Featured Post

#UsiaCantik dan Mengapresiasi Diri Sendiri

Bu, sekarang umur Ibu sudah berapa?   Pernah sesekali waktu anak keduaku nanyain umur model petugas sensus begitu. Iya sih, jawabnya me...

22 February 2014

[Mozaik Blog Competition 2014] Do you have guts to write?



Do you have guts to write? Hmm... kenapa harus bertanya seperti itu sih, bukannya bila ingin menulis ya tinggal menulis saja. 

Yup, right. Apapun yang berseliweran di kepala kita memang merupakan aset paling utama untuk menulis. Tapi kita juga tidak boleh lupa, masih banyak teman kita di luar sana yang bahkan untuk memulai kalimat pertamanya untuk sebuah cerita mini saja sudah kesulitan. Kenapa?

Hal ini kualami juga pertama kali ingin menuangkan ide ke dalam suatu bentuk tulisan. Selalu merasa minder, enggak pede (percaya diri), takut salah, takut menyinggung perasaan orang lain. So, di situlah aku akhirnya stuck, terjebak oleh segala 'andai' dalam diri. Tak satupun tulisan yang akhirnya dihasilkan.

Memberanikan diri untuk menulis itu memang butuh niat dan usaha. Niat untuk menyumbangkan ide pemikiran kita sekecil apapun yang mungkin saja bermanfaat untuk orang lain. Tak harus artikel teknis kan yang bisa masuk kategori bermanfaat. Cerita inspiratif maupun kisah lucu pun bisa berguna, begitu pula dengan bait romansa. Memberikan tambahan wacana maupun penyegar suasana.

Berbagai keriuhan khas ibu-ibu seperti mengurus anak, suami, rumah, bahkan pekerjaan kantor kerapkali  kugunakan sebagai alasan permisif diri sendiri. Nggak sempat, repot, capek, ngantuk, yaaah, sebangsa begitulah. Namun saat melongok ke orang lain yang notabene jauh lebih sibuk dariku, eh ternyata kok masih bisa ya menghasilkan tulisan secara produktif. Jadi malu nih ;)

Dari situlah akhirnya muncul tekad kuat untuk mulai menulis sedikit-sedikit. Dari notes Facebook, hingga akhirnya bergabung dengan salah satu komunitas menulis ibu-ibu di kota tempat tinggal sekarang (Semarang). Berbagai informasi ajang menulis kudapatkan dari sana. Nggak salah lho, akhirnya naskahku ada juga yang dibukukan, meskipun masih ikutan penerbit independen, tidak pakai seleksi pula. Semua naskah diterbitkan. Yang penting senang bisa menyumbangkan cerita. Berjudul Parfum Pedasku, aku berkisah tentang cinta pertama yang bertepuk sebelah tangan. Huhuuuu...ngenes ya ;)


Menulis itu ternyata self healing yang simple dan murah loh, tak perlu konsultasi psikis ke ahlinya ;)  Lega sekali rasanya saat banyak hal yang berjubelan di kepala 'rontok' melalui ketukan jemari ataupun goresan pena. Ini sih opini pribadiku, namun siapa saja boleh mempraktekkannya. Setelah berhasil menuliskan satu cerita, akan ada tekad berikutnya untuk menulis kembali. Apalagi saat tulisan kita diapresiasi, menang audisi, bahkan bisa masuk media massa.

Aku juga bergabung dengan grup menulis Mozaik Indie Publisher di FB. Join dengan berbagai komunitas menulis memang membuat semangat makin membara. Ikutan event menulis bisa loh dimanfaatkan untuk menumbuhkan keberanian bereksplorasi dengan kata-kata dan imajinasi kita. Alhamdulliah, saat dilakukan audisi tentang kisah di balik pernikahan, naskah saya lolos booooo... Padahal isinya gokil abiiisss... Tidak serius namun itulah kenyataannya. Audisi ini mewajibkan penulisnya untuk menceritakan kisah nyata. Kebetulan sekali, aku menulis kisahku sendiri. Hingga kini aku masih tidak percaya kenapa penerbit ini memilih naskahku di antara puluhan naskah lainnya yang tentu tak kalah bagusnya, atau bahkan mungkin jauh lebih bagus dari tulisanku. 



Dua kali lolos naskah untuk antologi kian membuatku bersemangat untuk menulis. Oke, sudah bisa menulis novel dong ya berarti? Huhuuu... too early lah, sadar diri nih masih harus banyak belajar dari para penulis senior. Keajegan menulis per hari rupa-rupanya menjadi cara ampuh dari para penulis itu untuk menghasilkan karya. Misalnya saja nih ya dalam satu hari target menulis satu halaman, ya marilah kita penuhi target itu.

Berhasilkah aku memenuhi target menulis yang telah ditetapkan sendiri? Hehehee... ya inilah seorang writer wannabe yang sering melanggar janji pada diri sendiri. Keinginan menulis naskah sering bentrok dengan passion berkisah dan meracau di blog ;)  Apalagi kalau ada lomba-lomba blog yang menggiurkan hadiahnya itu, hmm... bagaikan kucing yang menetes air liurnya saat melihat ikan pindang. Begitulah si writer wannabe gadungan ini hehehee... Sering terbelokkan konsentrasi saat menghadapi godaan lain. Yah, sebenarnya godaaan untuk menulis juga sih, cuma lain medianya.

Tak perlu lama-lama berkutat dengan polemik naskah untuk media cetak versus blog lah. Move on... Balancing prioritas akhirnya ;)  Rajin mengintip rumah maya para penerbit juga bisa jadi salah satu cara melatih kekuatan menulis kita. Beberapa kali aku ikutan audisi naskah untuk antologi di penerbit mayor. Langsung tembus? Hohohooo... dunia tak seramah yang dibayangkan deh. Beberapa kali aku harus menelan kekecewaan saat pengumuman lolos audisi dipajang di web penerbit-penerbit itu. Namaku tak tercantum di sana.

Bagi teman-teman yang hingga kini naskahnya belum lolos juga harus tetap semangat. Jangan bosan-bosan mengintip pengumuman audisi itu ya, jangan lelah mencoba untuk terus menulis. Juga jangan bosan mengintip hasil tulisan yang lolos audisi. Caranya? Baca bukunya dong tentu saja, mau beli atau pinjam teman tak masalah. Ada nasehat dari salah satu penulis senior Mba Indari Mastuti : untuk menulis satu cerita dalam genre tertentu paling tidak kita harus membaca satu buku yang bergenre sama. 

Kuikuti nasehat beliau. Puluhan buku dengan berbagai genre setia menemani waktu luangku. Hingga akhirnya keberuntungan kembali menghampiri. Naskahku lolos di salah satu penerbit major yang ada di Yogyakarta. Alhamdulillah. Kebetulan saat itu menjelang perayaan Hari Ibu, penerbit tersebut mengadakan event menulis tentang ibu. Lagi-lagi aku menuliskan pengalaman pribadi. Maklum, masih belajar nih, paling mudah memang menuliskan apa yang kita alami sehari-hari.



Kegemaranku membanyol rupa-rupanya juga butuh 'pelampiasan'. Tak hanya sekedar ngikik ngakak ngukuk dengan membeli aneka buku bergenre komedi, aku pun mencoba peruntungan saat ratu kos dodol Indonesia Dewi Rieka bersama penerbit mayor yang memang sudah mencetak kisah Anak Kos Dodol (AKD) dari seri pertama hingga seri-seri berikutnya (bahkan dikomikin pula) mengadakan audisi menulis. Rencananya hasil audisi itu akan dibukukan dengan tajuk Anak Kos Dodol Konco. Maksudnya buku ini merupakan kumpulan cerpen dari para fans buku AKD. 

Do you have guts to write? tanya pada diri sendiri. Berani nggak berani ya tetap kucoba menulis akhirnya. Lumayan lah, salah satu naskahku dari dua naskah yang kukirim lolos seleksi. Senangnya oooiiyy bisa sebuku dengan penulis kondang pujaan para abege alay ini hehehee.... (siap-siap digetok Dedew a.k.a Dewi Rieka). Menerima honor menulis dari penerbit untuk pertama kalinya ini sungguh membuatku histeria meskipun uangnya langsung habis untuk mentraktir putri sulungku yang gemar sekali mengkoleksi novel anak-anak. Tak mengapa lah, rejeki dari menulis ya habisnya untuk membeli bacaan juga :)


Jadi, menulis bila ada audisi atau lomba saja ya? Hellooo.. ada masalah ya? Hihihiii... Bagi writer wannabe yang sering dilanda galau dan seribu satu alasan rempong ngurusin ini itu macam aku ini, lomba menulis memang efektif untuk membangkitkan gairah menulis. Yah, menyadari kalau aku ini masih 'bernapas pendek' dalam tulis menulis, tak terlalu tinggi lah target menulis yang kuterapkan. Yang penting menulis saja terus. Ada audisi, nggak lolos. Audisi berikutnya nggak lolos lagi. Cobaaa aja terus sembari rajin memperkaya diri dengan bacaan multi genre, atau paling tidak pilihlah buku dengan genre yang paling kita sukai. Insya Allah akan ada jalan.

So, rajin menulis dan terus intens mengikuti kegiatan komunitas menulis so far sangat membantu menyalakan terus semangat menulisku yang seringnya naik turun seiring fluktuasi dollar *loh apa hubungannya ;)

Setiap kali ada teman komunitas yang woro-woro hasil karyanya nongol di media, hati ini kebat-kebit penuh rasa iri. Kenapa iri? Jelek atuh sifat iri itu...  Untuk urusan tulis menulis begini terus terang bagiku memang harus ada rasa iri. Ibaratnya : dia saja bisa, masa aku enggak? Jadi di sini iri bukan untuk menandingi, namun iri yang memacu diri untuk makin mengasah kemampuan menulis. Menulis sebaik mungkin, mengalahkan ego pribadi yang lebih sering memberikan jutaan alasan permisif untuk bilang 'tidak sempat' menulis. 

Ya, benar sekali, prestasi rekan juga bisa kita jadikan cambuk untuk segera 'bangun'. Tentunya tak mau dong saat teman kita sudah berjalan nun jauh di depan, kita hanya duduk selonjoran tidak mau bangkit. Apapun alasan kita menulis, mau itu untuk menang lomba, untuk mencari uang, mencari popularitas, ah itu semua akhirnya menjadi tak penting lagi saat rasa bahagia menyelimuti diri tatkala tulisan kita sudah bertebaran di mana-mana. Apalagi bila ada penulis senior yang tertarik melirik kita untuk menulis barengan dengan mereka. Uhuks.... Itu nanti akan menjadi kisahku berikutnya di postingan sendiri hehehee... Tunggu tanggal mainnya ya *sok ngartis :)

Nah, do you have guts to write? Tentu punya dong yaaaa... ayo semangat teman-teman. Menulislah dari hati. Sedikit tidak apa-apa daripada tidak sama sekali. Itulah yang kuterapkan pada diri sendiri di antara keriuhan mengurus rumah tangga dan bekerja di luar rumah dari Senin hingga Sabtu, plus jualan online produk crafting rajut dan barang apa saja yang bisa dijual. Tulisan itu nantinya akan jadi warisan yang sangat berharga untuk anak cucu kita loh. Beneeeerrr... Anakku saja bangganya luar biasa saat ibunya yang nulis angot-angotan ini mendapat kiriman bukti terbit. Dia saja bangga, apalagi penulisnya hehehee...

Masih ragu untuk menulis??  Tentunya enggak kan ;) 




43 comments:

  1. mbk,nanti kalo ada audisi anak kos dodol lagi kabari aku ya hahahaha..sukses untuk kompetisinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu pas audisi kayaknya ya rame2 dishare di grup KEB deh Mba Is.
      Oke, ntar klo ada lagi kucolek2 ya.

      Delete
  2. Ah, Mbak Uniek joss markojoss deh.
    Aku baru mulai ikutan yang antologi, Mbak :)
    Semoga ketularan Mba Uniek. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat menulis, Ika, aku juga masih belajar kok ini. Tulisan ini untuk menyemangati teman-teman yang sering patah arang sebelum berkembang :D

      Delete
  3. Uwaaaahh Mak Uniek haibattt! udah punya sekian antologi. Saya mah atu aja belon. Tapi teteup aja ngaku "writer". #Isin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan begitu dong, ini bukan untuk isin mengisini ;) Saling menyemangati perlu banget kan ya hehehe... Yuk yuukk keep writing.

      Delete
  4. Saya setuju prinsipmu jeng
    Kalau mau nulis ya nulis ae nggak usah nunggu kaya atau gelarnya panjang
    Teruslah menulis, bersamaku
    Semoga berjaya dalam lomba
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  5. Keren .. udah punya beberapa buku antologi.

    ReplyDelete
  6. Sip markusip deh mbakyu ku ini. Doakan aku bisa mengikuti jejak kesuksesanmu ya Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Dekmun, mari kita belajar bersama untuk tulis menulis ini, aku juga masih piyik banget koq. Tulisan ini sekadar ingin ikut menyemangati teman-teman lainnya yg memiliki hasrat menulis luar biasa namun masih terkendala rasa kurang percaya diri. Padahal ngapain mesti gak percaya diri to, masing-masing orang kan punya hak untuk menentukan style menulisnya sendiri.

      Delete
  7. Semoga lancar dan semangat terus menulis, Mbak. Ira

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun, Mba Ira, pengin juga jadi penulis yang tulisannya keren kayak Mba Ira ini hihihiii...

      Delete
  8. Menurut pendapat saya ...
    banyak orang tidak mau menulis ... karena terbelenggu dirinya sendiri ...
    inginnya menulis dengan spektakuler ...
    inginnya menulis langsung jadi best seller ...
    inginnya menulis dengan karya sastro tinggi

    Hal ini lah yang menyebabkan orang jadi ndak nulis-nulis...

    Menulislah ... walaupun singkat ... walaupun sederhana ...
    yang penting tidak bohong-tidak nyontek dan tidak jorok

    Salam saya Mbak Unik

    (22/2 : 4)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Om Nh. Iya, mendingan jalan perlahan-lahan ya, tetap akan ada kemajuan, sedikit juga tak apa asalkan niat terus berkobar dalam dada ;)

      Delete
  9. hebat, punya banyak antologi.
    bikin "ngiri"
    ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe... ayo 'ngiri'nya diakomodasi Mba ;)

      Delete
  10. Kerennn... *sentilan buatku yg masih sering byk pertimbangan gak jelas utk ikutan event2 nulis gitu :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh, maaf ya, aku tidak bermaksuk nyentil siapa-siapa loh. Yuk semangat nulis yuuuukk...

      Delete
  11. Salut dengan kegigihan dan semangat Anda, Mak. Tak perlu risau soal omongan orang tentang mutu tulisan kita. Mendingan menulis yang sederhana tapi bermanfaat daripada sibuk menyusun outline dan mencibir karya orang lain. Saya doakan dirimu menjadi penulis telunjukan, Mak. Top markotop. Nanti traktir nasi jagung ya :D Sukses dengan kontesnya.

    ReplyDelete
  12. Semangat, Mak *goyang cheerleaders :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uhuks, salah satu penulis senior yg kutulis di atas komen nih, jadi terharuuuuu ;)

      Delete
  13. Dari tahun 2012 berniat bikin novel, tapi sampai sekarang gak kesampaian...T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Mas, ditunggu novelnya terbit looohhh...

      Delete
  14. Absen dulu ah! hehehe. Tapi salu lho sama ibu yang satu ini, serempong-rempongnya mengurus kerja dan keluarga, masih juga bisa menyempatkan eksis di blog. teope begete deh! :)

    ReplyDelete
  15. Ada audisinya ya mbak derita anak kos? pengen ikutan :) oya mbak uniek moga menang ya lomba blognya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu audisi untuk Anak Kos Dodol Konco ini dishare dimana-mana lho Mba Susan. Moga lain kali ada lagi.
      Terima kasih untuk doanya ya Mba.

      Delete
  16. Menulislah dan terus menulis....life will more colourfull....#semoga sukses ya MBak.

    ReplyDelete
  17. temanku yang satu ini emang teope begete..... (y)
    Tetap semangat say, sukses ya.... *peluks

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Inungku sayaaanggg... yuk yuk semangat menulis *pelukbalik

      Delete
  18. i heart you mak...dikaw dan kak vivi progressnya kereen..buah dari determination and passion mwahh...keep it teruus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini dia idola eike muncul juga hihihii... Tentunya semua juga berkat dukunganmu dan teman2 rempong di Semarang yo Makdew :D Ajarin aku biar lebih maju dan terus semangat menulis ya Mak.

      Delete
  19. setuju mak harus ada rasa "iri" iri positif yang memacu untuk kita nulis menghasilkan karya

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener sekali mak, klo gak gitu ntar tak bisa maju ya

      Delete
  20. Siiip markusip...rajin ikut lomba plus semangat tambah giat belajar, bonusnya kesuksesan. Belajar bareng yuk mbaaak :)

    ReplyDelete
  21. Duuh.....jadi pengen.....
    Bagus tulisannya Mbak....
    :-)
    Salam Kenal....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih belajar menulis sedikit-sedikit ini Mak Dhona. Terima kasih ya sudah berkenan mampir :)

      Delete
  22. wah keren banget maaakkk tulisannya banyak sekleee nongol.
    gimana caranya biar lolos dibukukan gitu ya? :(

    semangat mak. semoga menang ya lombanya

    ReplyDelete