Featured Post

#UsiaCantik dan Mengapresiasi Diri Sendiri

Bu, sekarang umur Ibu sudah berapa?   Pernah sesekali waktu anak keduaku nanyain umur model petugas sensus begitu. Iya sih, jawabnya me...

03 December 2012

Momong Bocah di Kampoeng Kopi Banaran

     Tak seperti biasanya, kali ini liburan kantor koq lama sekali ya. Tumben pake banget deh kalau anak jaman sekarang bilang. Seringnya sih bila ada tanggal merah, liburnya ya hanya pas tanggal itu saja. Senang sih liburan begini karena tiap harinya aku selalu menghabiskan waktu di kantor dari jam delapan pagi hingga jam lima sore. Jadi dengan liburan seperti ini, aku bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluargaku. Tapi bingung juga bila liburan terlalu lama tanpa ada rencana jalan-jalan, masak harus di rumah terus.
Tahun baru Hijriyah 1434 kali ini jatuh pada tanggal 15 November 2012, kebetulan pas di hari Kamis. Keputusan manajemen di kantor memberikan liburan karyawan mulai tanggal 15 itu hingga tanggal 18, tanggal 19 November atau hari Senin masuk kerja seperti biasa. Nah, berarti aku punya 4 hari libur kan. Kemana nih enaknya, batinku berkata. Belum lagi suamiku juga sedang dinas luar kota hingga akhir pekan. Otomatis hanya aku dan kedua anakku saja yang ada. Trus, enaknya ngapain ya?
Ternyata jodoh memang tak lari kemana. Kebetulan mantan teman kuliahku, Rachma, yang suaminya juga bekerja di luar kota, mengajak untuk jalan-jalan bersama. Aku memang masih sering ketemuan dengan mantan teman-teman kuliahku yang masih tinggal di kota Semarang. Saling melepas rindu bersama dan menyambung tali silaturahmi. Di liburan kali ini, aku, Rachma dan Dwi (semuanya sudah ibu-ibu nih) sepakat untuk mengisi waktu liburan ini bersama. Kami berangkat membawa masing-masing anak. Aku dengan Vivi (8 tahun) dan Faris (3 tahun), Rachma dengan Najma (11 tahun) dan Ahsanu (5 tahun), dan Dwi dengan kedua gadis ciliknya Fathia (10 tahun) dan Nayla (6 tahun). Jadilah kami bersembilan berangkat naik mobil hijau milik Rachma setelah sebelumnya sepakat untuk berkumpul di rumah Rachma, daerah GrahaEstetika, wilayah Semarang atas.
Berhubung harus mempersiapkan kebutuhan anak-anak di pagi hari, akhirnya kami baru bisa berangkat pukul sebelas di hari Kamis tanggal 15 November 2012 ini. Rencana semula kami hanya akan makan siang di rumah makan Godong Salam Ungaran. Lokasi rumah makan ini tidak begitu jauh dari daerah Semarang atas. Mengapa disebut Semarang atas? Karena Semarang memang seakan-akan terbagi dua, ada yang di ‘dataran rendah’ dan ada yang di perbukitan. Dan rumah makan ini terletak di pinggir jalan raya Semarang – Ungaran, sehingga siapa pun yang akan ke sana akan sangat mudah untuk mengaksesnya. Bila dari arah Semarang, letaknya di sebelah kanan jalan, tepatnya di Jalan Pangeran Diponegoro 108 Ungaran.
Hidangan sea food di Godong Salam ini beraneka ragam dengan cita rasa yang tidak mengecewakan. Belum lagi suasana restonya yang menyenangkan, ada taman untuk bermain anak-anak, ruang makan berbentuk pendopo yang lengkap dengan kolam ikan di sampingnya. Menjadikan acara makan makin nikmat sembari memandangi anak-anak yang tidak melewatkan kesempatan itu untuk duduk-duduk bersama di pinggir kolam.
Selesai makan siang, kami berubah pikiran untuk melanjutkan acara, mumpung masih banyak waktu. Berasa sayang bila langsung pulang tanpa ada tambahan pengalaman. Rencana tambahan pertama adalah melaju ke Museum Kereta Api Ambarawa untuk naik kereta api kuno. Jarak tempuh dari Ungaran menuju ke sana hanya sekitar 15 menit. Murah meriah, dengan biaya sepuluh ribu per orang bisa menikmati keindahan pemandangan pedesaan Ambarawa sembari merasakan naik kereta api uap. Namun sayang seribu sayang, kereta apinya sedang dalam perbaikan. Wah, kecewa sekali kami semua.
Tapi kami adalah ibu-ibu yang pantang menyerah. Tak berhasil di rencana A, kan masih ada rencana B dan selanjutnya. Pilihan kami berikutnya adalah ke Kampoeng Kopi Banaran, di daerah Bawen, tepatnya di Jl. Raya Semarang – Solo Km. 35. gampang sekali untuk mencapainya karena letaknya persis di tepi jalan, dengan plang nama yang tampak terpampang besar di depannya, dengan jarak hanya sekitar 1 kilometer dari terminal bus Bawen arah ke Salatiga.
Kampoeng Kopi Banaran ini merupakan wisata agro yang terletak di perkebunan kopi. Pengunjung disuguhi keindahan pemandangan sembari menikmati sedapnya kopi. Masuk ke lokasi wisata ini tidak dipungut biaya. Jadi untuk yang tidak ingin merogoh kocek terlalu banyak, cukup datang ke sana dan duduk-duduk atau sekedar berjalan-jalan menikmati segarnya udara perbukitan.

Anak-anak kami langsung dengan ‘cekatan’ ingin menikmati berbagai fasilitas di sini. Salah satunya adalah menjelajahi perkebunan kopi ini dengan naik kereta wisata. Dengan biaya Rp. 50.000 kami akan dibawa berputar-putar sepanjang lokasi perkebunan kopi ini disertai penjelasan tentang aneka tanaman yang tumbuh di sana. Yang memberikan penjelasan adalah sopir kereta wisata ini, merangkap sebagai tour guide juga. Satu kereta bisa menampung satu rombongan kami sekaligus. Seru sekali perjalanan keliling kebon kopi ini, dengan jalan meliuk-liuk dan menanjak, menjadikan perjalanan kereta kami ini terasa mengasyikkan sekaligus mendebarkan. Bagaimana tidak mendebarkan, hanya dengan lebar jalan yang pas banget dengan lebar kereta wisata ini, padahal tepi-tepinya berbentuk jurang yang terjal. Ramai sekali celoteh kami silih berganti menimpali berbagai penjelasan dari tour guide. Anak-anak pun tak lupa mengajukan berbagai pertanyaan yang kurang jelas seputar masa tanam kopi dan coklat yang tumbuh di sepanjang jalur yang kami lewati itu. Tak lupa di tengah-tengah kebun kopi itu kami berhenti sejenak untuk menikmati kesegaran alam.
Setelah sekitar 15 menit perjalanan kereta wisata ini, kami tiba kembali di lokasi start. Anak-anak langsung berhamburan menuju lokasi flying fox. Ada 2 jenis flying fox di sini, yang satu untuk anak-anak usia pra sekolah sampai dengan sekolah dasar, sedangkan yang satu lagi untuk anak dengan minimum usia 14 tahun. Kebetulan saat itu anak-anak kami ingin menikmati yang jenis ke-2 itu. Tapi mereka terpaksa kecewa karena tidak diperbolehkan untuk menikmatinya akibat belum memenuhi syarat usia. Yah, mau bagaimana lagi. Mereka hanya menatap penuh kecewa lintasan flying fox yang sangat menggoda itu, dengan ketinggian 50 meter dan panjang lintasan 145 meter.
Untuk menebus kekecewaan mereka ini, akhirnya kami hibur mereka dengan naik kuda putar-putar kebon kopi ini. Biaya sewanya Rp. 30.000 per kudanya, bisa dinaiki oleh 2 orang anak. Tentu saja mereka gembira sekali, apalagi Vivi anak sulungku, yang memang sama sekali belum pernah naik kuda. Agak takut-takut pertama kali mau naik ke punggung kuda, namun mengaku sangat menikmatinya sesaat setelah menyelesaikan perjalanan naik kuda tersebut. Sedangkan Faris, anak keduaku, tadi di tengah perjalanan menangis. Usut punya usut, ternyata bukan karena takut naik kuda, namun karena sandalnya tidak sengaja lepas, dan dia belum bisa menyampaikan keinginannya kepada pemandu kudanya. Akhirnya hanya bisa menangis sampai akhirnya si pemandu itu menyadari bahwa sandal anakku tinggal sebelah saja yang tersisa. Sungguh lucu kejadian ini. Tapi kedua anakku sangat menyukai sesi naik kuda ini.
Sebenarnya masih banyak fasilitas yang ada di lokasi agro wisata ini, seperti naik ATV, kolam renang, bermain di camping ground dan sebagainya. Tapi berhubung saat itu sudah hampir pukul empat sore, akhirnya kami melanjutkan acara liburan ini dengan duduk-duduk di seputar playing ground dan gazebo saja sebelum pulang kembali ke Semarang. Ada berbagai permainan khas anak-anak di lokasi tersebut. Jadi tidak hanya jalan-jalan ataupun berlari-lari saja yang bisa mereka lakukan. Ada ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, tarik-putar, dan lain sebagainya.
Lokasi agro wisata Kampoeng Kopi Banaran ini menyediakan berbagai fasilitas yang sangat lengkap. Mulai dari fasilitas wisata seperti yang telah kami nikmati tadi, juga ada tempat ibadah untuk sholat yang cukup memadai, kamar mandi yang cukup banyak, dan tentu saja Coffee House yang menyediakan berbagai makanan dan minuman, baik yang dihidangkan panas maupun dingin.
Sebelum perjalanan pulang, anak-anak kami yang sudah kelelahan minta untuk menikmati es krim sambil duduk-duduk di coffee house. Oke lah, jadilah kami mengakhiri petualangan liburan kali ini dengan melumerkan kepenatan seharian itu bersama segarnya es krim kami masing-masing. Wajah-wajah bersimbah keringat mereka itu, seakan tak mampu menutupi keceriaan hati atas petualangan baru ini. Dan kami para orang tua, tepatnya ibu-ibu alias moms ini pun dapat tersenyum lega karena sudah dapat membuat anak-anak kami bergembira, walaupun hanya beberapa jam saja. Waktu menunjukkan hampir pukul lima sore saat kami meluncur pulang ke Semarang. Ya, sudah saatnya kami harus kembali ke realita lagi.

8 comments:

  1. hmmm.....bagus tulisannya...
    Ini bisa dijadikan 3 tulisan yg berbeda say...Wisata kuliner di godong salam, wisata di museum ambarawa dan kampung kopi banaran...*berlagak jadi penulis terkenal dan kritikus*.....:D

    endingnya....: kok aku ora diajak yo....?... :D

    Selamat berkreasi dengan tulisan dan rajut-merajut.....

    ReplyDelete
  2. hehehee....maaf tante Inung.... itu acara khusus ibu2 beranak. soalnya klo Inung diajak ntar malah dimintain momong bocah lho hehehe....

    yuuukk tulis menulis bersama...aq kan juga pemula banget say

    ReplyDelete
  3. uwaaaa....senengnya jalan2,itu tempatnya masih alami banget ya mbk :D
    wah,suka sama cat rumah barunya...simpel kayak saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, segar hawanya dan menyenangkan untuk sekedar nongkrong ataupun bermain dengan anak2

      :) terima kasih mba, iya nih lagi nyoba utk simpel2 saja. yg dulu cat rumahnya kemayu banget ;)

      Delete
  4. 50.000 itu cuma muter-muter doang, Kak? Nggak dapet kopi? Biasanya kalo kalo muter-muter perkebunan gitu (kayak perkebunan apel di Batu) muter-muternya sepaket sama hasil kebunnya (apel dan jus apel).

    Kak Uniek ganti template blog? Kok berasa ada yang beda ya? Hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya Nisa, itu cuma ongkos naik kereta wisatanya aja. 50rb kan utk beramai-ramai bukan sorangan aja ;)

      iya nih, pengin kalem kayak blognya Nisa, yg sebelum ini terlalu 'centil' penampilan blognya :))

      Delete
  5. Aih ... jadi inget, nih, dua tahun yang lalu. :)

    ReplyDelete
  6. Senin mau kesini lagii Inshaa Allah..nganteri bocah2 hihihi ditulis juga aah..

    ReplyDelete