak tau? Okelah pasrah saja deh hihihii... Memang belum bisa move on yak dari Yogyakarta ;)

Kalau aku sendiri juga butuh move on nih dari hingar bingar nonton konser KLa seperti pada 29 November 2013 yang lalu. Dengan sedikit keberuntungan, pada saat itu aku bisa bergabung dengan KLanis lainnya menikmati suguhan lagu-lagu dari grup kesayangan kami ini. Nggak cuma remaja tua dan ibu-ibu aja loh, ada juga bapak-bapak yang jadi KLanis. Mana nonton sambil nyanyi jejingkrakan penuh penghayatan. Luaaarrr biasa, aku sampai melongo tak percaya. Kirain cuma perempuan saja yang jadi KLanis loyal.

Mengantongi tiket VIP dengan penuh perjuangan dan mengencangkan ikat pinggang to the max, sesampai di venue jadi murung gundah gulana, ternyata kursinya jauh di belakang euy. Ya walaupun masih lebih beruntung sih enggak harus ada di tribun seperti yang pada punya tiket kelas festival. 

Konser pada waktu itu bukan murni dari KLa sendiri yang mengadakan, mereka hanya menjadi tamu undangan dari perayaan ulang tahun Hotel Horison. Nah, di sinilah mungkin pangkal permasalahannya. Aku kurang tau persis koordinasinya bagaimana antara panitia penyelenggara dan KLa sehingga para penonton yang sudah pada sopan duduk menanti dari pukul 19.00 ternyata baru bisa bertemu sang idola hampir pukul 22.00. Catat ya, ini akan kubahas nanti di penghujung artikel *pasang tampang ala pembawa acara S*let

Selama  konser berlangsung sungguh euphoria yang terasa. Semua gembira, bahkan ada yang sampai berdiri dari kursi dan nyanyi nyanyi lupa diri hohohoo... Lupa kalau di belakangnya ada penonton yang lain. Dari area VIP, gambar terbagus yang bisa kuambil ya cuma ini : 


Kebetulan juga bawa kamera digital eeeehh lupa ngecharge, begitu ambil foto beberapa kali langsung ngedrop. Akhirnya semua foto diambil pake kamera ponsel deh. Ngeneeeess... KLanis yang kurang persiapan :(

Di tengah-tengah menikmati lagu, kulihat pagar pembatas barisan VIP dan VVIP beberapa kali dilewati orang yang sekedar mau motret ke depan. Nah, kenapa tidak dimanfaatkan saja, toh aku nonton di situ juga cuma sendirian, gak ada beban jadinya kalau mau ninggalin bangku di belakang. Menyelunduplah aku ke area VVIP dan ambil foto-foto mas ganteng Katon, Lilo dan Adi ini.






Ternyata di bagian depan VVIP ini sudah berderet-deret orang yang pada duduk lesehan. Rupanya mereka ini penyelundup gelap juga kayak aku. Oalaaahhh kenapa tidak dari lagu pertama tadi ya aku menyusup ke sana, sungguh penyesalan huhuhuuu... Dan akhirnya aku pun ngejogrok di sana hingga konser usai. Kebetulan ketemu teman kantor yang lagi hunting foto juga di situ. Jadi klop deh sukses lesehan di bawah stage persis.




Potrat-potret dengan bantuan sesama KLanis yang enggak kenal sama sekali tapi udah kayak saudara aja saling bantu memotret. Nggak ada istilah tongsis di konser ini. Persaudaraan dadakannya luar biasa ;)

Malam ini, tanggal 3 Mei 2014 akan ada lagi konser KLa di Hotel Horison, masih dalam kapasitas mereka sebagai tamu / band penghibur. Kejadian di penghujung 2013 yang lalu telah cukup melukai perasaan KLanis garis keras sepertiku ini. Nunggunya lama, namun lagunya cuma 'sakencrit'. Iyes, yang dulu itu cuma sedikit lagunya. Masih termehek-mehek nyanyi monggat manggut sambil nge-shot sana sini eh kok acaranya udah bubaran begitu saja. Mana tak ada satu pun personilnya yang mau diajak foto bareng.

Dari sejak konser mereka di Semarang kira-kira sepuluh tahun yang lalu, kebiasaan segera 'tinggal glanggang' mereka ini memang cukup menyakitkan walaupun bukan kewajiban sih ya untuk foto dengan para fans. Tapi mbok ya'o sedikit apikan gitu lhoooo... Kan kami kami KLanis ini yang mensukseskan karier kalian juga *sesenggukan sambil ngunyah sepatu Katon

Jadi, hari ini, tanggal 3 Mei 2014 si KLanis garis keras ini dengan mantap memutuskan untuk tidak nonton konser lagi. Duit untuk beli karcisnya mendingan dieman-eman buat bayar koneksi internet aja. Kapan pun mau kan bisa menikmati performance mereka di Youtube, 4shared dan aneka unggahan lainnya dengan santai sambil leyeh-leyeh. Mau putar lagu yang 'Radio', 'Hey', 'Airline Crew', 'Hingga Memutih Tulang' dan berbagai lagu yang tidak pernah mereka lantunkan di konser malah lebih joss. Eh iya loh bener, judul lagu-lagu yang kusebutkan tadi bukan pilihan untuk konser. Biasanya yang mainstream saja seperti 'Yogyakarta', 'Tentang Kita', 'Romansa', dan paling banter nyenggol dikit via lagu 'Meski T'lah Jauh' yang dinyanyikan oleh gitaris kerennya Romulo Radjadin aka Lilo.

Selamat berkonser ya KLa.... kali ini daku harus move on. Sepertinya memang lebih aman menikmati karya-karyamu dari jauh saja. Lebih pas di selera dan yang jelas jauh dari sakit hati seperti yang telah diceritakan di atas.

* Ada teman KLanis yang bilang, "Eh itu Katon ama Lilo ganteng banget yak..."  Buatku orang yang tidak mau diajak foto bareng itu sama sekali tidak masuk standar ganteng maupun cantik. Paham?  *Lantas memandangi hasil foto bulan November itu sambil kembali sesenggukan :'(

arsip file tanggal 29 November 2013, part of history ;)

Read More »

02 May 2014

Mbokmenowo Aku Yo Ngono

Jiaaan tenan, rumangsaku kok heboh banget yoh urusan pilem sing dijiplak kuwi. Tapi ncen ra duwe isin kuwi sing njiplak. Mbok yo golek crita liyane ngono piye, mas-mas sing rupane ayu ngono wae kok ditiru *hora pareng nesu nggih sing militan nonton ;)

Aku ra tau nonton sinetron, dadi ra patiyo ngerti mubeng-mubenge lelakon ning jagad per-tipi-an. Opomeneh disambungke ning crita drama negeri ginseng kuwi. Lha ora mudeng babar blas je. Yen jare sobat bloggerku iku sing diarani uripe melas tenan, ra ono meriyah-meriyahe hehehe... wes ben, aku ikhlas kok.

Jan-jane ngopo to kok dho serik pas critane ditiru ning Indonesia? Mbok ben ngono lhooooo *langsung ditampek papan gilesan kumbahan 

Eeee mbokmenowo aku iso guneman entheng ngene iki merga ora ngrasakne 'ikatan batin' sing kuwat yoh antarane awake dhewe sing nonton karo pemaine. Kuwate koyok opo siyyy... kuwat koyok cengkereman ngerine dementor ning pilem Harry Potter po? ;)

dementor lagi 'ngerjani' Dudley


Mudheng po ra iku cerito opo jal? Hayyyahhh...yo nek ora mudheng wajar wae lah, koyok aku ra mudeng tontonan sing takjelaske ning bageyan paling nduwur mau. Gambar iku salah sawijining scene ning pilem Harry Potter and the Order of Phoenix. Pilem sing diwiwiti seko seri kapisan pas pemeran utamane (Daniel Radcliffe) ijek cilik kinyis kinyis ;)

Ning menurut perasaanku, aku luwih seneng nonton pas Harpot ijek cilik. Luwih unyuuu ngono loh, kaca matane sing bunder nggilani iku marai merem melek pas nonton *nonton sinambi uthek-uthek curek soale ;)  Mesakke lho Harpot ki, ket cilik wes ra duwe wong tuwo, diopeni paklik lan bulike sing jahate ra karuwan. Mulakno aku yo nggumun, jan-jane sing nukokke kaca mata iku sopo? Wong menehi mangan lan paturon ae siyo-siyo banget loh paklik Dursley kuwi, lha kok gelem nukokne kaca mata. Jal nalare piye? *mbuh karepmu
 
Pas wes dadi jaka njuk dadi ra patiyo nggantheng je. Lha untunge budhe Rowling wes nyukupke cerita Harpot iku tekan semono wae. Ben kenangan rupa kiyut-e Harpot isa tetep mbekas ning atiku iki. Ono sing pengin mbandhem aku nganggo novel Harpot seko seri pertama tekan sing paling keri?? ;)  



Ojo toooo....Ojo jengkel yoh nek aku terus terang ngandhani bocah paling nggantheng seantero Hogwarts iku justru cah rambut pirang siji iki loh *siyap-siyap Nimbus 2015 ben iso mibur biyaanter sakdurunge di Avadakedavra hehehe...

Aku terus njajal mbayangke, nek pilem iki di-Indonesia-ke, sopo kira-kira sing miturut ati nuranimu paling pantes dadi Harpot? Nek aku lho yooo, nek aku, yo mesti ora trimo sopo wae dadi Harpot. Nyidrani imej Privet Drive 'til Hogwarts' journey-ne Harpot to?

Mbokmenowo aku yo ngono, yo koyok iku para pemirsa tayangan drama negri ginseng sing dho setiya setengah urip. Ndongaku ra uwis-uwis, muga-muga para pengusaha sinetron Indonesia wes sadhar yen njiplak iku ora apik. Jal praupane pemimpin production house-e menowo dijiplak dadi koyok Dobby, gelem po? :p



*kabeh gambar ngampil seko harrypotter.wikia.com
Read More »